21.3 C
Malang
Friday, 3 February 2023

Dugaan Eksploitasi Sisakan Pemeriksaan JE

Katua Komnas PA Berharap Penyidikan Segera Tuntas

KOTA BATU – Pengusutan perkara dugaan eksploitasi ekonomi di sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu masih berlangsung di Polda Jatim. Kabar terakhir, dari empat terlapor dalam kasus tersebut, tiga di antaranya sudah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian. Tinggal satu terlapor yang belum diperiksa, yakni JE alias Julianto Eka Putra selaku bos sekolah di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu tersebut.

Kabar itu diungkapkan Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) Arist Merdeka Sirait kemarin (4/12). Pria yang aktif mendampingi para korban itu mengatakan, polisi telah memeriksa setidaknya 15 saksi, termasuk pelapor dan terlapor. “Saya diberikan kabar perkembangan sejak dua pekan lalu. Dari Polda Jatim mengatakan bahwa mereka sudah memeriksa 15 saksi,” terang dia melalui sambungan telepon.

Ada empat terlapor dalam perkara yang saat ini ditangani Ditreskrimum Polda Jatim tersebut. Selain Julianto, tiga orang lainnya adalah orang-orang yang bertanggung jawab dalam pengelolaan sekolah itu. Mulai dari pihak yayasan, asrama, hingga sekolah itu sendiri. Kasus dengan pelapor mantan murid SPI berinisial R itu sudah dinyatakan naik ke penyidikan pada 24 Oktober 2022. Arist berharap proses penyidikan bisa segera tuntas. Apalagi Arist juga sudah mendengar bahwa dua alat bukti dalam kasus itu sudah terpenuhi. Alat bukti tersebut antara lain keterangan saksi-saksi dan hasil olah TKP di SPI Batu. ”Tinggal JE (Julianto) yang masih akan diperiksa. Entah diperiksa di dalam lapas atau dibawa ke Polda Jatim,” imbuhnya.

Arist juga mendapat informasi bahwa proses pemeriksaan para terlapor tidak mudah. Salah satunya dikabarkan sakit jantung dan tengah menjalani pengobatan di Singapura. Untungnya pemeriksaan tersebut sudah dilakukan sebelum berangkat. Meski sudah masuk tahap penyidikan, Polda Jatim belum menetapkan satu pun tersangka. Namun Arist juga mendengar bahwa izin pemeriksaan Julianto dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) sudah turun sejak satu pekan lalu. Komnas PA memperkirakan jika dalam satu pekan ini, apabila tidak ada perubahan, penetapan tersangka akan dilakukan.

Artinya, tinggal selangkah lagi untuk perkara tersebut bisa naik ke tahap berikutnya. ”SPDP dari Polda terkait kasus eksploitasi ekonomi tersebut sudah masuk ke Kejati. Tetapi tanggal berapa masuknya masih harus saya crosscheck lagi,” ujar Kasi Penerangan Hukum (Penkum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim Fathur Rohman SH MH melalui pesan singkat WhatsApp.

Dugaan eksploitasi ekonomi yang ditangani Polda Jatim itu awalnya dilaporkan ke Polda Bali. Pelapor berinisial R mengaku mengalami eksploitasi secara ekonomi mulai 2010, ketika masih berusia 15 tahun. Dugaan eksploitasi yang dituduhkan adalah jam kerja yang tak manusiawi, tidak mendapat upah, dan mendapat pemukulan. Sejak pelaporan hingga saat ini, perkara itu sudah berjalan selama lebih kurang satu tahun tiga bulan. (biy/fat)

Katua Komnas PA Berharap Penyidikan Segera Tuntas

KOTA BATU – Pengusutan perkara dugaan eksploitasi ekonomi di sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu masih berlangsung di Polda Jatim. Kabar terakhir, dari empat terlapor dalam kasus tersebut, tiga di antaranya sudah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian. Tinggal satu terlapor yang belum diperiksa, yakni JE alias Julianto Eka Putra selaku bos sekolah di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu tersebut.

Kabar itu diungkapkan Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) Arist Merdeka Sirait kemarin (4/12). Pria yang aktif mendampingi para korban itu mengatakan, polisi telah memeriksa setidaknya 15 saksi, termasuk pelapor dan terlapor. “Saya diberikan kabar perkembangan sejak dua pekan lalu. Dari Polda Jatim mengatakan bahwa mereka sudah memeriksa 15 saksi,” terang dia melalui sambungan telepon.

Ada empat terlapor dalam perkara yang saat ini ditangani Ditreskrimum Polda Jatim tersebut. Selain Julianto, tiga orang lainnya adalah orang-orang yang bertanggung jawab dalam pengelolaan sekolah itu. Mulai dari pihak yayasan, asrama, hingga sekolah itu sendiri. Kasus dengan pelapor mantan murid SPI berinisial R itu sudah dinyatakan naik ke penyidikan pada 24 Oktober 2022. Arist berharap proses penyidikan bisa segera tuntas. Apalagi Arist juga sudah mendengar bahwa dua alat bukti dalam kasus itu sudah terpenuhi. Alat bukti tersebut antara lain keterangan saksi-saksi dan hasil olah TKP di SPI Batu. ”Tinggal JE (Julianto) yang masih akan diperiksa. Entah diperiksa di dalam lapas atau dibawa ke Polda Jatim,” imbuhnya.

Arist juga mendapat informasi bahwa proses pemeriksaan para terlapor tidak mudah. Salah satunya dikabarkan sakit jantung dan tengah menjalani pengobatan di Singapura. Untungnya pemeriksaan tersebut sudah dilakukan sebelum berangkat. Meski sudah masuk tahap penyidikan, Polda Jatim belum menetapkan satu pun tersangka. Namun Arist juga mendengar bahwa izin pemeriksaan Julianto dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) sudah turun sejak satu pekan lalu. Komnas PA memperkirakan jika dalam satu pekan ini, apabila tidak ada perubahan, penetapan tersangka akan dilakukan.

Artinya, tinggal selangkah lagi untuk perkara tersebut bisa naik ke tahap berikutnya. ”SPDP dari Polda terkait kasus eksploitasi ekonomi tersebut sudah masuk ke Kejati. Tetapi tanggal berapa masuknya masih harus saya crosscheck lagi,” ujar Kasi Penerangan Hukum (Penkum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim Fathur Rohman SH MH melalui pesan singkat WhatsApp.

Dugaan eksploitasi ekonomi yang ditangani Polda Jatim itu awalnya dilaporkan ke Polda Bali. Pelapor berinisial R mengaku mengalami eksploitasi secara ekonomi mulai 2010, ketika masih berusia 15 tahun. Dugaan eksploitasi yang dituduhkan adalah jam kerja yang tak manusiawi, tidak mendapat upah, dan mendapat pemukulan. Sejak pelaporan hingga saat ini, perkara itu sudah berjalan selama lebih kurang satu tahun tiga bulan. (biy/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/