alexametrics
24C
Malang
Sunday, 18 April 2021

Kamera E-Tilang Terpasang, Pelanggar Lalin Kota Batu Berkurang

KOTA BATU – Pemasangan e-tilang atau Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE) di Kota Batu sejak Maret lalu cukup efektif. Dari satu E-TLE yang terpasang di perempatan BCA atau Jalan Gajah Mada bisa menekan angka penurunan jumlah pelanggar lalu lintas.

Kanit Turjawali Satlantas Polres Batu Iptu Hariyanto mengatakan, pada awal penerapan E-TLE, rata-rata setiap hari jumlah pelanggar ada 650 kendaraan bermotor. Namun, beberapa hari belakangan, dia mengatakan, jumlah pelanggar menurun. ”Sekarang menurun setiap hari paling tidak ada 400 pelanggar,” katanya. Namun, dia belum mendapatkan laporan yang pasti terkait total jumlah pelanggar dari awal penerapan hingga saat ini.

Tetapi, Hariyanto mengatakan, diperkirakan jumlah pelanggar lebih dari 5.000 kendaraan yang terekam. Lalu, pelanggar didominasi kendaraan roda dua sekitar 85 persen lebih. Jenis pelanggaran rata-rata menerobos lampu merah untuk berbelok arah. Selain itu, pelanggaran lainnya yang terekam seperti melanggar markah jalan (garis stop, Red), tidak mengenakan sabuk keselamatan, menggunakan ponsel saat berkendara, melawan arus, tidak menggunakan helm, dan berboncengan lebih dari dua.

”Mekanisme sistem E-TLE, kamera CCTV (closed circuit television) mengawasi pengguna jalan di tempat yang sudah ditentukan. Secara otomatis CCTV tersebut akan merekam kendaraan yang melanggar dan meng-capture pelanggaran sebanyak tiga kali,” katanya. Capture tersebut meliputi foto sebelum, saat, dan setelah melanggar. Hasil CCTV terkoneksi dengan monitoring e-tilang yang ada di Pos Polisi Alun-Alun Kota Batu untuk dilihat dan dicetak oleh petugas.

”Surat bukti dikirim ke pemilik kendaraan disertai foto pelanggaran. Pengiriman sesuai alamat nomor STNK. Pengiriman sementara ini masih di wilayah Malang Raya. Mengingat belum semua daerah terkoneksi dengan E-TLE,” katanya.

Setelah itu, pengendara yang terbukti melanggar akan dikenakan denda dan membayar denda di Bank BRI melalui aplikasi BRIVA. Jika dua pekan tidak dibayar, maka STNK akan diblokir sehingga saat membayar pajak tahunan tak bisa dilakukan. ”Untuk E-TLE memang sudah diterapkan, tapi selama dua pekan sejak diresmikan (Senin, 22/3), pelanggar yang terekam E-TLE masih akan mendapatkan surat teguran simpatik. Pelanggar akan diberitahu apa kesalahan tersebut agar ke depan bisa tertib berlalu lintas demi keselamatan bersama,” katanya.

Meskipun jumlah pelanggar cukup banyak, tidak semua pengendara yang melanggar mendapat surat teguran simpatik karena masih proses sosialisasi. Dari pelanggar yang berjumlah ratusan per hari, yang mendapat surat per hari ada 5-10 orang saja. Surat tersebut sebagai contoh bagi seluruh warga Malang Raya sebelum E-TLE sepenuhnya diterapkan. (rmc/nug/c1/abm)

KOTA BATU – Pemasangan e-tilang atau Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE) di Kota Batu sejak Maret lalu cukup efektif. Dari satu E-TLE yang terpasang di perempatan BCA atau Jalan Gajah Mada bisa menekan angka penurunan jumlah pelanggar lalu lintas.

Kanit Turjawali Satlantas Polres Batu Iptu Hariyanto mengatakan, pada awal penerapan E-TLE, rata-rata setiap hari jumlah pelanggar ada 650 kendaraan bermotor. Namun, beberapa hari belakangan, dia mengatakan, jumlah pelanggar menurun. ”Sekarang menurun setiap hari paling tidak ada 400 pelanggar,” katanya. Namun, dia belum mendapatkan laporan yang pasti terkait total jumlah pelanggar dari awal penerapan hingga saat ini.

Tetapi, Hariyanto mengatakan, diperkirakan jumlah pelanggar lebih dari 5.000 kendaraan yang terekam. Lalu, pelanggar didominasi kendaraan roda dua sekitar 85 persen lebih. Jenis pelanggaran rata-rata menerobos lampu merah untuk berbelok arah. Selain itu, pelanggaran lainnya yang terekam seperti melanggar markah jalan (garis stop, Red), tidak mengenakan sabuk keselamatan, menggunakan ponsel saat berkendara, melawan arus, tidak menggunakan helm, dan berboncengan lebih dari dua.

”Mekanisme sistem E-TLE, kamera CCTV (closed circuit television) mengawasi pengguna jalan di tempat yang sudah ditentukan. Secara otomatis CCTV tersebut akan merekam kendaraan yang melanggar dan meng-capture pelanggaran sebanyak tiga kali,” katanya. Capture tersebut meliputi foto sebelum, saat, dan setelah melanggar. Hasil CCTV terkoneksi dengan monitoring e-tilang yang ada di Pos Polisi Alun-Alun Kota Batu untuk dilihat dan dicetak oleh petugas.

”Surat bukti dikirim ke pemilik kendaraan disertai foto pelanggaran. Pengiriman sesuai alamat nomor STNK. Pengiriman sementara ini masih di wilayah Malang Raya. Mengingat belum semua daerah terkoneksi dengan E-TLE,” katanya.

Setelah itu, pengendara yang terbukti melanggar akan dikenakan denda dan membayar denda di Bank BRI melalui aplikasi BRIVA. Jika dua pekan tidak dibayar, maka STNK akan diblokir sehingga saat membayar pajak tahunan tak bisa dilakukan. ”Untuk E-TLE memang sudah diterapkan, tapi selama dua pekan sejak diresmikan (Senin, 22/3), pelanggar yang terekam E-TLE masih akan mendapatkan surat teguran simpatik. Pelanggar akan diberitahu apa kesalahan tersebut agar ke depan bisa tertib berlalu lintas demi keselamatan bersama,” katanya.

Meskipun jumlah pelanggar cukup banyak, tidak semua pengendara yang melanggar mendapat surat teguran simpatik karena masih proses sosialisasi. Dari pelanggar yang berjumlah ratusan per hari, yang mendapat surat per hari ada 5-10 orang saja. Surat tersebut sebagai contoh bagi seluruh warga Malang Raya sebelum E-TLE sepenuhnya diterapkan. (rmc/nug/c1/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru