alexametrics
29C
Malang
Monday, 19 April 2021

Kota Batu Terancam Krisis Petani Muda

KOTA BATU – Selain anggapan bahwa pekerjaan sebagai petani tidak sekeren karyawan berdasi, belakangan luas lahan pertanian di Kota Batu terus mengalami penurunan drastis. Data Dinas Pertanian Kota Batu mencatat, proporsi penduduk yang bekerja sebagai petani menyusut hingga tersisa 10 persen jika dibandingkan dengan total jumlah penduduk saat ini yakni sekitar 227.000 jiwa.

Padahal, tiga dekade sebelumnya jumlah petani di Kota Batu melebihi angka tersebut. Tak heran jika secara nasional, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksi jika dalam waktu 42 tahun mendatang Indonesia termasuk Kota Batu tak lagi mempunyai petani.

Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu Harijadi Agung Setijana menambahkan, jika mengacu pada proporsi umur, sudah semakin sedikit kelompok usia muda yang berprofesi sebagai petani. Dia menyebut, masyarakat yang bekerja di sektor pertanian saat ini rata-rata berusia 35 tahun keatas.

Hal ini menunjukkan indikasi bahwa petani adalah profesi orang tua, bukan kalangan muda. ”Tahun 2019 itu total masih ada 22.547 petani di Kota Batu, lalu berkurang menjadi 21.929 petani di tahun 2020, dan tahun 2021 ini menyusut lagi jadi 21.706 petani,” kata Hari.

Sebagai solusi, pihaknya telah mengupayakan berbagai cara untuk meningkatkan minat petani muda. Salah satunya melalui Kelompok Taruna Tani. Prakteknya, di masing-masing desa saat ini terdapat satu petani milenial.

”Petani milenial ini terus kami upayakan agar terus ditingkatkan, program ini sudah berjalan sejak tiga tahun lalu,” katanya. Dia berharap, keberadaan pilot project petani muda di tiap desa bisa menginspirasi pemuda lainnya untuk bertani.

Hari berpendapat, petani tetap bisa memiliki penghasilan tinggi selama memiliki mindset sebagai pengusaha. ”Misal mengembangkan pertanian organik kemudian di jual ke supermarket, saat ini petani masih berpikir konvensional tidak melihat faktor-faktor lain untuk mengifisienkan modal operasional,” imbuhnya.

Realitanya, rata-rata petani sayur sekarang hanya mendapat keuntungan Rp 4 juta untuk per hektare tanah dalam satu musim panen. ”Tetapi tergantung juga luasannya, rata-rata minimal petani disini garap 1000 meter persegi,” sambungnya.

Selain soal pendapatan, berkurangnya jumlah petani juga dipengaruhi karena menyusutnya lahan pertanian. Menurut catatan koran ini, pada tahun 2012 luas lahan hijau yang ada di Kota Batu mencapai 6.034,62 hektare. Sementara pada tahun 2019, luas lahan tersebut berkurang menjadi 5.279,15 hektare.

Agung mengatakan banyak lahan pertanian yang beralih menjadi bangunan. ”Kenyataannya, alih fungsi lahan pertanian masih terus berlangsung hingga saat ini dan bahkan cenderung meningkat,” katanya.

Pewarta: Nugraha Perdana

KOTA BATU – Selain anggapan bahwa pekerjaan sebagai petani tidak sekeren karyawan berdasi, belakangan luas lahan pertanian di Kota Batu terus mengalami penurunan drastis. Data Dinas Pertanian Kota Batu mencatat, proporsi penduduk yang bekerja sebagai petani menyusut hingga tersisa 10 persen jika dibandingkan dengan total jumlah penduduk saat ini yakni sekitar 227.000 jiwa.

Padahal, tiga dekade sebelumnya jumlah petani di Kota Batu melebihi angka tersebut. Tak heran jika secara nasional, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksi jika dalam waktu 42 tahun mendatang Indonesia termasuk Kota Batu tak lagi mempunyai petani.

Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu Harijadi Agung Setijana menambahkan, jika mengacu pada proporsi umur, sudah semakin sedikit kelompok usia muda yang berprofesi sebagai petani. Dia menyebut, masyarakat yang bekerja di sektor pertanian saat ini rata-rata berusia 35 tahun keatas.

Hal ini menunjukkan indikasi bahwa petani adalah profesi orang tua, bukan kalangan muda. ”Tahun 2019 itu total masih ada 22.547 petani di Kota Batu, lalu berkurang menjadi 21.929 petani di tahun 2020, dan tahun 2021 ini menyusut lagi jadi 21.706 petani,” kata Hari.

Sebagai solusi, pihaknya telah mengupayakan berbagai cara untuk meningkatkan minat petani muda. Salah satunya melalui Kelompok Taruna Tani. Prakteknya, di masing-masing desa saat ini terdapat satu petani milenial.

”Petani milenial ini terus kami upayakan agar terus ditingkatkan, program ini sudah berjalan sejak tiga tahun lalu,” katanya. Dia berharap, keberadaan pilot project petani muda di tiap desa bisa menginspirasi pemuda lainnya untuk bertani.

Hari berpendapat, petani tetap bisa memiliki penghasilan tinggi selama memiliki mindset sebagai pengusaha. ”Misal mengembangkan pertanian organik kemudian di jual ke supermarket, saat ini petani masih berpikir konvensional tidak melihat faktor-faktor lain untuk mengifisienkan modal operasional,” imbuhnya.

Realitanya, rata-rata petani sayur sekarang hanya mendapat keuntungan Rp 4 juta untuk per hektare tanah dalam satu musim panen. ”Tetapi tergantung juga luasannya, rata-rata minimal petani disini garap 1000 meter persegi,” sambungnya.

Selain soal pendapatan, berkurangnya jumlah petani juga dipengaruhi karena menyusutnya lahan pertanian. Menurut catatan koran ini, pada tahun 2012 luas lahan hijau yang ada di Kota Batu mencapai 6.034,62 hektare. Sementara pada tahun 2019, luas lahan tersebut berkurang menjadi 5.279,15 hektare.

Agung mengatakan banyak lahan pertanian yang beralih menjadi bangunan. ”Kenyataannya, alih fungsi lahan pertanian masih terus berlangsung hingga saat ini dan bahkan cenderung meningkat,” katanya.

Pewarta: Nugraha Perdana

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru