alexametrics
21.5 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Kolam Pengolahan Tinja Rawan Longsor, DPRD Kota Batu Lakukan Ini

KOTA BATU – Fasilitas kolam milik Unit Pelaksana Tugas Pengelolaan Air Limbah Daerah (UPT PALD) Kota Batu kondisinya memprihatinkan. Lokasinya yang dekat dengan TPA Tlekung itu mengalami penurunan tanah. Sehingga ketika terjadi longsor, tempat penampungan tinja bisa berpotensi tumpah ke tumpukan sampah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Komisi B dan C Kota Batu saat melakukan kunjungan lapangan ke TPA Tlekung Kamis (11/2). Sebanyak 8 anggota dewan tersebut juga meninjau UPT PALD. Sebab di area kolam fakultatif berpotensi terjadinya longsor.

Anggota Komisi C DPRD Kota Batu Didik Machmud mengatakan, pihaknya akan mengadakan pertemuan kembali dengan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan sebagai OPD yang menaungi. Dinas tersebut juga telah melakukan kajian terhadap adanya bahaya longsor di kolam fakultatif. Karena itu, perlu segera dilakukan perbaikan agar kolam tak sampai terkena longsor. “Untuk anggarannya baru bisa dialokasikan saat PAK (Perubahan Anggaran Keuangan), tetapi perencanaannya sudah masuk dalam APBD tahun 2021,” katanya. Dia memperkirakan kebutuhan anggaran untuk pembenahan kolam fakultatif sekitar Rp 1 miliar lebih.

Saat ditanya apakah bangunan tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi saat pembangunan ? Dia menjawab pembangunan UPT PALD dilakukan oleh Pemprov Jatim. Saat itu Pemkot Batu hanya menyediakan lahan saja.

Didik menilai pelayanan UPT PALD belum maksimal sejak mulai beroperasi tahun 2016 lalu. Sebab selama ini pelayanan penyedotan tinja hanya dilakukan di tempat fasilitas umum saja seperti tempat ibadah, panti asuhan, perkantoran pemerintahan atau rumah dengan pemiliknya tergolong kurang mampu. “Selama ini belum ada perdanya, sehingga ranah pelayanannya hanya untuk kegiatan sosial,” kata politisi Golkar itu.

Dia juga menilai perlunya penyiapan peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia) untuk pengelolaannya. Sebab saat ini hanya ada 11 petugas yang bekerja di tempat itu. Dan 10 petugas diantaranya berstatus Tenaga Harian Lepas. “Sehingga dengan adanya penambahan SDM diharapkan pengelolaannya bisa maksimal,” katanya. Perlu diketahui, setiap kali penyedotan tinja dalam satu mobil memerlukan tiga petugas. Sedangkan saat ini UPT tersebut memiliki 4 mobil penyedot tinja.

UPT PALD sendiri sudah beroperasi sejak tahun 2016 lalu. Namun sayangnya setiap tahun rata-rata tercatat hanya melayani 100 pelayanan sedot tinja. Sedangkan selama tahun 2020 lalu hanya melakukan 43 kegiatan penyedotan tinja. Rencananya setiap penyedotan tinja ditempat-tempat usaha seperti hotel dan restoran atau perumahan akan ditarik retribusi senilai Rp 350 ribu dalam sekali sedot.

Sedangkan Sekretaris Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kota Batu, Bangun Yulianto mengatakan, di area kolam falkuatif telah terjadi penurunan tanah. Sehingga untuk penanganan jangka pendek diperlukan penguatan lereng. “Untuk jangka panjang diperlukan penyesuaian bangunan kembali dengan melakukan perencanaan terlebih dahulu,” katanya.

Sementara Kepala UPT PALD, Retnowati mengatakan sebenarnya satu mobil penyedot tinja dalam sehari dapat melakukan tiga kali penyedotan. Luas lahan bangunan keseluruhan area UPT PALD sekitar 4.000 meter persegi. Untuk proses pengelolaan limbah, seperti penampungan endapan tinja, kemudian memisahkan antara air dan ampas tinja. “Lalu sisa ampasnya itu dijadikan pupuk kompos dan airnya dibuang ke tanah,” katanya.

Pewarta: Nugraha Perdana

KOTA BATU – Fasilitas kolam milik Unit Pelaksana Tugas Pengelolaan Air Limbah Daerah (UPT PALD) Kota Batu kondisinya memprihatinkan. Lokasinya yang dekat dengan TPA Tlekung itu mengalami penurunan tanah. Sehingga ketika terjadi longsor, tempat penampungan tinja bisa berpotensi tumpah ke tumpukan sampah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Komisi B dan C Kota Batu saat melakukan kunjungan lapangan ke TPA Tlekung Kamis (11/2). Sebanyak 8 anggota dewan tersebut juga meninjau UPT PALD. Sebab di area kolam fakultatif berpotensi terjadinya longsor.

Anggota Komisi C DPRD Kota Batu Didik Machmud mengatakan, pihaknya akan mengadakan pertemuan kembali dengan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan sebagai OPD yang menaungi. Dinas tersebut juga telah melakukan kajian terhadap adanya bahaya longsor di kolam fakultatif. Karena itu, perlu segera dilakukan perbaikan agar kolam tak sampai terkena longsor. “Untuk anggarannya baru bisa dialokasikan saat PAK (Perubahan Anggaran Keuangan), tetapi perencanaannya sudah masuk dalam APBD tahun 2021,” katanya. Dia memperkirakan kebutuhan anggaran untuk pembenahan kolam fakultatif sekitar Rp 1 miliar lebih.

Saat ditanya apakah bangunan tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi saat pembangunan ? Dia menjawab pembangunan UPT PALD dilakukan oleh Pemprov Jatim. Saat itu Pemkot Batu hanya menyediakan lahan saja.

Didik menilai pelayanan UPT PALD belum maksimal sejak mulai beroperasi tahun 2016 lalu. Sebab selama ini pelayanan penyedotan tinja hanya dilakukan di tempat fasilitas umum saja seperti tempat ibadah, panti asuhan, perkantoran pemerintahan atau rumah dengan pemiliknya tergolong kurang mampu. “Selama ini belum ada perdanya, sehingga ranah pelayanannya hanya untuk kegiatan sosial,” kata politisi Golkar itu.

Dia juga menilai perlunya penyiapan peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia) untuk pengelolaannya. Sebab saat ini hanya ada 11 petugas yang bekerja di tempat itu. Dan 10 petugas diantaranya berstatus Tenaga Harian Lepas. “Sehingga dengan adanya penambahan SDM diharapkan pengelolaannya bisa maksimal,” katanya. Perlu diketahui, setiap kali penyedotan tinja dalam satu mobil memerlukan tiga petugas. Sedangkan saat ini UPT tersebut memiliki 4 mobil penyedot tinja.

UPT PALD sendiri sudah beroperasi sejak tahun 2016 lalu. Namun sayangnya setiap tahun rata-rata tercatat hanya melayani 100 pelayanan sedot tinja. Sedangkan selama tahun 2020 lalu hanya melakukan 43 kegiatan penyedotan tinja. Rencananya setiap penyedotan tinja ditempat-tempat usaha seperti hotel dan restoran atau perumahan akan ditarik retribusi senilai Rp 350 ribu dalam sekali sedot.

Sedangkan Sekretaris Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kota Batu, Bangun Yulianto mengatakan, di area kolam falkuatif telah terjadi penurunan tanah. Sehingga untuk penanganan jangka pendek diperlukan penguatan lereng. “Untuk jangka panjang diperlukan penyesuaian bangunan kembali dengan melakukan perencanaan terlebih dahulu,” katanya.

Sementara Kepala UPT PALD, Retnowati mengatakan sebenarnya satu mobil penyedot tinja dalam sehari dapat melakukan tiga kali penyedotan. Luas lahan bangunan keseluruhan area UPT PALD sekitar 4.000 meter persegi. Untuk proses pengelolaan limbah, seperti penampungan endapan tinja, kemudian memisahkan antara air dan ampas tinja. “Lalu sisa ampasnya itu dijadikan pupuk kompos dan airnya dibuang ke tanah,” katanya.

Pewarta: Nugraha Perdana

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/