alexametrics
21 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Susul Bantengan, DPRD Kota Batu Usul Ngudek Jenang Jadi WBTB

KOTA BATU – Bagi orang Jawa, prosesi mengaduk jenang telah menjadi tradisi turun temurun bagi warga desa ataupun kelurahan. Tidak terkecuali di Kota Batu. Kegiatan yang syarat nilai budaya tersebut dilakukan setiap peringatan tahun baru Islam. Dalam sekali kegiatan, biasanya bisa menghasilkan puluhan kilogram jenang dengan beberapa kenceng (tempat memasak).

Hal inilah yang melatarbelakangi Ketua Komisi B DPRD Kota Batu Hari Danah Wahyono untuk mengusulkan tradisi tersebut menjadi warisan budaya tak benda (WBTB).

Kaji Nanang-sapaan akrabnya-mengatakan, jenang merupakan makanan khas tradisional Jawa seperti dodol. Untuk tradisi mengaduk jenang di Kota Batu dia tidak tahu sejak kapan dilakukan. “Tetapi ketika saya usia muda itu dari dulu sudah ada, bapak dan ibu saya juga ngudek jenang setiap tahunnya ketika selamatan desa,” katanya. Saat ini diketahui, biasanya warga Batu yang setiap tahun melakukan tradisi mengaduk jenang di kawasan Songgoriti, Kelurahan Songgokerto dan Desa Tulungrejo.

Namun Kaji Nanang berharap, Pemkot Batu melalui dinas pariwisata dapat mendorong terwujudnya tradisi ngudek jenang menjadi WBTB. Di Kota Batu saat ini sudah ada dua WBTB. Yakni kesenian bantengan dan jaran kepang yang diakui oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Riset Teknologi (Kemendikbudristek). “Tahun lalu itu sudah ada dua WBTB, bagus sekali, kalau bisa ngudek jenang bisa masuk juga,” katanya.

Terpisah, Kasi Sejarah Purbakala Disparta Kota Batu Noerad AP mengatakan, sebenarnya disparta sejak tahun lalu sedang mengupayakan ada lima kesenian di Kota Batu menjadi WBTB. Selain bantengan dan jaran kepang, yakni kesenian sanduk dan lainnya. Dia menyebut, proses mengajukan warisan budaya menjadi WBTB memerlukan waktu yang tidak sebentar.

“Butuh berbagai dokumentasi, narasi, foto yang menunjukkan sejarahnya termasuk kalau ngudek jenang bisa saja tetapi mungkin ke depannya,” jelas Noerad. (nug/lid)

KOTA BATU – Bagi orang Jawa, prosesi mengaduk jenang telah menjadi tradisi turun temurun bagi warga desa ataupun kelurahan. Tidak terkecuali di Kota Batu. Kegiatan yang syarat nilai budaya tersebut dilakukan setiap peringatan tahun baru Islam. Dalam sekali kegiatan, biasanya bisa menghasilkan puluhan kilogram jenang dengan beberapa kenceng (tempat memasak).

Hal inilah yang melatarbelakangi Ketua Komisi B DPRD Kota Batu Hari Danah Wahyono untuk mengusulkan tradisi tersebut menjadi warisan budaya tak benda (WBTB).

Kaji Nanang-sapaan akrabnya-mengatakan, jenang merupakan makanan khas tradisional Jawa seperti dodol. Untuk tradisi mengaduk jenang di Kota Batu dia tidak tahu sejak kapan dilakukan. “Tetapi ketika saya usia muda itu dari dulu sudah ada, bapak dan ibu saya juga ngudek jenang setiap tahunnya ketika selamatan desa,” katanya. Saat ini diketahui, biasanya warga Batu yang setiap tahun melakukan tradisi mengaduk jenang di kawasan Songgoriti, Kelurahan Songgokerto dan Desa Tulungrejo.

Namun Kaji Nanang berharap, Pemkot Batu melalui dinas pariwisata dapat mendorong terwujudnya tradisi ngudek jenang menjadi WBTB. Di Kota Batu saat ini sudah ada dua WBTB. Yakni kesenian bantengan dan jaran kepang yang diakui oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Riset Teknologi (Kemendikbudristek). “Tahun lalu itu sudah ada dua WBTB, bagus sekali, kalau bisa ngudek jenang bisa masuk juga,” katanya.

Terpisah, Kasi Sejarah Purbakala Disparta Kota Batu Noerad AP mengatakan, sebenarnya disparta sejak tahun lalu sedang mengupayakan ada lima kesenian di Kota Batu menjadi WBTB. Selain bantengan dan jaran kepang, yakni kesenian sanduk dan lainnya. Dia menyebut, proses mengajukan warisan budaya menjadi WBTB memerlukan waktu yang tidak sebentar.

“Butuh berbagai dokumentasi, narasi, foto yang menunjukkan sejarahnya termasuk kalau ngudek jenang bisa saja tetapi mungkin ke depannya,” jelas Noerad. (nug/lid)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/