alexametrics
32C
Malang
Monday, 19 April 2021

Ogah Isolasi, Pasutri Asal Batu Kecewa Karena Biaya Persalinan Mahal

KOTA BATU – Pasutri asal Kota batu, Ratnasari (19) dan Fendi Aldiansyah (22) harus menelan pil pahit. Gara-gara enggan melakukan isolasi mandiri di rumah sakit pasca divonis reaktif usai rapid test, pasutri ini harus membayar biaya persalinan hingga Rp 7 juta. Padahal keduanya memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS)

Kedua pasutri asal Jl Arumdalu No 37, Kelurahan Songgokerto itu harus mengeluarkan kocek sekitar Rp 7 juta lebih. Pada 25 Februari lalu, Ratnasari melahirkan anak pertamanya yang dinamakan Yasmin Fena Ayunindya di RS Karsa Husada. Sebelum melahirkan, Ratna menjalani pemeriksaan medis yakni rapid test dan hasilnya menunjukkan reaktif. Pihak rumah sakit menyarankan agar Ratna menjalani isolasi mandiri tetapi ditolaknya karena khawatir akan di-Covid-kan.

Ratna mengaku kecewa karena pembiayaan yang ada harus ditanggung secara pribadi. Padahal dirinya memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) tetapi tidak bisa digunakan. Pasalnya, dia menolak untuk isolasi mandiri sehingga harus menanggung biaya seperti pasien umum.

“Disuruh bayar seperti umum, Rp 7 juta lebih. Kalau pakai KIS, harus dikarantina paling cepat dua hari atau lebih,” katanya.

Namun anehnya, setelah pulang, dia mengaku didatangi dua orang yang mengaku dari tenaga kesehatan dari RS Karsa Husada. Kedatangan mereka untuk memberikan penjelasan adanya kemungkinan sebagian kecil biaya yang telah dikeluarkan Ratna bisa kembali.

“Ada petugas kesehatan yang datang dan memberitahu kalau uangnya bisa kembali sebagian tapi masih belum pasti. Ada dua orang yang datang. Mereka bilang kalau saya memaksa pulang, maka harus bayar seperti pasien umum,” paparnya.

Kepala Seksi Pelayanan Medis RS Karsa Husada, dr Ferdi menjelaskan ada dua kategori biaya yaitu biaya untuk sang ibu dan sang bayi. Untuk biaya yang ditanggung Ratna sebanyak Rp 5.803.500 juta. Sedangkan biaya untuk bayinya sebanyak Rp 1.585.100. Dia membenarkan adanya penolakan dari pasien untuk melakukan isolasi mandiri di rumah sakit sehingga tidak bisa menggunakan KIS.

“Pasien dicurigai suspect karena rapidnya reaktif maka untuk menghindari terpapar harus diisolasi. Karena keluarga menolak, maka gugur (penggunaan KIS), aturannya memang seperti itu,” katanya.

Tetapi untuk kedatangan pihak rumah sakit ke rumah pasien menawarkan pengembalian biaya, pihaknya tidak mengetahui hal itu. Dia bakal mengonfirmasi hal tersebut kepada pegawai lainnya terkait kebenarannya.

Pewarta: Nugraha Perdana

KOTA BATU – Pasutri asal Kota batu, Ratnasari (19) dan Fendi Aldiansyah (22) harus menelan pil pahit. Gara-gara enggan melakukan isolasi mandiri di rumah sakit pasca divonis reaktif usai rapid test, pasutri ini harus membayar biaya persalinan hingga Rp 7 juta. Padahal keduanya memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS)

Kedua pasutri asal Jl Arumdalu No 37, Kelurahan Songgokerto itu harus mengeluarkan kocek sekitar Rp 7 juta lebih. Pada 25 Februari lalu, Ratnasari melahirkan anak pertamanya yang dinamakan Yasmin Fena Ayunindya di RS Karsa Husada. Sebelum melahirkan, Ratna menjalani pemeriksaan medis yakni rapid test dan hasilnya menunjukkan reaktif. Pihak rumah sakit menyarankan agar Ratna menjalani isolasi mandiri tetapi ditolaknya karena khawatir akan di-Covid-kan.

Ratna mengaku kecewa karena pembiayaan yang ada harus ditanggung secara pribadi. Padahal dirinya memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) tetapi tidak bisa digunakan. Pasalnya, dia menolak untuk isolasi mandiri sehingga harus menanggung biaya seperti pasien umum.

“Disuruh bayar seperti umum, Rp 7 juta lebih. Kalau pakai KIS, harus dikarantina paling cepat dua hari atau lebih,” katanya.

Namun anehnya, setelah pulang, dia mengaku didatangi dua orang yang mengaku dari tenaga kesehatan dari RS Karsa Husada. Kedatangan mereka untuk memberikan penjelasan adanya kemungkinan sebagian kecil biaya yang telah dikeluarkan Ratna bisa kembali.

“Ada petugas kesehatan yang datang dan memberitahu kalau uangnya bisa kembali sebagian tapi masih belum pasti. Ada dua orang yang datang. Mereka bilang kalau saya memaksa pulang, maka harus bayar seperti pasien umum,” paparnya.

Kepala Seksi Pelayanan Medis RS Karsa Husada, dr Ferdi menjelaskan ada dua kategori biaya yaitu biaya untuk sang ibu dan sang bayi. Untuk biaya yang ditanggung Ratna sebanyak Rp 5.803.500 juta. Sedangkan biaya untuk bayinya sebanyak Rp 1.585.100. Dia membenarkan adanya penolakan dari pasien untuk melakukan isolasi mandiri di rumah sakit sehingga tidak bisa menggunakan KIS.

“Pasien dicurigai suspect karena rapidnya reaktif maka untuk menghindari terpapar harus diisolasi. Karena keluarga menolak, maka gugur (penggunaan KIS), aturannya memang seperti itu,” katanya.

Tetapi untuk kedatangan pihak rumah sakit ke rumah pasien menawarkan pengembalian biaya, pihaknya tidak mengetahui hal itu. Dia bakal mengonfirmasi hal tersebut kepada pegawai lainnya terkait kebenarannya.

Pewarta: Nugraha Perdana

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru