alexametrics
20.8 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Buruan Wisata ke Kota Batu! 350 Homestay Obral Diskon dan Perbarui Menu Kuliner

SELAMA pandemi Covid-19, desa wisata di Kota Batu juga mengalami penurunan jumlah pengunjung. Salah satunya dirasakan Desa Wisata Oro-Oro Ombo. Sepinya pengunjung di rest area Jalibar Kota Batu mengakibatkan sepinya penjualan di beberapa warung.

Ketua Desa Wisata Oro-Oro Ombo Kota Batu Priyadi Sunardi mengungkapkan, rest area Jalibar Kota Batu merupakan tanah yang 100 persen milik desa dan dimanfaatkan untuk membangkitkan perekonomian masyarakat setempat. Saat ini, semua yang berada di tempat itu dituntut untuk melakukan langkah pemulihan jumlah wisatawan. ”Langkah yang kami lakukan saat ini adalah menggencarkan media sosial dan media massa sebagai sarana promosi berbagai tempat wisata. Kami juga akan mengoptimalkan potensi homestay,” ujar pria yang juga Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) ini pada (4/3).

Priyadi menjelaskan, secara keseluruhan ada 350 homestay di wilayah Oro-Oro Ombo. Selama pandemi, tingkat keterisian atau okupansinya menurun drastis. Bahkan tidak pernah menyentuh angka 50 persen. Karena itulah, tahun ini para pemlik homestay akan kembali berusaha menarik minat wisatawan dengan meningkatkan kualitas sarana dan prasarana. Mulai dari melakukan sejumlah perbaikan dan renovasi, variasi sajian kuliner, hingga memberikan diskon harga yang menjanjikan. ”Dengan adanya peningkatan pelayanan seperti itu, kami memiliki target keterisian homestay yang ada di Desa Wisata Oro-Oro Ombo dapat menyentuh angka 60 persen,” ujarnya.

Jika tingkat keterisian homestay meningkat, otomatis itu menandakan bahwa tempat wisata lain juga sudah mulai menggeliat. Selain, rest area Jalibar, Desa Wisata Oro-Oro Ombo juga memiliki Kampung Wisata De Berran. Lokasinya di Jalan Mangga RT 3, RW 13 Dusun Gondorejo. Saat wartawan koran ini mengunjungi kampung tersebut sekitar pukul 10.00, kolam renangnya tampak sepi. Hanya ada tujuh orang yang berenang.

Minarti, salah seorang pengunjung mengaku telah dua kali berkunjung ke tempat wisata tersebut. ”Saat pandemi seperti ini, saya rasa perlu mengajak anak refreshing. Bersyukur wisata ini tidak terlalu ramai, sehingga mengurangi rasa khawatir,” jelas ibu tiga anak itu. Selain kolam renang yang sepi akibat terdampak pandemi Covid-19, area kafe pun terpaksa tutup. Terlihat kursi-kursi yang telah dinaikkan ke atas meja. Bahkan, gazebo untuk menjual ikan hias terkunci rapat dengan puluhan botol kaca yang kosong. Area sewa pancing pun tutup. Tak ada orang.

Ketua Desa Wisata Oro-Oro Ombo Priyadi mengatakan, Kampung Wisata De Berran masih milik perorangan. Namun saat ini sudah dalam penjajakan kerja sama dengan pihak desa. Ke depan dia berharap jumlah pengunjung Desa Wisata Oro-Oro Ombo dan desa wisata lainnya di Kota Batu bisa segera pulih. ”Kami berharap pandemi cepat berlalu dan keadaan ekonomi kembali membaik,” tutupnya. (ifa/fat)

SELAMA pandemi Covid-19, desa wisata di Kota Batu juga mengalami penurunan jumlah pengunjung. Salah satunya dirasakan Desa Wisata Oro-Oro Ombo. Sepinya pengunjung di rest area Jalibar Kota Batu mengakibatkan sepinya penjualan di beberapa warung.

Ketua Desa Wisata Oro-Oro Ombo Kota Batu Priyadi Sunardi mengungkapkan, rest area Jalibar Kota Batu merupakan tanah yang 100 persen milik desa dan dimanfaatkan untuk membangkitkan perekonomian masyarakat setempat. Saat ini, semua yang berada di tempat itu dituntut untuk melakukan langkah pemulihan jumlah wisatawan. ”Langkah yang kami lakukan saat ini adalah menggencarkan media sosial dan media massa sebagai sarana promosi berbagai tempat wisata. Kami juga akan mengoptimalkan potensi homestay,” ujar pria yang juga Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) ini pada (4/3).

Priyadi menjelaskan, secara keseluruhan ada 350 homestay di wilayah Oro-Oro Ombo. Selama pandemi, tingkat keterisian atau okupansinya menurun drastis. Bahkan tidak pernah menyentuh angka 50 persen. Karena itulah, tahun ini para pemlik homestay akan kembali berusaha menarik minat wisatawan dengan meningkatkan kualitas sarana dan prasarana. Mulai dari melakukan sejumlah perbaikan dan renovasi, variasi sajian kuliner, hingga memberikan diskon harga yang menjanjikan. ”Dengan adanya peningkatan pelayanan seperti itu, kami memiliki target keterisian homestay yang ada di Desa Wisata Oro-Oro Ombo dapat menyentuh angka 60 persen,” ujarnya.

Jika tingkat keterisian homestay meningkat, otomatis itu menandakan bahwa tempat wisata lain juga sudah mulai menggeliat. Selain, rest area Jalibar, Desa Wisata Oro-Oro Ombo juga memiliki Kampung Wisata De Berran. Lokasinya di Jalan Mangga RT 3, RW 13 Dusun Gondorejo. Saat wartawan koran ini mengunjungi kampung tersebut sekitar pukul 10.00, kolam renangnya tampak sepi. Hanya ada tujuh orang yang berenang.

Minarti, salah seorang pengunjung mengaku telah dua kali berkunjung ke tempat wisata tersebut. ”Saat pandemi seperti ini, saya rasa perlu mengajak anak refreshing. Bersyukur wisata ini tidak terlalu ramai, sehingga mengurangi rasa khawatir,” jelas ibu tiga anak itu. Selain kolam renang yang sepi akibat terdampak pandemi Covid-19, area kafe pun terpaksa tutup. Terlihat kursi-kursi yang telah dinaikkan ke atas meja. Bahkan, gazebo untuk menjual ikan hias terkunci rapat dengan puluhan botol kaca yang kosong. Area sewa pancing pun tutup. Tak ada orang.

Ketua Desa Wisata Oro-Oro Ombo Priyadi mengatakan, Kampung Wisata De Berran masih milik perorangan. Namun saat ini sudah dalam penjajakan kerja sama dengan pihak desa. Ke depan dia berharap jumlah pengunjung Desa Wisata Oro-Oro Ombo dan desa wisata lainnya di Kota Batu bisa segera pulih. ”Kami berharap pandemi cepat berlalu dan keadaan ekonomi kembali membaik,” tutupnya. (ifa/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/