alexametrics
21.1 C
Malang
Monday, 15 August 2022

Teliti Manajemen Agribisnis Apel, Dosen Unisma Didanai Kemendikbudristek

KOTA BATU – Pandemi Covid­19 punya dampak yang signifikan di sektor pertanian. Salah satu dampak yang dirasakan oleh pelaku agribisnis apel di Kota Batu. Dampak itu berasal dari gangguan rantai pasokan, kesulitan distribusi produk, kekurangan pekerja, peningkatan biaya produksi hingga pengaruh pada sektor pariwisata.

Dari fenomena itu, tim dosen Unisma berinisiasi melakukan penelitian Model Manajemen Agribisnis Apel dalam Menstabilkan Green Supply Chain (Rantai Pasok Berkelanjutan) Pasca Pandemi Covid­19 di Kota Batu. Tim dosen ini diketuai Kaprodi Agribisnis Pertanian Dr Dwi Susilowati SP MP, anggota Ir Mohammad Noerhadi Sudjoni MP, Dr Siti Asmaniyah Mardiyani SP dan kelima anggota lainnya dari mahasiswa.

Riset yang dilakukan Dwi didanai Kemendikbudristek sebesar Rp 200 juta di tahun pertama. Dan akan diimplementasikan selama tiga tahun. Di tahun pertama ini Dwi beserta tim menganalisis kinerja manajemen rantai pasok pada agribisnis apel di kota Batu dari hulu sampai ke hilir. Di tahun kedua mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, ancaman dan peluang untuk menyusun strategi manajemen agribisnis apel.

“Tahun ketiga menyusun model manajemen agribisnis apel untuk menstabilkan rantai pasok berkelanjutan. Setelah itu implementasi pelatihan diversifikasi minuman apel,” ujar Dwi.

Dwi mengungkapkan Kota Batu punya keunggulan komoditi apel. Sehingga agribisnis apel berpotensi dikembangkan dari hulu sampai hilir. Bagian hulu dilakukan oleh petani apel, sementara bagian hilir dilakukan oleh agroindustri apel, toko oleh-oleh, dan lembaga pemasaran apel. Maka pihaknya melibatkan objek penelitian Koperasi Serba Usaha Brosem Kota Batu.

“Sistem hulu dan hilir merupakan usaha saling terkait dan saling menunjang,” kata dia.

Penelitian yang dimulai Mei ini menghasilkan temuan. Salah satunya pemasok utama apel agroindustri bukan berasal dari petani langsung, tapi dari pedagang. Dari temuan itu, pihaknya akan melakukan kolaborasi dengan dinas terkait. “Dinas pertanian dan kelompok tani untuk focus group discussion September mendatang,” ungkapnya. (rof/dik)

KOTA BATU – Pandemi Covid­19 punya dampak yang signifikan di sektor pertanian. Salah satu dampak yang dirasakan oleh pelaku agribisnis apel di Kota Batu. Dampak itu berasal dari gangguan rantai pasokan, kesulitan distribusi produk, kekurangan pekerja, peningkatan biaya produksi hingga pengaruh pada sektor pariwisata.

Dari fenomena itu, tim dosen Unisma berinisiasi melakukan penelitian Model Manajemen Agribisnis Apel dalam Menstabilkan Green Supply Chain (Rantai Pasok Berkelanjutan) Pasca Pandemi Covid­19 di Kota Batu. Tim dosen ini diketuai Kaprodi Agribisnis Pertanian Dr Dwi Susilowati SP MP, anggota Ir Mohammad Noerhadi Sudjoni MP, Dr Siti Asmaniyah Mardiyani SP dan kelima anggota lainnya dari mahasiswa.

Riset yang dilakukan Dwi didanai Kemendikbudristek sebesar Rp 200 juta di tahun pertama. Dan akan diimplementasikan selama tiga tahun. Di tahun pertama ini Dwi beserta tim menganalisis kinerja manajemen rantai pasok pada agribisnis apel di kota Batu dari hulu sampai ke hilir. Di tahun kedua mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, ancaman dan peluang untuk menyusun strategi manajemen agribisnis apel.

“Tahun ketiga menyusun model manajemen agribisnis apel untuk menstabilkan rantai pasok berkelanjutan. Setelah itu implementasi pelatihan diversifikasi minuman apel,” ujar Dwi.

Dwi mengungkapkan Kota Batu punya keunggulan komoditi apel. Sehingga agribisnis apel berpotensi dikembangkan dari hulu sampai hilir. Bagian hulu dilakukan oleh petani apel, sementara bagian hilir dilakukan oleh agroindustri apel, toko oleh-oleh, dan lembaga pemasaran apel. Maka pihaknya melibatkan objek penelitian Koperasi Serba Usaha Brosem Kota Batu.

“Sistem hulu dan hilir merupakan usaha saling terkait dan saling menunjang,” kata dia.

Penelitian yang dimulai Mei ini menghasilkan temuan. Salah satunya pemasok utama apel agroindustri bukan berasal dari petani langsung, tapi dari pedagang. Dari temuan itu, pihaknya akan melakukan kolaborasi dengan dinas terkait. “Dinas pertanian dan kelompok tani untuk focus group discussion September mendatang,” ungkapnya. (rof/dik)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/