alexametrics
21 C
Malang
Wednesday, 10 August 2022

Awas, Angka DBD Naik Tajam

KOTA BATU – Angka kasus infeksi demam berdarah dengue(DBD) di Kota Batu patut terus diwaspadai. Karena penyakit tersebut cukup berbahaya dan mematikan. Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu, hingga enam bulan ini sudah ada sebanyak 69 kasus. Sejak memasuki awal tahun dinkes sudah memprediksi jika bakal ada kemungkinan kasus DBD meningkat. Sebab saat menginjak triwulan pertama lalu, dinkes sudah mengonfirmasi 30 kasus. Alhasil, prediksi tersebut terbukti saat ini.

Jika dibandingkan dengan dua tahun kebelakang pada rentang waktu yang sama. Pertengahan tahun 2020 terdapat 57 kasus infeksi DBD terkonfirmasi. Sedangkan pada 2021 hanya 7 kasus saja. Sehingga dari data tersebut, kasus DBD di Kota Batu sangat fluktuatif dengan angka tertinggi berada di tahun 2022 selama tiga tahun ke belakang.

“Meskipun angka DBD fluktuatif, namun angka kematian hanya berjumlah dua kasus saja. Pertama di tahun 2020, kedua Juni lalu,” ucap Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu drg Kartika Tri Sulandri, Selasa (5/7).

Menurut Dinkes, tingginya angka DBD sat ini disebabkan oleh mobilitas masyarakat yang juga tinggi. Karena tidak banyak penyekatan dan peraturan perjalanan.  Sebagian besar masyarakat Kota Batu yang terkonfirmasi positif DBD memiliki riwayat perjalanan di sekitar area Malang Raya.

“Selain itu juga perubahan iklim menjadi salah satu pengaruh. Karena kondisi iklim di tahun 2022 ini, curah hujannya merata hampir tengah tahun,” ucap Kartika lagi.

Dari kasus yang terhimpun saat ini, kelompok usia produktif menjadi angka mayoritas yang terserang. Dalam catatan Dinkes Kota Batu, usia 15 sampai 44 mendominasi kasus tersebut. Lantaran hal itu selaras dengan kegiatan mobilitas tinggi yang kerap dilakukan oleh kelompok usia produktif.

“Untuk saat ini dari data yang kami petakan, kasus DBD tertinggi di Kota Batu ada di empat tempat. Meliputi Desa Oro-Oro Ombo sebanyak 10 orang, Kelurahan Sisir sebanyak 8 orang, Desa Bulukerto sebanyak 7 orang dan Desa Torongrejo sebanyak 6 orang,” urai Kartika.

Disinggung terkait upaya yang dilakukan, saat ini Dinkes melakukan pencegahan bersama para kader jumantik atau juru pemantau jentik. Hal itu dimaksudkan untuk melakukan PSN atau pemberantasan sarang nyamuk. “Kita juga berkoordinasi dengan stakeholder setempat untuk PSN. Pesan saya pada masyarakat jangan lupa melakukan 3M di rumah,yakni menutup, mengubur, dan menguras sebagai langkah antisipasi mandiri,” tutup dia. (fif/lid)

KOTA BATU – Angka kasus infeksi demam berdarah dengue(DBD) di Kota Batu patut terus diwaspadai. Karena penyakit tersebut cukup berbahaya dan mematikan. Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu, hingga enam bulan ini sudah ada sebanyak 69 kasus. Sejak memasuki awal tahun dinkes sudah memprediksi jika bakal ada kemungkinan kasus DBD meningkat. Sebab saat menginjak triwulan pertama lalu, dinkes sudah mengonfirmasi 30 kasus. Alhasil, prediksi tersebut terbukti saat ini.

Jika dibandingkan dengan dua tahun kebelakang pada rentang waktu yang sama. Pertengahan tahun 2020 terdapat 57 kasus infeksi DBD terkonfirmasi. Sedangkan pada 2021 hanya 7 kasus saja. Sehingga dari data tersebut, kasus DBD di Kota Batu sangat fluktuatif dengan angka tertinggi berada di tahun 2022 selama tiga tahun ke belakang.

“Meskipun angka DBD fluktuatif, namun angka kematian hanya berjumlah dua kasus saja. Pertama di tahun 2020, kedua Juni lalu,” ucap Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu drg Kartika Tri Sulandri, Selasa (5/7).

Menurut Dinkes, tingginya angka DBD sat ini disebabkan oleh mobilitas masyarakat yang juga tinggi. Karena tidak banyak penyekatan dan peraturan perjalanan.  Sebagian besar masyarakat Kota Batu yang terkonfirmasi positif DBD memiliki riwayat perjalanan di sekitar area Malang Raya.

“Selain itu juga perubahan iklim menjadi salah satu pengaruh. Karena kondisi iklim di tahun 2022 ini, curah hujannya merata hampir tengah tahun,” ucap Kartika lagi.

Dari kasus yang terhimpun saat ini, kelompok usia produktif menjadi angka mayoritas yang terserang. Dalam catatan Dinkes Kota Batu, usia 15 sampai 44 mendominasi kasus tersebut. Lantaran hal itu selaras dengan kegiatan mobilitas tinggi yang kerap dilakukan oleh kelompok usia produktif.

“Untuk saat ini dari data yang kami petakan, kasus DBD tertinggi di Kota Batu ada di empat tempat. Meliputi Desa Oro-Oro Ombo sebanyak 10 orang, Kelurahan Sisir sebanyak 8 orang, Desa Bulukerto sebanyak 7 orang dan Desa Torongrejo sebanyak 6 orang,” urai Kartika.

Disinggung terkait upaya yang dilakukan, saat ini Dinkes melakukan pencegahan bersama para kader jumantik atau juru pemantau jentik. Hal itu dimaksudkan untuk melakukan PSN atau pemberantasan sarang nyamuk. “Kita juga berkoordinasi dengan stakeholder setempat untuk PSN. Pesan saya pada masyarakat jangan lupa melakukan 3M di rumah,yakni menutup, mengubur, dan menguras sebagai langkah antisipasi mandiri,” tutup dia. (fif/lid)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/