alexametrics
30.6 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Mencicipi Rawon Legendaris Sejak 1960 Buatan Hj Siti

KOTA BATU – Jika berkunjung ke Kota Batu, jangan lupa mampir ke Warung Sidik yang berada di Jalan Agus Salim Nomor 47. Meski tempatnya tidak seperti rumah makan lainnya, tapi jangan salah, pengunjungnya bisa dikatakan berasal kelas menengah ke atas. Rata-rata mereka yang datang menggunakan kendaraan bermobil.
Warung Sidik sudah berdiri sejak tahun 1960-an. Awalnya, warung ini berada di barat alun-alun Kota Batu. Tetapi sejak tahun 1984, pengelola pindah ke tempat yang sekarang. Dalam momen lebaran seperti saat ini, warung tersebut ramai didatangi pengunjung. Ini bisa terlihat dari tempat parkiran yang tidak luas dipenuhi mobil yang rata-rata bernopol N sampai ke jalan-jalan.
Salah satu pelanggan setia bernama Bambang Herawan mengatakan, sejak tahun 1990 lalu dirinya sudah menjadi langganan berbagai menu yang ada di warung sederhana ini. Warung tersebut menyajikan makanan khas Jawa, seperti rawon, krengsengan dan soto. “Ini sudah generasi ketiga yang mengelola, nah yang mengelola pertama kali Pak Sidik dengan istrinya bernama Hj Siti, sekarang diteruskan oleh anak-anaknya,” katanya sembari menikmati sepiring rawon yang ada di meja makan.
Bambang mengatakan, hampir setiap satu atau dua bulan sekali mampir ke warung tersebut. Warga Kelurahan Sisir, Kota Batu itu mengungkapkan, menu rawon menjadi favorit yang paling sering disantapnya karena memiliki rasa yang berbeda dari lainnya. “Nggak tahu ya, kok mesti setiap beberapa waktu kepingin kesini terus jadinya,” katanya. Tidak jarang, pejabat daerah setempat seperti dari kalangan anggota DPRD Kota Batu juga sering berkunjung untuk sekedar makan siang.
Saat disajikan, porsi rawonnya tidak terlalu besar, hanya berisi nasi dan kuah pekat berisi kecambah atau toge serta beberapa potong daging. Satu porsi rawon dihargai Rp 22 ribu. Ada campuran kluwek, bawang, kunir, ketumbar, kemiri, yang menyatu membentuk rasa legit. “Kemudian disini gurih dan sedikit asin rawonnya, jadi pas di lidah saya,” katanya.
Sedangkan untuk soto daging, sama seperti rawon, disajikan dengan dicampur nasi. Namun untuk soto, topingnya terdiri dari babat dan daging, serta soun dan toge. Harga per porsinya Rp 22 ribu. Biasanya Bambang menikmati sajian sepiring rawon bersama teh tawar panas. “Segar saja, pedas di lidah bisa langsung ilang,” katanya.
Pewarta : Nugraha Perdana
KOTA BATU – Jika berkunjung ke Kota Batu, jangan lupa mampir ke Warung Sidik yang berada di Jalan Agus Salim Nomor 47. Meski tempatnya tidak seperti rumah makan lainnya, tapi jangan salah, pengunjungnya bisa dikatakan berasal kelas menengah ke atas. Rata-rata mereka yang datang menggunakan kendaraan bermobil.
Warung Sidik sudah berdiri sejak tahun 1960-an. Awalnya, warung ini berada di barat alun-alun Kota Batu. Tetapi sejak tahun 1984, pengelola pindah ke tempat yang sekarang. Dalam momen lebaran seperti saat ini, warung tersebut ramai didatangi pengunjung. Ini bisa terlihat dari tempat parkiran yang tidak luas dipenuhi mobil yang rata-rata bernopol N sampai ke jalan-jalan.
Salah satu pelanggan setia bernama Bambang Herawan mengatakan, sejak tahun 1990 lalu dirinya sudah menjadi langganan berbagai menu yang ada di warung sederhana ini. Warung tersebut menyajikan makanan khas Jawa, seperti rawon, krengsengan dan soto. “Ini sudah generasi ketiga yang mengelola, nah yang mengelola pertama kali Pak Sidik dengan istrinya bernama Hj Siti, sekarang diteruskan oleh anak-anaknya,” katanya sembari menikmati sepiring rawon yang ada di meja makan.
Bambang mengatakan, hampir setiap satu atau dua bulan sekali mampir ke warung tersebut. Warga Kelurahan Sisir, Kota Batu itu mengungkapkan, menu rawon menjadi favorit yang paling sering disantapnya karena memiliki rasa yang berbeda dari lainnya. “Nggak tahu ya, kok mesti setiap beberapa waktu kepingin kesini terus jadinya,” katanya. Tidak jarang, pejabat daerah setempat seperti dari kalangan anggota DPRD Kota Batu juga sering berkunjung untuk sekedar makan siang.
Saat disajikan, porsi rawonnya tidak terlalu besar, hanya berisi nasi dan kuah pekat berisi kecambah atau toge serta beberapa potong daging. Satu porsi rawon dihargai Rp 22 ribu. Ada campuran kluwek, bawang, kunir, ketumbar, kemiri, yang menyatu membentuk rasa legit. “Kemudian disini gurih dan sedikit asin rawonnya, jadi pas di lidah saya,” katanya.
Sedangkan untuk soto daging, sama seperti rawon, disajikan dengan dicampur nasi. Namun untuk soto, topingnya terdiri dari babat dan daging, serta soun dan toge. Harga per porsinya Rp 22 ribu. Biasanya Bambang menikmati sajian sepiring rawon bersama teh tawar panas. “Segar saja, pedas di lidah bisa langsung ilang,” katanya.
Pewarta : Nugraha Perdana

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/