alexametrics
22 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Kisah Pilu Banjir Batu, Shodikin Temukan Ayah Terlilit Tali Pompa

Wakri adalah satu di antara 7 korban banjir di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Lelaki yang bekerja sebagai petani itu ditemukan anaknya, Shodikin, dalam kondisi meninggal dunia.

Keluarga Wakri masih berduka ketika Jawa Pos Radar Malang berkunjung ke rumahnya, di Jalan Kamboja I, Dusun Sebrangbendo, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Senin (8/11). Wajah-wajah sembab tersirat dari istri dan anak-anaknya.

Sejenak kemudian anak Wakri yang bernama Muhammad Shodikin bercerita, pagi itu, Kamis 4 November 2021 sekitar pukul 7 pagi Wakri, 63, berpamitan berangkat ke ladang. Seperti biasa, rutinitasnya adalah bercocok tanam, seperti menanam bunga, jeruk, terong dan wortel. Pekerjaan itu sudah dilakoni sejak 30 tahun yang lalu. Kini Wakri ‘pensiun’ dari pekerjaan itu untuk selamanya.

Mulanya, Shodikin mendapat kabar dari warga setempat, bahwa terjadi banjir bandang di daerah Dusun Gintung dan sekitarnya. Sontak dirinya kaget, sebab dusun tersebut adalah salah satu dusun yang sering dilalui ayahnya untuk pergi ke kebun.

Shodikin semakin khawatir, waktu menunjukkan pukul 17.00, namun sang ayah belum pulang. Pikirannya mulai kacau, tak berpikir lama dia langsung berangkat menuju lokasi banjir. “Waktu itu saya belum tahu bapak saya jadi korban atau tidak, tapi perasaan saya tidak enak. Tangan saya gemetaran usai melihat video yang beredar,” ujarnya, Senin (8/11).

Tidak menunggu lama, setiba di lokasi, Shodikin bersama Tim SAR menyusuri sungai yang dilalui banjir bandang tersebut. Bermodalkan senter kecil dan sebilah parang, Shodikin membongkar tumpukan material dan sampah yang terbawa arus banjir. Namun nihil, dirinya tidak menemukan apa-apa.

Hari sudah larut malam, tim SAR menghentikan pencarian dan akan dilanjut Jumat pagi (5/11). Mendapat kabar dari rumah bahwa sang ayah belum pulang, Shodikin terus melanjutkan pencarian yang dibantu oleh 5 orang keluarganya.

Perjuangan Shodikin membuahkan hasil, Wakri dia temukan hari Jumat sekitar pukul 06.00 pagi. Wakri meninggal dunia setelah terseret arus banjir bandang sekitar 200 meter. Tangannya terlilit tali dari alat semprot yang biasa dia bawa ke kebun. “Saya yang pertama kali melihatnya. Posisi bapak saat itu tengkurap, pakaiannya masih utuh,” beber Shodikin.

Melihat kondisi itu, seketika air mata Shodikin bercucuran. Dia berusaha menyelamatkan sang ayah dengan tenaga yang tersisa. Dirinya sempat duduk terdiam melihat orang tua yang merawatnya sejak kecil itu tak berdaya. “Feeling saya seperti itu, dia kena banjir, makanya saya ngotot mencari sampai ketemu,” ujar Shodikin dengan raut wajah yang penuh emosi.

Kabar duka itu segera dia sampaikan ke rumah. Istri Wakri, Mukayah, kaget dan histeris saat mendengar kabar bahwa suaminya telah tiada. Bagi Mukayah, suaminya itu adalah orang yang baik dan ramah kepada siapapun. Mukayah tidak menyangka bahwa pagi itu adalah pertemuan terakhirnya dengan suami tercinta. “Pak Wakri orangnya paling enak diajak ngobrol. Dia ramah sama semua orang, berjiwa sosial dan suka membantu orang,” kenang Mukayah sedih.(Anugrah Budiamin/lid/rmc)

Wakri adalah satu di antara 7 korban banjir di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Lelaki yang bekerja sebagai petani itu ditemukan anaknya, Shodikin, dalam kondisi meninggal dunia.

Keluarga Wakri masih berduka ketika Jawa Pos Radar Malang berkunjung ke rumahnya, di Jalan Kamboja I, Dusun Sebrangbendo, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Senin (8/11). Wajah-wajah sembab tersirat dari istri dan anak-anaknya.

Sejenak kemudian anak Wakri yang bernama Muhammad Shodikin bercerita, pagi itu, Kamis 4 November 2021 sekitar pukul 7 pagi Wakri, 63, berpamitan berangkat ke ladang. Seperti biasa, rutinitasnya adalah bercocok tanam, seperti menanam bunga, jeruk, terong dan wortel. Pekerjaan itu sudah dilakoni sejak 30 tahun yang lalu. Kini Wakri ‘pensiun’ dari pekerjaan itu untuk selamanya.

Mulanya, Shodikin mendapat kabar dari warga setempat, bahwa terjadi banjir bandang di daerah Dusun Gintung dan sekitarnya. Sontak dirinya kaget, sebab dusun tersebut adalah salah satu dusun yang sering dilalui ayahnya untuk pergi ke kebun.

Shodikin semakin khawatir, waktu menunjukkan pukul 17.00, namun sang ayah belum pulang. Pikirannya mulai kacau, tak berpikir lama dia langsung berangkat menuju lokasi banjir. “Waktu itu saya belum tahu bapak saya jadi korban atau tidak, tapi perasaan saya tidak enak. Tangan saya gemetaran usai melihat video yang beredar,” ujarnya, Senin (8/11).

Tidak menunggu lama, setiba di lokasi, Shodikin bersama Tim SAR menyusuri sungai yang dilalui banjir bandang tersebut. Bermodalkan senter kecil dan sebilah parang, Shodikin membongkar tumpukan material dan sampah yang terbawa arus banjir. Namun nihil, dirinya tidak menemukan apa-apa.

Hari sudah larut malam, tim SAR menghentikan pencarian dan akan dilanjut Jumat pagi (5/11). Mendapat kabar dari rumah bahwa sang ayah belum pulang, Shodikin terus melanjutkan pencarian yang dibantu oleh 5 orang keluarganya.

Perjuangan Shodikin membuahkan hasil, Wakri dia temukan hari Jumat sekitar pukul 06.00 pagi. Wakri meninggal dunia setelah terseret arus banjir bandang sekitar 200 meter. Tangannya terlilit tali dari alat semprot yang biasa dia bawa ke kebun. “Saya yang pertama kali melihatnya. Posisi bapak saat itu tengkurap, pakaiannya masih utuh,” beber Shodikin.

Melihat kondisi itu, seketika air mata Shodikin bercucuran. Dia berusaha menyelamatkan sang ayah dengan tenaga yang tersisa. Dirinya sempat duduk terdiam melihat orang tua yang merawatnya sejak kecil itu tak berdaya. “Feeling saya seperti itu, dia kena banjir, makanya saya ngotot mencari sampai ketemu,” ujar Shodikin dengan raut wajah yang penuh emosi.

Kabar duka itu segera dia sampaikan ke rumah. Istri Wakri, Mukayah, kaget dan histeris saat mendengar kabar bahwa suaminya telah tiada. Bagi Mukayah, suaminya itu adalah orang yang baik dan ramah kepada siapapun. Mukayah tidak menyangka bahwa pagi itu adalah pertemuan terakhirnya dengan suami tercinta. “Pak Wakri orangnya paling enak diajak ngobrol. Dia ramah sama semua orang, berjiwa sosial dan suka membantu orang,” kenang Mukayah sedih.(Anugrah Budiamin/lid/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/