alexametrics
26.1 C
Malang
Sunday, 29 May 2022

Upaya Tracing di Kota Batu Masih Mendapat Penolakan Warga

KOTA BATU – Stigma pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri (isoman) mendapat stigma negatif masih muncul. Warga yang memiliki gejala Covid-19 memilih tak memeriksakan diri untuk memastikan apakah terpapar Covid-19 atau tidak. Mereka memilih mengobati sakitnya tanpa memberi tahu perangkat desa.

Kepala Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, Rianto, mengakui bila beberapa warganya masih ada yang khawatir dicovidkan. ”Ya ada saja orang yang sakit itu (gejala Covid-19), tapi khawatir kalau berobat nanti akan dicovidkan. Jumlahnya tetapi nggak banyak yang seperti itu,” kata dia. Dia mengestimasi, paling tidak ada 5 warga yang enggan berobat meski mengalami gejala korona.

Sementara untuk jumlah kasus aktif orang-orang yang terkonfirmasi positif Covid-19, ada 19 orang di desanya. Semua masih menjalani isoman di rumahnya masing-masing.

Dia juga mengatakan bila setiap hari pihaknya selalu berupaya menekan angka penyebaran Covid-19. Salah satunya dilakukan rutin melakukan tracing bersama Puskesmas Batu dan babinsa serta bhabinkamtibmas.

Di tempat lain, Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko menyebut bila kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat saat ini juga ditujukan untuk membatasi pergerakan masyarakat. Sehingga potensi penyebaran virus dari orang tanpa gejala (OTG) bisa diminimalisasi. Dewanti juga menyebut bila petugas dari dinkes bersama TNI dan Polri selalu melakukan tracing ke masing-masing desa dan kelurahan.

Pihaknya juga meminta aparatur sipil negara (ASN) yang tidak bekerja di sektor esensial untuk membantu proses tracing itu. ”Meski begitu, kami juga punya keterbatasan karena tidak bisa melakukan tracing untuk semua. Jadi kami harap masyarakat bisa membantu dengan tetap stay at home,” kata Dewanti.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Beji dr Muhfid, menyebut bila saat ini masih ada warga yang menolak untuk dilakukan tracing. ”Terkadang kami melakukan tracing ke orang yang diduga kontak erat dengan pasien Covid-19 sebelumnya, tetapi menjawab bahwa dia tidak pernah ketemu (pasien Covid-19). Kemudian setelah di-swab test hasilnya positif, lalu berkoar-koar bahwa dia dicovidkan. Padahal bisa saja dia memang tertular,” kata dia. Beranjak dari contoh itu, dia berharap masyarakat tidak mudah menyalahkan tenaga kesehatan (nakes).
(rmc/adn/ulf/nug/fik/c1/by)

KOTA BATU – Stigma pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri (isoman) mendapat stigma negatif masih muncul. Warga yang memiliki gejala Covid-19 memilih tak memeriksakan diri untuk memastikan apakah terpapar Covid-19 atau tidak. Mereka memilih mengobati sakitnya tanpa memberi tahu perangkat desa.

Kepala Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, Rianto, mengakui bila beberapa warganya masih ada yang khawatir dicovidkan. ”Ya ada saja orang yang sakit itu (gejala Covid-19), tapi khawatir kalau berobat nanti akan dicovidkan. Jumlahnya tetapi nggak banyak yang seperti itu,” kata dia. Dia mengestimasi, paling tidak ada 5 warga yang enggan berobat meski mengalami gejala korona.

Sementara untuk jumlah kasus aktif orang-orang yang terkonfirmasi positif Covid-19, ada 19 orang di desanya. Semua masih menjalani isoman di rumahnya masing-masing.

Dia juga mengatakan bila setiap hari pihaknya selalu berupaya menekan angka penyebaran Covid-19. Salah satunya dilakukan rutin melakukan tracing bersama Puskesmas Batu dan babinsa serta bhabinkamtibmas.

Di tempat lain, Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko menyebut bila kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat saat ini juga ditujukan untuk membatasi pergerakan masyarakat. Sehingga potensi penyebaran virus dari orang tanpa gejala (OTG) bisa diminimalisasi. Dewanti juga menyebut bila petugas dari dinkes bersama TNI dan Polri selalu melakukan tracing ke masing-masing desa dan kelurahan.

Pihaknya juga meminta aparatur sipil negara (ASN) yang tidak bekerja di sektor esensial untuk membantu proses tracing itu. ”Meski begitu, kami juga punya keterbatasan karena tidak bisa melakukan tracing untuk semua. Jadi kami harap masyarakat bisa membantu dengan tetap stay at home,” kata Dewanti.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Beji dr Muhfid, menyebut bila saat ini masih ada warga yang menolak untuk dilakukan tracing. ”Terkadang kami melakukan tracing ke orang yang diduga kontak erat dengan pasien Covid-19 sebelumnya, tetapi menjawab bahwa dia tidak pernah ketemu (pasien Covid-19). Kemudian setelah di-swab test hasilnya positif, lalu berkoar-koar bahwa dia dicovidkan. Padahal bisa saja dia memang tertular,” kata dia. Beranjak dari contoh itu, dia berharap masyarakat tidak mudah menyalahkan tenaga kesehatan (nakes).
(rmc/adn/ulf/nug/fik/c1/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/