alexametrics
22.1 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Tiga Bulan Nyawa 17 Warga Kota Batu Terengut Covid-19

KOTA BATU-Serupa dengan Kota Malang, di Kota Batu jumlah penderita hipertensi juga mendominasi kasus komorbid. Dinkes Kota Batu bahkan mencatatnya lebih rinci. Total ada 12.635 warga yang punya tekanan darah tinggi.

Di sisi lain, mereka juga mencatat sudah ada 17 warga yang meninggal akibat Covid-19. Jumlah itu terangkum mulai awal tahun sampai kemarin (13/3). Semuanya diketahui meninggal akibat adanya komorbid. Seperti penyakit jantung dan hipertensi. Bila ditotal sejak awal pandemi sampai tahun ini, tercatat ada 285 warga yang pasien usai terkonfirmasi positif Covid-19.

Dari jumlah itu, 80 persen di antaranya, atau 228 warga, diketahui memiliki komorbid. ”Komorbid itu sebenarnya tidak hanya yang memiliki penyakit bawaan saja. Sebab komorbid itu juga bisa muncul karena infeksi virus Covid-19,” kata Kepala Dinkes Kota Batu drg Kartika Tri Sulandri. Sebagai upaya pencegahan, pihaknya terus menggalakkan sejumlah program. Seperti gerakan hidup sehat (Germas), posbindu, posyandu lansia, dan program pengelolaan penyakit kronis (prolanis). ”Jadi kami memanfaatkan giat-giat itu untuk terjun langsung dan aktif mengingatkan tentang kesehatan. Protokol kesehatan (prokes) kami tekankan di sana,” imbuh dia.

 

Secara umum, dia juga menyebut bila warga yang punya penyakit penyerta memang berpotensi mengalami gejala yang lebih berat ketika terinfeksi Covid-19. ”Itu bisa terjadi karena orang dengan penyakit komorbid memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah daripada orang tanpa penyakit komorbid,” kata dia. Selain itu, warga yang memiliki komorbid kemungkinan juga sudah mengalami komplikasi atau kerusakan organ akibat penyakit yang dideritanya.

Pada pasien Covid-19 yang memiliki komorbid, Kartika menyebut diperlukan penanganan dan pemantauan yang lebih ketat. ”Selain dengan memberikan pengobatan dan perawatan Covid-19, dokter juga perlu menangani penyakit komorbid pasien,” imbuhnya. Langkah itu dilakukan agar pasien tidak berisiko mengalami komplikasi Covid-19 yang berbahaya. Misalnya gagal napas atau mengalami badai sitokin.

Sebagaimana diberitakan seblumnya, kasus Covid-19 memang mengalami tren penurunan. Meski demikian kewaspadaan tetap harus dijunjung tinggi tiga pemerintah daerah (pemda) di Malang raya. Sebab jumlah warga yang memiliki komorbid atau penyakit penyerta, cukup banyak. Mengingat warga yang punya komorbid adalah yang paling rentan meninggal ketika terinfeksi Covid-19. Dari data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, mayoritas warga yang memiliki komorbid itu menderita hipertensi, atau tekanan darah tinggi. Data itu berlaku untuk tiga wilayah di Malang raya. (adn/fif/fin/by)

KOTA BATU-Serupa dengan Kota Malang, di Kota Batu jumlah penderita hipertensi juga mendominasi kasus komorbid. Dinkes Kota Batu bahkan mencatatnya lebih rinci. Total ada 12.635 warga yang punya tekanan darah tinggi.

Di sisi lain, mereka juga mencatat sudah ada 17 warga yang meninggal akibat Covid-19. Jumlah itu terangkum mulai awal tahun sampai kemarin (13/3). Semuanya diketahui meninggal akibat adanya komorbid. Seperti penyakit jantung dan hipertensi. Bila ditotal sejak awal pandemi sampai tahun ini, tercatat ada 285 warga yang pasien usai terkonfirmasi positif Covid-19.

Dari jumlah itu, 80 persen di antaranya, atau 228 warga, diketahui memiliki komorbid. ”Komorbid itu sebenarnya tidak hanya yang memiliki penyakit bawaan saja. Sebab komorbid itu juga bisa muncul karena infeksi virus Covid-19,” kata Kepala Dinkes Kota Batu drg Kartika Tri Sulandri. Sebagai upaya pencegahan, pihaknya terus menggalakkan sejumlah program. Seperti gerakan hidup sehat (Germas), posbindu, posyandu lansia, dan program pengelolaan penyakit kronis (prolanis). ”Jadi kami memanfaatkan giat-giat itu untuk terjun langsung dan aktif mengingatkan tentang kesehatan. Protokol kesehatan (prokes) kami tekankan di sana,” imbuh dia.

 

Secara umum, dia juga menyebut bila warga yang punya penyakit penyerta memang berpotensi mengalami gejala yang lebih berat ketika terinfeksi Covid-19. ”Itu bisa terjadi karena orang dengan penyakit komorbid memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah daripada orang tanpa penyakit komorbid,” kata dia. Selain itu, warga yang memiliki komorbid kemungkinan juga sudah mengalami komplikasi atau kerusakan organ akibat penyakit yang dideritanya.

Pada pasien Covid-19 yang memiliki komorbid, Kartika menyebut diperlukan penanganan dan pemantauan yang lebih ketat. ”Selain dengan memberikan pengobatan dan perawatan Covid-19, dokter juga perlu menangani penyakit komorbid pasien,” imbuhnya. Langkah itu dilakukan agar pasien tidak berisiko mengalami komplikasi Covid-19 yang berbahaya. Misalnya gagal napas atau mengalami badai sitokin.

Sebagaimana diberitakan seblumnya, kasus Covid-19 memang mengalami tren penurunan. Meski demikian kewaspadaan tetap harus dijunjung tinggi tiga pemerintah daerah (pemda) di Malang raya. Sebab jumlah warga yang memiliki komorbid atau penyakit penyerta, cukup banyak. Mengingat warga yang punya komorbid adalah yang paling rentan meninggal ketika terinfeksi Covid-19. Dari data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, mayoritas warga yang memiliki komorbid itu menderita hipertensi, atau tekanan darah tinggi. Data itu berlaku untuk tiga wilayah di Malang raya. (adn/fif/fin/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/