alexametrics
21.1 C
Malang
Monday, 15 August 2022

Sampah Rusak Ekosistem Ikan di Sungai Giripurno

BUMIAJI- Ratusan ikan mati di aliran Sungai Giripurno, Dusun Krajan, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu sejak Juli 2022. Meskipun, kondisi terkini aliran sungai mulai lancar, masyarakat masih khawatir tentang ekosistem sungai.

“Sejak awal tahun 2019, kondisi sampah di Sungai Giripurno sangat memprihatinkan. Untuk itu, atas kesadaran masyarakat aliran sungai ini ditata dan dijadikan habitat ikan tombro, ikan mas, ikan koi, dan sebagainya,” ujar Ketua Komunitas Masyarakat Pemanfaat Aliran Sungai Giripurno (Kompag) Sofyan.

Sofyan juga mengatakan, selama 2020 hingga 2021, kondisi aliran sungai telah teraliri dengan baik sehingga ratusan hingga ribuan ikan dapat berkembang dengan baik. Akan tetapi, tahun 2022 ini, kondisi aliran sungai mulai mengkhawatirkan. “Selama bulan Juli 2022 ini sebanyak 5 kuintal ikan mati. Kalau dihitung ya ratusan ekor (ikan tombro, ikan emas, dan ikan koi) mati mendadak,” jelasnya.

Menurut Sofyan, penyebab atas kejadian ratusan ikan mati ini adalah ulah oknum pembangunan plengsengan. “Jadi saat itu, ada yang mengecilkan aliran. Akibatnya, ikan kekurangan oksigen. Di sini ada 3 zona Kompag. Bersyukur ikan di zona 1 berhasil terselamatkan, sedangkan, zona 2 dan 3 banyak yang mati,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Batu.

Sebagai informasi, panjang aliran Sungai Giripurno ini adalah 300 meter. Yang pengawasannya dilakukan oleh Kompag yang beranggotakan 28 orang. Untuk jumlah ikan telah mencapai ratusan hingga ribu. Namun, kejadian Juli lalu membuat masyarakat sangat kesal. “Sekarang ini keadaan Sungai Giripurno sangat memprihatinkan. Apalagi, setiap tahun selalu banjir. Habitat ikan pun terancam,” ujar Siti Zumaroh, warga Dusun Krajan, RT 63, RW 9 ini.

“Saat ini, kondisinya mulai pulih, meskipun air masih keruh akibat limbah dari pembangunan di area atas (Dusun Kedung) selain itu karena limbah sampah atau cucian dari rumah tangga. Kami berharap, sebaiknya perlu ada komunikasi terlebih dahulu bagi para pengembang proyek, agar masa depan sungai dapat terjaga dan ekosistem ikan dapat terus lestari,” kata Sofyan. (ifa/lid)

BUMIAJI- Ratusan ikan mati di aliran Sungai Giripurno, Dusun Krajan, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu sejak Juli 2022. Meskipun, kondisi terkini aliran sungai mulai lancar, masyarakat masih khawatir tentang ekosistem sungai.

“Sejak awal tahun 2019, kondisi sampah di Sungai Giripurno sangat memprihatinkan. Untuk itu, atas kesadaran masyarakat aliran sungai ini ditata dan dijadikan habitat ikan tombro, ikan mas, ikan koi, dan sebagainya,” ujar Ketua Komunitas Masyarakat Pemanfaat Aliran Sungai Giripurno (Kompag) Sofyan.

Sofyan juga mengatakan, selama 2020 hingga 2021, kondisi aliran sungai telah teraliri dengan baik sehingga ratusan hingga ribuan ikan dapat berkembang dengan baik. Akan tetapi, tahun 2022 ini, kondisi aliran sungai mulai mengkhawatirkan. “Selama bulan Juli 2022 ini sebanyak 5 kuintal ikan mati. Kalau dihitung ya ratusan ekor (ikan tombro, ikan emas, dan ikan koi) mati mendadak,” jelasnya.

Menurut Sofyan, penyebab atas kejadian ratusan ikan mati ini adalah ulah oknum pembangunan plengsengan. “Jadi saat itu, ada yang mengecilkan aliran. Akibatnya, ikan kekurangan oksigen. Di sini ada 3 zona Kompag. Bersyukur ikan di zona 1 berhasil terselamatkan, sedangkan, zona 2 dan 3 banyak yang mati,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Batu.

Sebagai informasi, panjang aliran Sungai Giripurno ini adalah 300 meter. Yang pengawasannya dilakukan oleh Kompag yang beranggotakan 28 orang. Untuk jumlah ikan telah mencapai ratusan hingga ribu. Namun, kejadian Juli lalu membuat masyarakat sangat kesal. “Sekarang ini keadaan Sungai Giripurno sangat memprihatinkan. Apalagi, setiap tahun selalu banjir. Habitat ikan pun terancam,” ujar Siti Zumaroh, warga Dusun Krajan, RT 63, RW 9 ini.

“Saat ini, kondisinya mulai pulih, meskipun air masih keruh akibat limbah dari pembangunan di area atas (Dusun Kedung) selain itu karena limbah sampah atau cucian dari rumah tangga. Kami berharap, sebaiknya perlu ada komunikasi terlebih dahulu bagi para pengembang proyek, agar masa depan sungai dapat terjaga dan ekosistem ikan dapat terus lestari,” kata Sofyan. (ifa/lid)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/