alexametrics
20.9 C
Malang
Wednesday, 6 July 2022

Waspada Demam Berdarah, Penyakit Ini Juga Mematikan!

KOTA BATU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu memperingatkan masyarakat agar mewaspadai penyakit dengue, sama seperti Covid-19, karena juga bisa menyebabkan kematian. Terlebih, belakangan ini juga terjadi anomali cuaca. Padahal, penyakit dengue dengan sejumlah variannya ini merupakan penyakit yang sangat berhubungan dengan iklim.

Data sepanjang bulan Januari hingga Agustus tahun ini, Dinkes Kota Batu mencatat sudah ada 217 kasus serangan DB. Rinciannya, untuk kasus suspek DB menyerang 68 orang, kasus demam dengue (DD) 87, kasus demam berdarah dengue (DBD) sebanyak 59 orang dan tiga lainnya masuk kategori kasus dengue shock syndrome (DSS). Dari total 217 orang yang terdeteksi menderita DB tersebut, satu di antaranya meninggal dunia.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu dr Susana Indahwati membenarkan bahaya DB yang perlu diwaspadai warga tersebut. Dia menjelaskan, ada banyak varian demam berdarah yang mengintai masyarakat. ”Tapi terkenalnya di orang awam memang hanya DBD saja,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, sekarang ini meski kemarau tapi beberapa kali sudah turun hujan, jadi harus lebih waspada karena itu menyebabkan rawan terkena penyakit dengue. Seperti di Kecamatan Junrejo misalnya, beberapa waktu lalu, ada anak usia belasan tahun meninggal dunia karena penyakit demam berdarah.

Dokter Susan –sapaan akrabnya– menjelaskan, karena penyakit DB ini penyebabnya virus, maka sangat bergantung pada daya tahan tubuh anak. ”Jadi yang bisa kami bantu untuk proses penyembuhannya itu peningkatan daya tahan tubuh dan pemenuhan cairan tubuhnya,” jelas dia.

Dokter berhijab itu menambahkan, diharapkan tidak terjadi DSS pada anak tersebut. Namun, kebetulan yang bersangkutan keadaannya masuk kategori demam berdarah yang kadar trombositnya sangat turun, sehingga proses pembekuan darahnya menjadi terhambat dan terjadi pendarahan dan anak tersebut tak bisa diselamatkan.

Di sisi lain, untuk mencegah terjadinya penularan, di Desa Junrejo sudah dilakukan fogging dua kali selama dua minggu berturut-turut. ”Karena seperti diketahui, penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini bisa menyasar semua kalangan usia,” tukasnya.

Dari data Dinas Kesehatan Kota Batu diketahui DB sangat rawan menyerang warga yang berusia di kisaran usia 5 hingga 14 tahun. Berangkat dari kejadian tersebut, dinkes mengimbau agar warga Kota Batu lebih intens menjaga kebersihan lingkungan.

Sebenarnya, pihaknya sudah menyosialisasikan agar masyarakat Kota Batu menerapkan ”3M Plus” untuk waspada tehadap penyakit DB. Yakni, menguras dan menyikat, juga menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang barang bekas. ”Poin plusnya adalah mencegah gigitan dan perkembangbiakan nyamuk,” bebernya.

Pihaknya juga sudah mengimbau warga Kota Batu untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara berkala. ”PSN bisa dilakukan di rumah masing-masing, paling tidak satu kali dalam seminggu,” ucapnya.

Dengan begitu, diharapkan, kejadian yang tidak diinginkan seperti kasus di Kecamatan Junrejo itu tidak terjadi lagi. ”Karena masyarakat bisa menjaga lingkungannya dengan baik, sehingga jentik-jentik nyamuk tidak berkembang biak dan tak menimbulkan penyakit,” pungkasnya.

Pewarta: Ulfa Afrian

KOTA BATU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu memperingatkan masyarakat agar mewaspadai penyakit dengue, sama seperti Covid-19, karena juga bisa menyebabkan kematian. Terlebih, belakangan ini juga terjadi anomali cuaca. Padahal, penyakit dengue dengan sejumlah variannya ini merupakan penyakit yang sangat berhubungan dengan iklim.

Data sepanjang bulan Januari hingga Agustus tahun ini, Dinkes Kota Batu mencatat sudah ada 217 kasus serangan DB. Rinciannya, untuk kasus suspek DB menyerang 68 orang, kasus demam dengue (DD) 87, kasus demam berdarah dengue (DBD) sebanyak 59 orang dan tiga lainnya masuk kategori kasus dengue shock syndrome (DSS). Dari total 217 orang yang terdeteksi menderita DB tersebut, satu di antaranya meninggal dunia.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu dr Susana Indahwati membenarkan bahaya DB yang perlu diwaspadai warga tersebut. Dia menjelaskan, ada banyak varian demam berdarah yang mengintai masyarakat. ”Tapi terkenalnya di orang awam memang hanya DBD saja,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, sekarang ini meski kemarau tapi beberapa kali sudah turun hujan, jadi harus lebih waspada karena itu menyebabkan rawan terkena penyakit dengue. Seperti di Kecamatan Junrejo misalnya, beberapa waktu lalu, ada anak usia belasan tahun meninggal dunia karena penyakit demam berdarah.

Dokter Susan –sapaan akrabnya– menjelaskan, karena penyakit DB ini penyebabnya virus, maka sangat bergantung pada daya tahan tubuh anak. ”Jadi yang bisa kami bantu untuk proses penyembuhannya itu peningkatan daya tahan tubuh dan pemenuhan cairan tubuhnya,” jelas dia.

Dokter berhijab itu menambahkan, diharapkan tidak terjadi DSS pada anak tersebut. Namun, kebetulan yang bersangkutan keadaannya masuk kategori demam berdarah yang kadar trombositnya sangat turun, sehingga proses pembekuan darahnya menjadi terhambat dan terjadi pendarahan dan anak tersebut tak bisa diselamatkan.

Di sisi lain, untuk mencegah terjadinya penularan, di Desa Junrejo sudah dilakukan fogging dua kali selama dua minggu berturut-turut. ”Karena seperti diketahui, penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini bisa menyasar semua kalangan usia,” tukasnya.

Dari data Dinas Kesehatan Kota Batu diketahui DB sangat rawan menyerang warga yang berusia di kisaran usia 5 hingga 14 tahun. Berangkat dari kejadian tersebut, dinkes mengimbau agar warga Kota Batu lebih intens menjaga kebersihan lingkungan.

Sebenarnya, pihaknya sudah menyosialisasikan agar masyarakat Kota Batu menerapkan ”3M Plus” untuk waspada tehadap penyakit DB. Yakni, menguras dan menyikat, juga menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang barang bekas. ”Poin plusnya adalah mencegah gigitan dan perkembangbiakan nyamuk,” bebernya.

Pihaknya juga sudah mengimbau warga Kota Batu untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara berkala. ”PSN bisa dilakukan di rumah masing-masing, paling tidak satu kali dalam seminggu,” ucapnya.

Dengan begitu, diharapkan, kejadian yang tidak diinginkan seperti kasus di Kecamatan Junrejo itu tidak terjadi lagi. ”Karena masyarakat bisa menjaga lingkungannya dengan baik, sehingga jentik-jentik nyamuk tidak berkembang biak dan tak menimbulkan penyakit,” pungkasnya.

Pewarta: Ulfa Afrian

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/