alexametrics
26.1 C
Malang
Sunday, 29 May 2022

Heri Kustiyono, Pemilik Penangkaran Ratusan Reptil yang Gratiskan Pengunjung

TAK ADA tanda petunjuk arah menuju penangkaran reptil milik Heri Kustiyono di Desa Sidomulyo, Bumaji, Kota Batu. Namun dari depan lokasi, terdapat tanda Kampung Ikan Brantas yang digagas Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu. Pengunjung bisa lurus mengikuti jalan kecil yang dipaving. Tempat penangkaran tersebut berada di ujung jalan dan ditandai dengan gerbang tinggi berwarna putih

Saat sampai di parkiran, akan terlihat kandang-kandang beruk yang berada di sisi kanan. Sementara di sisi kiri akan terlihat kolam ikan koi dan ikan nila. Jika pengujung masuk lurus ke dalam, hal pertama yang dilihat yakni kandang iguana, buaya dan burung. Di belakang kandang ini, terdapat kandang khusus untuk kucing. Kemudian, di atasnya lagi terdapat kandang rusa serta ayam kalkun.

Sementara itu, untuk kandang ratusan ular yang dimilikinya, berada di belakang bakal kafe. Di dekat kandang ular phyton terdapat beberapa kura-kura sukata yang dilepaskan di atas rerumputan. Inilah lokas pengangkaran milik Heri Kustiyono. Sejak kecil dia memang dididik oleh ayahnya untuk mencintai hewan. Sehingga benih-benih rasa sayang pada sesama makhluk hidup itu dipupuknya bertahun-tahun.

Dirinya menceritakan jika sejak kecil ayahnya hobi memelihara hewan khususnya reptil. Dan Heri lah yang diberikan bagian pekerjaan untuk merawat hewan itu semua. Namun, di awal kepemilikan hewan, Heri malah kepincut untuk memelihara kuda. Dirinya membeli sebanyak 25 ekor kuda pada tahun 2001 untuk disewakan bagi para penghobi olahraga berkuda. Setelah itu, pada tahun 2018 bapak tiga orang anak ini memutuskan untuk mengurus izin penangkaran hewan pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Heri menjelaskan jika izin penangkaran hewan yang dimiliki awalnya berada di rumah makan Pring Pethuk. Lantaran ia ingin membuat tempat makan lengkap dengan edukasi hewan. Namun, tempat di sana lama kelamaan tidak mampu menampung ratusan reptil dan hewan mamalia yang dipeliharanya. “Akhirnya sekitar tahun 2020 saya boyongan ke sini dan mengurus izin perpindahan penangkaran lagi ke BKSDA. Kalau luas tempat yang sekarang sudah terpakai saat ini kira-kira 1 hektar,” ungkap Heri.

Sehingga bisa menampung semua hewan-hewan yang dipeliharanya. Tempat penangkaran yang saat ini dibuat oleh ayah tiga orang anak ini berada di sekitar SDN Sidomulyo 03. Heri mengaku tak ada kesulitan apapun dalam melakukan izin penangkaran hewan di tanahnya. Karena pihak BKSDA saat melakukan survei atas kesiapan lahan dan finansial menilai bahwa dirinya mampu merawat hewan-hewan tersebut. “Sebenarnya saya punya banyak izin penangkaran. Tapi hewan-hewan yang mau dimasukkan di sini belum ada.

Untuk saat ini mungkin seperti jalak bali, di sini ada sekitar 4 pasang. Tapi itu tidak boleh dilihat oleh orang,” terangnya. Sehingga di penangkaran hewan yang dimilikinya saat ini hanya memamerkan hewan yang boleh dilihat oleh manusia saja. ”Setiap minggu itu banyak sekali rombongan masyarakat sini yang datang. Bahkan ada anak-anak TK juga,” kata Heri. Menurutnya kunjungan tersebut menjadi suatu kebanggaan tersendiri pada diri kakek tiga cucu ini. Itu semua didasari atas keinginannya untuk bisa memberikan edukasi tentang hewan secara gratis pada masyarakat.

Diketahui, ide awal pembuatan penangkaran hewan khususnya reptil ini memang dari hobinya. Dia sadar memang secara finansial tak mungkin bisa menyaingi wisata penangkaran hewan yang sudah kondang di Kota Batu. Makanya Heri mencetuskan ide untuk membuat wisata rakyat. “Siapa pun yang datang monggo. Saya tidak akan memungut biaya apapun. Karena memang tujuan saya ingin memberikan pembelajaran bukan untuk usaha. Karena usaha saya di bidang rumah makan. Kalau ini hanya hobi saja,” jelasnya.

Seluruh biaya operasional di penangkaran hewan yang dimilikinya itu semua bersandar pada pendapatan usaha rumah makannya. Dia menjelaskan untuk biaya total perbulan, bisa merogoh kocek sebanyak Rp 30 juta. Jumlah tersebut belum termasuk gaji enam pegawai yang mengurus ratusan hewan itu. “Kalau operasional ya untuk biaya pakan, karena rata-rata reptil makannya daging ayam dan tikus putih. Terus biaya operasional lainnya seperti listrik pemeliharaan kandang dan pakan-pakan lain,” serunya.

Pada tahun 2020 lalu, tepatnya saat pertama kali pandemi Covid-19 di Indonesia, Heri harus merelakan untuk menjual 25 kuda-kudanya. Lantaran, usahanya itu tak buka selama 2 bulan. Jalan itu dipilihnya agar hewan tersebut tak kekurangan pangan dan bisa mendapatkan perlakuan yang layak dari pemiliknya yang baru. (abm)

Pewarta: Alifiani Kurni Risdianti

 

TAK ADA tanda petunjuk arah menuju penangkaran reptil milik Heri Kustiyono di Desa Sidomulyo, Bumaji, Kota Batu. Namun dari depan lokasi, terdapat tanda Kampung Ikan Brantas yang digagas Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu. Pengunjung bisa lurus mengikuti jalan kecil yang dipaving. Tempat penangkaran tersebut berada di ujung jalan dan ditandai dengan gerbang tinggi berwarna putih

Saat sampai di parkiran, akan terlihat kandang-kandang beruk yang berada di sisi kanan. Sementara di sisi kiri akan terlihat kolam ikan koi dan ikan nila. Jika pengujung masuk lurus ke dalam, hal pertama yang dilihat yakni kandang iguana, buaya dan burung. Di belakang kandang ini, terdapat kandang khusus untuk kucing. Kemudian, di atasnya lagi terdapat kandang rusa serta ayam kalkun.

Sementara itu, untuk kandang ratusan ular yang dimilikinya, berada di belakang bakal kafe. Di dekat kandang ular phyton terdapat beberapa kura-kura sukata yang dilepaskan di atas rerumputan. Inilah lokas pengangkaran milik Heri Kustiyono. Sejak kecil dia memang dididik oleh ayahnya untuk mencintai hewan. Sehingga benih-benih rasa sayang pada sesama makhluk hidup itu dipupuknya bertahun-tahun.

Dirinya menceritakan jika sejak kecil ayahnya hobi memelihara hewan khususnya reptil. Dan Heri lah yang diberikan bagian pekerjaan untuk merawat hewan itu semua. Namun, di awal kepemilikan hewan, Heri malah kepincut untuk memelihara kuda. Dirinya membeli sebanyak 25 ekor kuda pada tahun 2001 untuk disewakan bagi para penghobi olahraga berkuda. Setelah itu, pada tahun 2018 bapak tiga orang anak ini memutuskan untuk mengurus izin penangkaran hewan pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Heri menjelaskan jika izin penangkaran hewan yang dimiliki awalnya berada di rumah makan Pring Pethuk. Lantaran ia ingin membuat tempat makan lengkap dengan edukasi hewan. Namun, tempat di sana lama kelamaan tidak mampu menampung ratusan reptil dan hewan mamalia yang dipeliharanya. “Akhirnya sekitar tahun 2020 saya boyongan ke sini dan mengurus izin perpindahan penangkaran lagi ke BKSDA. Kalau luas tempat yang sekarang sudah terpakai saat ini kira-kira 1 hektar,” ungkap Heri.

Sehingga bisa menampung semua hewan-hewan yang dipeliharanya. Tempat penangkaran yang saat ini dibuat oleh ayah tiga orang anak ini berada di sekitar SDN Sidomulyo 03. Heri mengaku tak ada kesulitan apapun dalam melakukan izin penangkaran hewan di tanahnya. Karena pihak BKSDA saat melakukan survei atas kesiapan lahan dan finansial menilai bahwa dirinya mampu merawat hewan-hewan tersebut. “Sebenarnya saya punya banyak izin penangkaran. Tapi hewan-hewan yang mau dimasukkan di sini belum ada.

Untuk saat ini mungkin seperti jalak bali, di sini ada sekitar 4 pasang. Tapi itu tidak boleh dilihat oleh orang,” terangnya. Sehingga di penangkaran hewan yang dimilikinya saat ini hanya memamerkan hewan yang boleh dilihat oleh manusia saja. ”Setiap minggu itu banyak sekali rombongan masyarakat sini yang datang. Bahkan ada anak-anak TK juga,” kata Heri. Menurutnya kunjungan tersebut menjadi suatu kebanggaan tersendiri pada diri kakek tiga cucu ini. Itu semua didasari atas keinginannya untuk bisa memberikan edukasi tentang hewan secara gratis pada masyarakat.

Diketahui, ide awal pembuatan penangkaran hewan khususnya reptil ini memang dari hobinya. Dia sadar memang secara finansial tak mungkin bisa menyaingi wisata penangkaran hewan yang sudah kondang di Kota Batu. Makanya Heri mencetuskan ide untuk membuat wisata rakyat. “Siapa pun yang datang monggo. Saya tidak akan memungut biaya apapun. Karena memang tujuan saya ingin memberikan pembelajaran bukan untuk usaha. Karena usaha saya di bidang rumah makan. Kalau ini hanya hobi saja,” jelasnya.

Seluruh biaya operasional di penangkaran hewan yang dimilikinya itu semua bersandar pada pendapatan usaha rumah makannya. Dia menjelaskan untuk biaya total perbulan, bisa merogoh kocek sebanyak Rp 30 juta. Jumlah tersebut belum termasuk gaji enam pegawai yang mengurus ratusan hewan itu. “Kalau operasional ya untuk biaya pakan, karena rata-rata reptil makannya daging ayam dan tikus putih. Terus biaya operasional lainnya seperti listrik pemeliharaan kandang dan pakan-pakan lain,” serunya.

Pada tahun 2020 lalu, tepatnya saat pertama kali pandemi Covid-19 di Indonesia, Heri harus merelakan untuk menjual 25 kuda-kudanya. Lantaran, usahanya itu tak buka selama 2 bulan. Jalan itu dipilihnya agar hewan tersebut tak kekurangan pangan dan bisa mendapatkan perlakuan yang layak dari pemiliknya yang baru. (abm)

Pewarta: Alifiani Kurni Risdianti

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/