alexametrics
26.5 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Waspadai Gempa Lebih Besar, BMKG Sarankan Ini Ke Pemkot Batu

KOTA BATU – Antisipasi gempa susulan harus dilakukan. Sebab, ada kemungkinan akan ada gempa kembali terjadi, bahkan lebih besar dari kejadian pada 10 April 2021 lalu.

Wanti-wanti itu disampaikan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Prof Ir Dwikorita Karnawati MSc PhD saat berkunjung ke Ruang Rapat Utama Balai Kota Among Tani, Kota Batu, kemarin (14/4). Rombongan BMKG diterima Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa kedatangan rombongannya untuk survei dan tindak lanjut lapangan pascagempa. Dia menanyakan terkait dampak apa saja yang terjadi. Menurut dia, langkah terbaik untuk mengatasi bencana adalah dengan melakukan mitigasi atau pencegahan.

Pencegahan tersebut berupa pemetaan wilayah pantai, pemetaan mikrozonasi di wilayah terdampak gempa untuk rekomendasi bangunan, serta peringatan dini.

”Untuk membantu masyarakat umum dan pemerintah mengetahui tentang peringatan dini, diharapkan untuk meng-install aplikasi info BMKG. Mohon Pemkot Batu mengawal peringatan dini tersebut untuk mengurangi dampak bencana,” katanya.

Secara teknis, menurut dia, gedung-gedung seperti perkantoran dan hotel di Kota Batu sudah sesuai dengan standar yang ada. Dwikorita menyarankan kepada dinas terkait untuk melakukan pengecekan terhadap gedung-gedung yang ada. ”Seperti lainnya, rumah sakit dan sekolah gedungnya harus tahan terhadap gempa,” katanya.

Dua bulan sebelum kejadian gempa beberapa waktu lalu, BMKG sudah melakukan pemetaan bencana. Diperkirakan melalui kajian yang ada, akan ada gempa bumi lebih dahsyat tetapi tidak dapat diprediksi waktunya. Tepatnya di 200 kilometer tengah laut pantai selatan yang mencapai 8 skala Richter.

Dia juga merekomendasikan ada tiga hal terkait mitigasi bencana yang harus disiapkan. Di antaranya seperti dinas terkait membuat regulasi tentang standar perumahan karena Kota Batu merupakan daerah pegunungan dan rawan longsor. Kemudian membuat peta tata ruang kota terkait daerah mana saja yang tidak diperbolehkan ada bangunan.

”Lalu latihan rutin oleh masyarakat terkait cara-cara menghadapi gempa,” katanya.

Terkait dengan kerawanan longsor yang juga bisa dipengaruhi oleh gempa, pihaknya menyarankan adanya alat early warning system sepanjang jalan protokol yang berbahaya. Sehingga dapat mendeteksi potensi gerak tanah dan longsor. Contohnya seperti di Jalan Brigjen Moh Manan atau kawasan Payung.
Sedangkan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko menyampaikan Kota Batu tidak terlalu terdampak oleh gempa.

”Tetapi Kota Batu rentan akan bencana puting beliung, longsor, dan kebakaran hutan,” katanya. Dia berharap dari hasil pertemuan tersebut dapat menjadi masukan yang baik dari BMKG sehingga ke depannya bisa diimplementasikan di Kota Batu. (nug/abm)

KOTA BATU – Antisipasi gempa susulan harus dilakukan. Sebab, ada kemungkinan akan ada gempa kembali terjadi, bahkan lebih besar dari kejadian pada 10 April 2021 lalu.

Wanti-wanti itu disampaikan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Prof Ir Dwikorita Karnawati MSc PhD saat berkunjung ke Ruang Rapat Utama Balai Kota Among Tani, Kota Batu, kemarin (14/4). Rombongan BMKG diterima Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa kedatangan rombongannya untuk survei dan tindak lanjut lapangan pascagempa. Dia menanyakan terkait dampak apa saja yang terjadi. Menurut dia, langkah terbaik untuk mengatasi bencana adalah dengan melakukan mitigasi atau pencegahan.

Pencegahan tersebut berupa pemetaan wilayah pantai, pemetaan mikrozonasi di wilayah terdampak gempa untuk rekomendasi bangunan, serta peringatan dini.

”Untuk membantu masyarakat umum dan pemerintah mengetahui tentang peringatan dini, diharapkan untuk meng-install aplikasi info BMKG. Mohon Pemkot Batu mengawal peringatan dini tersebut untuk mengurangi dampak bencana,” katanya.

Secara teknis, menurut dia, gedung-gedung seperti perkantoran dan hotel di Kota Batu sudah sesuai dengan standar yang ada. Dwikorita menyarankan kepada dinas terkait untuk melakukan pengecekan terhadap gedung-gedung yang ada. ”Seperti lainnya, rumah sakit dan sekolah gedungnya harus tahan terhadap gempa,” katanya.

Dua bulan sebelum kejadian gempa beberapa waktu lalu, BMKG sudah melakukan pemetaan bencana. Diperkirakan melalui kajian yang ada, akan ada gempa bumi lebih dahsyat tetapi tidak dapat diprediksi waktunya. Tepatnya di 200 kilometer tengah laut pantai selatan yang mencapai 8 skala Richter.

Dia juga merekomendasikan ada tiga hal terkait mitigasi bencana yang harus disiapkan. Di antaranya seperti dinas terkait membuat regulasi tentang standar perumahan karena Kota Batu merupakan daerah pegunungan dan rawan longsor. Kemudian membuat peta tata ruang kota terkait daerah mana saja yang tidak diperbolehkan ada bangunan.

”Lalu latihan rutin oleh masyarakat terkait cara-cara menghadapi gempa,” katanya.

Terkait dengan kerawanan longsor yang juga bisa dipengaruhi oleh gempa, pihaknya menyarankan adanya alat early warning system sepanjang jalan protokol yang berbahaya. Sehingga dapat mendeteksi potensi gerak tanah dan longsor. Contohnya seperti di Jalan Brigjen Moh Manan atau kawasan Payung.
Sedangkan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko menyampaikan Kota Batu tidak terlalu terdampak oleh gempa.

”Tetapi Kota Batu rentan akan bencana puting beliung, longsor, dan kebakaran hutan,” katanya. Dia berharap dari hasil pertemuan tersebut dapat menjadi masukan yang baik dari BMKG sehingga ke depannya bisa diimplementasikan di Kota Batu. (nug/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/