alexametrics
27 C
Malang
Saturday, 28 May 2022

Pemkot Batu Dorong Satu Desa Satu Batik

KOTA BATU – Kota Batu mencanangkan setiap Satu Desa harus memiliki satu ciri khas batik. Sehingga ke depan, setidaknya Kota Batu memiliki 24 motif batik dengan ciri khas masing-masing desa.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Batu Wibi Asri Punjul Santoso. Dia mengatakan, pemkot Batu memang mencanangkan program satu desa satu batik. “Sudah waktunya di masing-masing desa atau kelurahan mempunyai ciri khas Batik tersendiri,”ungkapnya.

Menurut istri Wakil Wali Kota Batu itu, selama ini baju batik identik dengan orang tua. Namun, di era milenial ini, batik sudah mulai membaur dan cocok digunakan semua kalangan. Oleh karena itu, pihaknya akan bekerjasama dengan desa atau kelurahan yang ada di Kota Batu untuk merealisasikan program satu desa satu ciri khas batik.

Dari pantauannya, sejauh ini sudah ada beberapa desa yang menerapkan hal tersebut. Misalnya, di Dadaprejo yang kebetulan potensinya anggrek, maka mempopulerkan batik anggrek.

Kata dia, Pembatik di Kota Batu sudah seharusnya memanfaatkan potensi desa sebagai ciri khas dari karya batiknya. “Misalnya di Tulungrejo bisa ambil tema batik bambu kuning, karena banyak pohon bambu, tidak terlalu jauh dari lingkungan sekitar,” katanya mencontohkan.

“Saya rasa juga kesadaran warga Kota Batu dalam memakai batik juga sudah cukup tinggi, kalau untuk di lingkungan pemerintahan memang sudah diwajibkan kalau Dinas keluar Kota harus pakai batik khas Kota Batu,” tambahnya.

Terlebih, sebagian pembatik Kota Batu juga sudah mengikuti uji sertifikasi yang diselenggatakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Batik. Dengan demikian, para pembatik Kota Batu memiliki nilai tambah. Sehingga, pangsa pasarnya juga lebih meluas lagi.

Pewarta : Ulfa Afrian

KOTA BATU – Kota Batu mencanangkan setiap Satu Desa harus memiliki satu ciri khas batik. Sehingga ke depan, setidaknya Kota Batu memiliki 24 motif batik dengan ciri khas masing-masing desa.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Batu Wibi Asri Punjul Santoso. Dia mengatakan, pemkot Batu memang mencanangkan program satu desa satu batik. “Sudah waktunya di masing-masing desa atau kelurahan mempunyai ciri khas Batik tersendiri,”ungkapnya.

Menurut istri Wakil Wali Kota Batu itu, selama ini baju batik identik dengan orang tua. Namun, di era milenial ini, batik sudah mulai membaur dan cocok digunakan semua kalangan. Oleh karena itu, pihaknya akan bekerjasama dengan desa atau kelurahan yang ada di Kota Batu untuk merealisasikan program satu desa satu ciri khas batik.

Dari pantauannya, sejauh ini sudah ada beberapa desa yang menerapkan hal tersebut. Misalnya, di Dadaprejo yang kebetulan potensinya anggrek, maka mempopulerkan batik anggrek.

Kata dia, Pembatik di Kota Batu sudah seharusnya memanfaatkan potensi desa sebagai ciri khas dari karya batiknya. “Misalnya di Tulungrejo bisa ambil tema batik bambu kuning, karena banyak pohon bambu, tidak terlalu jauh dari lingkungan sekitar,” katanya mencontohkan.

“Saya rasa juga kesadaran warga Kota Batu dalam memakai batik juga sudah cukup tinggi, kalau untuk di lingkungan pemerintahan memang sudah diwajibkan kalau Dinas keluar Kota harus pakai batik khas Kota Batu,” tambahnya.

Terlebih, sebagian pembatik Kota Batu juga sudah mengikuti uji sertifikasi yang diselenggatakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Batik. Dengan demikian, para pembatik Kota Batu memiliki nilai tambah. Sehingga, pangsa pasarnya juga lebih meluas lagi.

Pewarta : Ulfa Afrian

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/