alexametrics
23.4 C
Malang
Friday, 1 July 2022

Fauna Gunung Butak Dijarah, Pemburu Dipergoki Bawa Ratusan Burung

DAU – Kasus perburuan liar di kawasan hutan lindung Gunung Butak masih saja terjadi. Tim Ranger ProFauna Indonesia kembali memergoki pemburu tengah membawa sekitar 100 ekor burung hasil tangkapan dari hutan tersebut, Selasa (8/9).

Sebelumnya, kasus perburuan liar terjadi di Gunung Butak dengan sasaran lutung jawa. Satwa dilindungi tersebut saat ditemukan hanya tersisa kepala, kulit, dan kedua tangannya saja.

Ketua ProFauna Indonesia Rosek Nursahid mengatakan, saat diinterogasi oleh tim ProFauna Indonesia diketahui pemburu merupakan warga Dusun Perinci, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, yang lokasinya tak jauh dari Gunung Butak.

Selain burung, Rosek beserta timnya berhasil mengamankan alat perangkap berupa potongan kayu kecil sepanjang sekitar 50 cm berdiameter 1-2 cm. “Alat buktinya ini jumlahnya 20 batang, nah setiap batang bisa memerangkap 4-5 ekor burung,” kata Rosek, Rabu (9/9).

Lebih lanjut dijelaskan dia, potongan batang itu tadi dilumuri getah yang daya rekatnya cukup kuat dari tanaman yang dikenal dengan nama Bendo. Maka tak heran, pemburu tersebut bisa membawa ratusan ekor burung dalam tasnya. Ratusan burung yang tertangkap tersebut beberapa di antaranya jenis celepuk (sejenis burung hantu berukuran kecil), opior jawa, burung kacamata, sikatan ninon.

“Untuk jenis opior jawa, burung kacamata, dan celepuk tadi langsung kita lepas, karena kondisi masih segar (sehat),”sambungnya.
Namun, ada satu burung jenis sikatan ninon harus dibawa oleh tim ProFauna Indonesia karena terluka.

Burung berwarna biru gelap di kepalanya ini mengalami patah tulang di bagian sayapnya sehingga harus direhabilitasi dulu sebelum dilepas. “Luka ini bisa saja terjadi saat pemburu melepas paksa burung yang menempel di batang yang sudah dilumuri getah,” terangnya.

Dia menambahkan meski tidak semua burung yang diburu itu burung langka, akan tetapi perburuannya dilakukan di hutan lindung. Maka dari itu apa yang ada di dalam hutan lindung harus dilindungi.

Pihaknya berencana melaporkan hal ini kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dengan menyerahkan pula alat buktinya. Selain itu, dia juga telah memberitahukan hal ini kepada pihak yang berwajib. “Siapa tahu ini bisa menjadi salah satu cara menemukan pelaku perburuan lutung jawa beberapa waktu lalu,” tutupnya.

Pewarta: Intan Refa S

DAU – Kasus perburuan liar di kawasan hutan lindung Gunung Butak masih saja terjadi. Tim Ranger ProFauna Indonesia kembali memergoki pemburu tengah membawa sekitar 100 ekor burung hasil tangkapan dari hutan tersebut, Selasa (8/9).

Sebelumnya, kasus perburuan liar terjadi di Gunung Butak dengan sasaran lutung jawa. Satwa dilindungi tersebut saat ditemukan hanya tersisa kepala, kulit, dan kedua tangannya saja.

Ketua ProFauna Indonesia Rosek Nursahid mengatakan, saat diinterogasi oleh tim ProFauna Indonesia diketahui pemburu merupakan warga Dusun Perinci, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, yang lokasinya tak jauh dari Gunung Butak.

Selain burung, Rosek beserta timnya berhasil mengamankan alat perangkap berupa potongan kayu kecil sepanjang sekitar 50 cm berdiameter 1-2 cm. “Alat buktinya ini jumlahnya 20 batang, nah setiap batang bisa memerangkap 4-5 ekor burung,” kata Rosek, Rabu (9/9).

Lebih lanjut dijelaskan dia, potongan batang itu tadi dilumuri getah yang daya rekatnya cukup kuat dari tanaman yang dikenal dengan nama Bendo. Maka tak heran, pemburu tersebut bisa membawa ratusan ekor burung dalam tasnya. Ratusan burung yang tertangkap tersebut beberapa di antaranya jenis celepuk (sejenis burung hantu berukuran kecil), opior jawa, burung kacamata, sikatan ninon.

“Untuk jenis opior jawa, burung kacamata, dan celepuk tadi langsung kita lepas, karena kondisi masih segar (sehat),”sambungnya.
Namun, ada satu burung jenis sikatan ninon harus dibawa oleh tim ProFauna Indonesia karena terluka.

Burung berwarna biru gelap di kepalanya ini mengalami patah tulang di bagian sayapnya sehingga harus direhabilitasi dulu sebelum dilepas. “Luka ini bisa saja terjadi saat pemburu melepas paksa burung yang menempel di batang yang sudah dilumuri getah,” terangnya.

Dia menambahkan meski tidak semua burung yang diburu itu burung langka, akan tetapi perburuannya dilakukan di hutan lindung. Maka dari itu apa yang ada di dalam hutan lindung harus dilindungi.

Pihaknya berencana melaporkan hal ini kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dengan menyerahkan pula alat buktinya. Selain itu, dia juga telah memberitahukan hal ini kepada pihak yang berwajib. “Siapa tahu ini bisa menjadi salah satu cara menemukan pelaku perburuan lutung jawa beberapa waktu lalu,” tutupnya.

Pewarta: Intan Refa S

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/