alexametrics
23.6 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Susur Sungai, Jasa Tirta Ungkap Penyebab Banjir Kota Batu

KOTA BATU – Alih fungsi lahan hutan di Kota Batu menjadi sorotan utama sebagai penyebab terjadinya banjir bandang di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kamis (4/11/21). Karena itu dalam koordinasi penanganan dan pengurangan risiko bencana di aula Kecamatan Bumiaji kemarin, salah satu rekomendasi adalah identifikasi ulang 600 hektar lahan hutan. Namun fakta baru penyebab banjir diurai Perum Jasa Tirta (PJT) I.

PJT I menemukan beberapa fakta menarik dari banjir yang mengakibatkan tujuh orang tewas dan puluhan rumah rusak. Selama empat hari penyisiran sejak Jumat lalu (5/11), mereka mendapati ada tiga hal penting penyebab banjir bandang.

PJT I menyimpulkan penyempitan lahan di sekitar sungai menjadi penyebab utama. Hal itu terlihat dari penyempitan bantaran Sungai Brantas yang hanya memiliki lebar berkisar 8 meter. Sebab beberapa area pinggir sungai nampak tergerus oleh banjir. “Banjir kemarin akhirnya mengembalikan ukuran awal yang mencapai 10 meter,” beber Direktur Umum PJT I Raymond Valiant Ruritant kepada Jawa Pos Radar Malang.

Faktor kedua yang menyebabkan banjir adalah perubahan tata guna lahan di badan sungai. Raymond menemukan bukti hasil longsoran badan sungai. Badan sungai yang difungsikan sebagai lahan pertanian oleh warga sekitar tak kuat menampung air hujan. Perlu diketahui, akar dari tumbuhan pertanian kurang dalam mencengkeram tanah. Akibatnya, tanah bisa melorot saat akar tumbuhan tak mampu menahan tanah.

Penyebab terakhir dari banjir bandang menurut Raymond adalah kondisi tanah yang tak siap menampung air hujan. Sebab hujan yang berlangsung pada Kamis sore berada di intensitas tinggi. Namun dia menyebut hujan tersebut masih berada dalam normal dan seharusnya tanah bisa menampung air.

”Kami juga masih menganalisis akibat kebakaran hutan pada 2019 silam yang belum bisa dipastikan apakah juga menjadi penyebabnya,” kata Raymond.

Namun, survei yang dilakukan PJT I tersebut belum selesai. Mereka masih menganalisis kembali di tiga titik yang menjadi kesatuan. Tiga titik itu yakni Busung Lathi, Alas Bengking, dan Sumbergondo. Namun dari hasil temuan tersebut, PJT I memperkirakan banjir memang dari alih fungsi lahan. (ulf/adn/abm/rmc)

KOTA BATU – Alih fungsi lahan hutan di Kota Batu menjadi sorotan utama sebagai penyebab terjadinya banjir bandang di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kamis (4/11/21). Karena itu dalam koordinasi penanganan dan pengurangan risiko bencana di aula Kecamatan Bumiaji kemarin, salah satu rekomendasi adalah identifikasi ulang 600 hektar lahan hutan. Namun fakta baru penyebab banjir diurai Perum Jasa Tirta (PJT) I.

PJT I menemukan beberapa fakta menarik dari banjir yang mengakibatkan tujuh orang tewas dan puluhan rumah rusak. Selama empat hari penyisiran sejak Jumat lalu (5/11), mereka mendapati ada tiga hal penting penyebab banjir bandang.

PJT I menyimpulkan penyempitan lahan di sekitar sungai menjadi penyebab utama. Hal itu terlihat dari penyempitan bantaran Sungai Brantas yang hanya memiliki lebar berkisar 8 meter. Sebab beberapa area pinggir sungai nampak tergerus oleh banjir. “Banjir kemarin akhirnya mengembalikan ukuran awal yang mencapai 10 meter,” beber Direktur Umum PJT I Raymond Valiant Ruritant kepada Jawa Pos Radar Malang.

Faktor kedua yang menyebabkan banjir adalah perubahan tata guna lahan di badan sungai. Raymond menemukan bukti hasil longsoran badan sungai. Badan sungai yang difungsikan sebagai lahan pertanian oleh warga sekitar tak kuat menampung air hujan. Perlu diketahui, akar dari tumbuhan pertanian kurang dalam mencengkeram tanah. Akibatnya, tanah bisa melorot saat akar tumbuhan tak mampu menahan tanah.

Penyebab terakhir dari banjir bandang menurut Raymond adalah kondisi tanah yang tak siap menampung air hujan. Sebab hujan yang berlangsung pada Kamis sore berada di intensitas tinggi. Namun dia menyebut hujan tersebut masih berada dalam normal dan seharusnya tanah bisa menampung air.

”Kami juga masih menganalisis akibat kebakaran hutan pada 2019 silam yang belum bisa dipastikan apakah juga menjadi penyebabnya,” kata Raymond.

Namun, survei yang dilakukan PJT I tersebut belum selesai. Mereka masih menganalisis kembali di tiga titik yang menjadi kesatuan. Tiga titik itu yakni Busung Lathi, Alas Bengking, dan Sumbergondo. Namun dari hasil temuan tersebut, PJT I memperkirakan banjir memang dari alih fungsi lahan. (ulf/adn/abm/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/