alexametrics
21.5 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Vio, Eksportir Bonsai Pengidap Cerebral Palsy Kota Batu Tembus Eropa

Cerebral Palsy tak membatasi gerak Wahyuda Eldin Octaviano. Di atas kursi roda, ia sukses membawa usaha jual beli bonsai milik ayahnya to the next level. Dia sangat memperhatikan sektor manajemen, pemasaran, dan keuangan. Hasilnya, tiap bulan dia bisa membukukan omzet puluhan juta.

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Peribahasa itu cukup tepat menggambarkan aktivitas yang rutin digeluti Wahyuda Eldin Octaviano. Tiap hari, pria berusia 23 tahun tersebut banyak bergelut dengan bonsai, yang sebelumnya dibudidayakan oleh ayahnya, Heri Susanto. ”Tugas saya ada tiga hal. Yakni memperbaiki pemasaran, kemudian manajemen, dan sistem keuangan,” kata dia saat ditemui koran ini di rumahnya, di Jalan Imam Sujono nomor 30, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, beberapa waktu lalu.

Meski harus melakukan kegiatan-kegiatan itu dari atas kursi roda karena gangguan cerebral palsy atau lumpuh otak, dia tak menemui kendala sedikit pun. Untuk pemasaran, dia banyak memanfaatkan marketplace. Selain itu, cara-cara lama seperti menunggu pembeli datang ke rumahnya, juga tetap dilakukan. Begitu juga dengan cara mengikuti pameran bonsai di luar daerah. ”Tetap cara-cara lama itu diikuti, tetapi pemasaran online harus tetap dilakukan untuk mengikuti zaman,” imbuh Vio, sapaan karibnya.

Langkah tersebut juga dia lakukan untuk menyasar kalangan muda. ”Saya juga melihat masa depan. Kalau tidak diperkenalkan kepada anak muda, maka ke depan kami (pelaku bonsai bisa) kehilangan pasar,” ujarnya. Usaha itu pun turut membuahkan hasil. Sejak aktif di dunia marketplace tahun 2019 lalu, setiap bulan dia bisa menghasilkan omzet senilai Rp 50 juta. Namun sejak pandemi Covid-19 merebak, ada sedikit penurunan omzet. Kini, per bulannya dia hanya mendapatkan omzet sekitar Rp 30 juta.

Sisi manajemen juga ditata olehnya. Pada langkah awal, Vio meminta ayahnya untuk dibikinkan CV (Commanditaire Vennootschap) dengan nama Artha Bonsai Vio. Dengan begitu usahanya bisa lebih jelas dan terstruktur. Itu menjadi titik awalnya untuk mewujudkan cita-cita menjadi eksportir bonsai. Saat ini, ’mimpi’ itu pun sebenarnya sudah mulai terealisasi. Sebab beberapa bonsai di kediamannya sudah diekspor ke beberapa negara. Seperti Belanda, Prancis, Jerman, Malaysia, dan India. Namun saat ini statusnya masih menjadi supplier. ”Karena minimal kirim itu satu kontainer. Nah ke depan kami harus sanggup menjadi eksportir mandiri,” kata dia.

Agar sistem manajemen itu berjalan lancar, Vio juga memperbaiki sistem keuangan usaha bonsai keluarganya. Menurut dia, selama ini kelemahan para pengusaha bonsai adalah tidak bisa mengatur pemasukan dan pengeluaran. Sehingga tidak ada laporan keuangan yang lebih rinci. ”Padahal itu penting, jangan sampai semua keuntungan yang diperoleh untuk kebutuhan perut. Itu harus diputar,” kata dia.

Di luar usahanya, laki-laki yang menjadi salah satu Duta Petani Milenial Indonesia itu juga aktif mentransformasi ilmunya. Seperti dilakukannya beberapa waktu lalu, saat menjadi pemateri dalam bimbingan teknik (bimtek) online yang digelar Kementerian Pertanian (Kementan). Dalam bimtek itu, ada sekitar 500 petani muda dari seluruh Indonesia yang ambil bagian. Temanya adalah ’budidaya bonsai di lahan sempit dengan harga selangit’.

”Ke depan saya bersama Dinas Pertanian Kota Batu akan berkeliling ke desa dan kelurahan untuk memperkenalkan manajemen pemasaran bonsai,” kata dia.

Beberapa waktu lalu, saat Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo berkunjung ke Kota Batu, dia sempat berbincang sebentar. Vio bercerita bahwa saat itu Mentan bertanya soal apa yang diinginkannya ke depan. Dia pun meminta kemudahan regulasi ekspor tanaman hias. Selama ini dia menyebut bila kegiatan ekspor kerap terkendala aturan jenis tanaman yang dilindungi. Sehingga tidak bisa dikirim ke luar negeri.

”Jawaban Pak Menteri nanti akan dibina di bawah naungan Dirjen Hortikultura Kementan,” katanya. Dia mencontohkan salah satu bonsai yang tidak bisa dikirim ke luar negeri yakni jenis cemara udang, yang dianggap tanaman endemik asal Madura. Saat ini, upaya yang intens dilakukannya yakni memetakan jenis tanaman bonsai yang diperbolehkan untuk dikirim ke luar negeri.

Meski tidak berkecimpung merawat bonsai setiap hari, Vio tetap menguasai teknik dan ilmu dalam dunia tersebut. ”Bentuk bonsai yang sempurna umumnya didapatkan setelah bertahun-tahun,” kata dia. Alasan itulah yang membuat harga bonsai bisa setinggi langit. Disebut Vio, untuk bisa membuat bonsai menjadi bentuk yang diinginkan, kesabaran menjadi kuncinya. Sebab prosesnya memang cukup detail. Keseimbangan antara ukuran batang, cabang, anak cabang, hingga cucu ranting harus diperhatikan. Selain ilmu botani, juga dibutuhkan jiwa seni dalam membuat karya bonsai yang apik. (nug/by/rmc)

Cerebral Palsy tak membatasi gerak Wahyuda Eldin Octaviano. Di atas kursi roda, ia sukses membawa usaha jual beli bonsai milik ayahnya to the next level. Dia sangat memperhatikan sektor manajemen, pemasaran, dan keuangan. Hasilnya, tiap bulan dia bisa membukukan omzet puluhan juta.

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Peribahasa itu cukup tepat menggambarkan aktivitas yang rutin digeluti Wahyuda Eldin Octaviano. Tiap hari, pria berusia 23 tahun tersebut banyak bergelut dengan bonsai, yang sebelumnya dibudidayakan oleh ayahnya, Heri Susanto. ”Tugas saya ada tiga hal. Yakni memperbaiki pemasaran, kemudian manajemen, dan sistem keuangan,” kata dia saat ditemui koran ini di rumahnya, di Jalan Imam Sujono nomor 30, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, beberapa waktu lalu.

Meski harus melakukan kegiatan-kegiatan itu dari atas kursi roda karena gangguan cerebral palsy atau lumpuh otak, dia tak menemui kendala sedikit pun. Untuk pemasaran, dia banyak memanfaatkan marketplace. Selain itu, cara-cara lama seperti menunggu pembeli datang ke rumahnya, juga tetap dilakukan. Begitu juga dengan cara mengikuti pameran bonsai di luar daerah. ”Tetap cara-cara lama itu diikuti, tetapi pemasaran online harus tetap dilakukan untuk mengikuti zaman,” imbuh Vio, sapaan karibnya.

Langkah tersebut juga dia lakukan untuk menyasar kalangan muda. ”Saya juga melihat masa depan. Kalau tidak diperkenalkan kepada anak muda, maka ke depan kami (pelaku bonsai bisa) kehilangan pasar,” ujarnya. Usaha itu pun turut membuahkan hasil. Sejak aktif di dunia marketplace tahun 2019 lalu, setiap bulan dia bisa menghasilkan omzet senilai Rp 50 juta. Namun sejak pandemi Covid-19 merebak, ada sedikit penurunan omzet. Kini, per bulannya dia hanya mendapatkan omzet sekitar Rp 30 juta.

Sisi manajemen juga ditata olehnya. Pada langkah awal, Vio meminta ayahnya untuk dibikinkan CV (Commanditaire Vennootschap) dengan nama Artha Bonsai Vio. Dengan begitu usahanya bisa lebih jelas dan terstruktur. Itu menjadi titik awalnya untuk mewujudkan cita-cita menjadi eksportir bonsai. Saat ini, ’mimpi’ itu pun sebenarnya sudah mulai terealisasi. Sebab beberapa bonsai di kediamannya sudah diekspor ke beberapa negara. Seperti Belanda, Prancis, Jerman, Malaysia, dan India. Namun saat ini statusnya masih menjadi supplier. ”Karena minimal kirim itu satu kontainer. Nah ke depan kami harus sanggup menjadi eksportir mandiri,” kata dia.

Agar sistem manajemen itu berjalan lancar, Vio juga memperbaiki sistem keuangan usaha bonsai keluarganya. Menurut dia, selama ini kelemahan para pengusaha bonsai adalah tidak bisa mengatur pemasukan dan pengeluaran. Sehingga tidak ada laporan keuangan yang lebih rinci. ”Padahal itu penting, jangan sampai semua keuntungan yang diperoleh untuk kebutuhan perut. Itu harus diputar,” kata dia.

Di luar usahanya, laki-laki yang menjadi salah satu Duta Petani Milenial Indonesia itu juga aktif mentransformasi ilmunya. Seperti dilakukannya beberapa waktu lalu, saat menjadi pemateri dalam bimbingan teknik (bimtek) online yang digelar Kementerian Pertanian (Kementan). Dalam bimtek itu, ada sekitar 500 petani muda dari seluruh Indonesia yang ambil bagian. Temanya adalah ’budidaya bonsai di lahan sempit dengan harga selangit’.

”Ke depan saya bersama Dinas Pertanian Kota Batu akan berkeliling ke desa dan kelurahan untuk memperkenalkan manajemen pemasaran bonsai,” kata dia.

Beberapa waktu lalu, saat Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo berkunjung ke Kota Batu, dia sempat berbincang sebentar. Vio bercerita bahwa saat itu Mentan bertanya soal apa yang diinginkannya ke depan. Dia pun meminta kemudahan regulasi ekspor tanaman hias. Selama ini dia menyebut bila kegiatan ekspor kerap terkendala aturan jenis tanaman yang dilindungi. Sehingga tidak bisa dikirim ke luar negeri.

”Jawaban Pak Menteri nanti akan dibina di bawah naungan Dirjen Hortikultura Kementan,” katanya. Dia mencontohkan salah satu bonsai yang tidak bisa dikirim ke luar negeri yakni jenis cemara udang, yang dianggap tanaman endemik asal Madura. Saat ini, upaya yang intens dilakukannya yakni memetakan jenis tanaman bonsai yang diperbolehkan untuk dikirim ke luar negeri.

Meski tidak berkecimpung merawat bonsai setiap hari, Vio tetap menguasai teknik dan ilmu dalam dunia tersebut. ”Bentuk bonsai yang sempurna umumnya didapatkan setelah bertahun-tahun,” kata dia. Alasan itulah yang membuat harga bonsai bisa setinggi langit. Disebut Vio, untuk bisa membuat bonsai menjadi bentuk yang diinginkan, kesabaran menjadi kuncinya. Sebab prosesnya memang cukup detail. Keseimbangan antara ukuran batang, cabang, anak cabang, hingga cucu ranting harus diperhatikan. Selain ilmu botani, juga dibutuhkan jiwa seni dalam membuat karya bonsai yang apik. (nug/by/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/