alexametrics
25C
Malang
Monday, 19 April 2021

Emoh Naikkan Harga, Produsen Tempe Pilih Siasati Ukuran

KOTA BATU – Tak hanya produsen tempe dan keripik tempe Sanan, Kota Malang yang terkena dampak kenaikan harga kedelai. UKM pembuat tempe di Kota Batu juga kelimpungan dengan harga bahan baku utama untuk membuat tempe tersebut.

Namun, para produsen tempe terus mencari cara agar terus bisa produksi. Salah satunya dengan memperkecil ukuran agar harga jual tetap normal. ”Jika biasanya satu tempe bisa dipotong lima bagian, setelah dikecilkan hanya menjadi empat bagian. Hal tersebut sudah satu bulan saya lakukan,” terang salah satu produsen tempe, Agus Rohman, di Dusun Krajan, Desa Beji, Kota Batu, kemarin (6/1). Menurut dia, cara itu jadi solusi sejak harga kedelai meroket dari semula Rp 6.700 ribu menjadi Rp 9.100 per kilogram.

Dengan mengecilkan ukuran tempe tanpa mengubah harga tersebut membuat tempe yang dia jual tetap pada Rp 2 ribu per potong. ”Perajin tempe seperti saya menjaga kualitas rasa. Maka dari itu harganya tetap, kecuali ukurannya saja yang berubah,” ungkapnya.

Melambungnya harga kedelai turut memperbesar ongkos produksi sehingga usahanya mengalami penurunan laba. Biasanya, setiap 2 kuintal kedelai bisa mendapat laba Rp 500 ribu, kini turun antara Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu.

Untuk meminimalisasi ongkos produksi, dirinya mengurangi bahan baku. Biasanya dalam sehari dirinya bisa memproduksi 2,5 kuintal kedelai. Namun, kini dia menurunkan keperluan bahan baku menjadi 2 kuintal saja.

Pewarta: Wildan Agta Affirdausy

KOTA BATU – Tak hanya produsen tempe dan keripik tempe Sanan, Kota Malang yang terkena dampak kenaikan harga kedelai. UKM pembuat tempe di Kota Batu juga kelimpungan dengan harga bahan baku utama untuk membuat tempe tersebut.

Namun, para produsen tempe terus mencari cara agar terus bisa produksi. Salah satunya dengan memperkecil ukuran agar harga jual tetap normal. ”Jika biasanya satu tempe bisa dipotong lima bagian, setelah dikecilkan hanya menjadi empat bagian. Hal tersebut sudah satu bulan saya lakukan,” terang salah satu produsen tempe, Agus Rohman, di Dusun Krajan, Desa Beji, Kota Batu, kemarin (6/1). Menurut dia, cara itu jadi solusi sejak harga kedelai meroket dari semula Rp 6.700 ribu menjadi Rp 9.100 per kilogram.

Dengan mengecilkan ukuran tempe tanpa mengubah harga tersebut membuat tempe yang dia jual tetap pada Rp 2 ribu per potong. ”Perajin tempe seperti saya menjaga kualitas rasa. Maka dari itu harganya tetap, kecuali ukurannya saja yang berubah,” ungkapnya.

Melambungnya harga kedelai turut memperbesar ongkos produksi sehingga usahanya mengalami penurunan laba. Biasanya, setiap 2 kuintal kedelai bisa mendapat laba Rp 500 ribu, kini turun antara Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu.

Untuk meminimalisasi ongkos produksi, dirinya mengurangi bahan baku. Biasanya dalam sehari dirinya bisa memproduksi 2,5 kuintal kedelai. Namun, kini dia menurunkan keperluan bahan baku menjadi 2 kuintal saja.

Pewarta: Wildan Agta Affirdausy

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru