alexametrics
18.5 C
Malang
Wednesday, 29 June 2022

Sambut Waisak, Umat Buddha Kota Batu Tabur Bunga di TMP

KOTA BATU – Umat Buddha di Kota Batu punya cara tersendiri untuk menyambut perayaan Hari Raya Waisak 2.566 BE (Buddhist Era), yang jatuh pada hari ini (16/5). Kemarin siang (15/5), bertempat di Taman Makam Pahlawan (TMP) di Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, mereka melakukan sesi tabur bunga.

Itu ditujukan sebagai bentuk penghormatan mereka kepada jasa-jasa para pahlawan, khususnya dari Kota Apel. ”Kegiatan tabur bunga ini kami lakukan setelah kegiatan Pindapata atau pemberian dana kepada Biksu Sanggah di Desa Kerukunan Umat Beragama Dusun Ngandat, Desa Mojorejo,” terang Penyuluh Agama Buddha Kota Batu Suwono. Dia memastikan bila perayaan Hari Raya Waisak tahun ini disambut penuh suka cita oleh umat Buddha di Kota Batu. Sebab tahun ini sudah ada sejumlah kelonggaran yang diberikan oleh pemerintah.

Beranjak dari hal tersebut, dia memprediksi bakal ada 200 umat yang merayakan Waisak di Vihara Dhammadipa Arama, yang terletak di Jalan Ir Soekarno, Kota Batu. ”Kalau tahun lalu kami sangat dibatasi sekali. Sehingga hanya 50 orang yang bisa masuk. Tapi untuk tahun ini sudah lebih baik dari tahun lalu,” imbuhnya.

Adanya kelonggaran di tahun ini pula lah yang membuat pihaknya bisa melakukan Pindapata dan tabur bunga di TMP. ”Semua kegiatan itu vakum selama dua tahun akibat pandemi Covid-19. Kali ini sudah bisa dilakukan dan menjadi kedamaian dan kebahagiaan bagi kami, karena ini merupakan tradisi leluhur yang wajib dilestarikan,” bebernya.

Kegiatan Puja Bakti Waisak tahun ini akan dimulai hari ini sejak pukul 09.00. Sebab detikdetik Waisak akan jatuh pada pukul 11.13,46. Pada perayaan Waisak nanti, selain dihadiri oleh 200 umat, bakal ada 3 Biksu yang memimpin. Ada juga sekitar 10 Samanera dan 30 Atthasilani. Suwono menjelaskan bahwa dalam perayaan ritual Waisak, para Umat Buddha sudah menjalankan Atthasila, yang dilakukan satu bulan sebelum Waisak. ”Kami melakukan Atthasila sejak 15 April lalu, dan akan berakhir Minggu malam ini (kemarin),” urainya.

Atthasila itu sendiri merupakan latihan untuk umat Buddha dengan melakukan pendalaman agama. Pendalaman itu dilakukan dengan mengamalkan delapan tingkah laku yang harus dilakukan. ”Latihan ini merupakan latihan kemoralan bagi kami. Yang jelas seperti berpuasa. Sebab ada kegiatan melatih tidak berbohong, tidak mengambil barang milik orang lain, hingga tidak melakukan tindakan pembunuhan terhadap sesama makhluk hidup,” paparnya.

Selain itu, latihan moral juga meliputi anjuran untuk tidak makan dan minum minuman yang memabukkan. Serta melatih tidak makan dan minum setelah setengah hari. Juga melatih diri untuk tidak tidur di tempat yang mewah. Melatih diri untuk tidak melakukan kegiatan yang tidak suci. Melatih diri untuk menghindari ucapan yang tidak benar. Terakhir, melatih diri untuk tidak mendengarkan musik, berhias, dan bernyanyi. (fif/by)

KOTA BATU – Umat Buddha di Kota Batu punya cara tersendiri untuk menyambut perayaan Hari Raya Waisak 2.566 BE (Buddhist Era), yang jatuh pada hari ini (16/5). Kemarin siang (15/5), bertempat di Taman Makam Pahlawan (TMP) di Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, mereka melakukan sesi tabur bunga.

Itu ditujukan sebagai bentuk penghormatan mereka kepada jasa-jasa para pahlawan, khususnya dari Kota Apel. ”Kegiatan tabur bunga ini kami lakukan setelah kegiatan Pindapata atau pemberian dana kepada Biksu Sanggah di Desa Kerukunan Umat Beragama Dusun Ngandat, Desa Mojorejo,” terang Penyuluh Agama Buddha Kota Batu Suwono. Dia memastikan bila perayaan Hari Raya Waisak tahun ini disambut penuh suka cita oleh umat Buddha di Kota Batu. Sebab tahun ini sudah ada sejumlah kelonggaran yang diberikan oleh pemerintah.

Beranjak dari hal tersebut, dia memprediksi bakal ada 200 umat yang merayakan Waisak di Vihara Dhammadipa Arama, yang terletak di Jalan Ir Soekarno, Kota Batu. ”Kalau tahun lalu kami sangat dibatasi sekali. Sehingga hanya 50 orang yang bisa masuk. Tapi untuk tahun ini sudah lebih baik dari tahun lalu,” imbuhnya.

Adanya kelonggaran di tahun ini pula lah yang membuat pihaknya bisa melakukan Pindapata dan tabur bunga di TMP. ”Semua kegiatan itu vakum selama dua tahun akibat pandemi Covid-19. Kali ini sudah bisa dilakukan dan menjadi kedamaian dan kebahagiaan bagi kami, karena ini merupakan tradisi leluhur yang wajib dilestarikan,” bebernya.

Kegiatan Puja Bakti Waisak tahun ini akan dimulai hari ini sejak pukul 09.00. Sebab detikdetik Waisak akan jatuh pada pukul 11.13,46. Pada perayaan Waisak nanti, selain dihadiri oleh 200 umat, bakal ada 3 Biksu yang memimpin. Ada juga sekitar 10 Samanera dan 30 Atthasilani. Suwono menjelaskan bahwa dalam perayaan ritual Waisak, para Umat Buddha sudah menjalankan Atthasila, yang dilakukan satu bulan sebelum Waisak. ”Kami melakukan Atthasila sejak 15 April lalu, dan akan berakhir Minggu malam ini (kemarin),” urainya.

Atthasila itu sendiri merupakan latihan untuk umat Buddha dengan melakukan pendalaman agama. Pendalaman itu dilakukan dengan mengamalkan delapan tingkah laku yang harus dilakukan. ”Latihan ini merupakan latihan kemoralan bagi kami. Yang jelas seperti berpuasa. Sebab ada kegiatan melatih tidak berbohong, tidak mengambil barang milik orang lain, hingga tidak melakukan tindakan pembunuhan terhadap sesama makhluk hidup,” paparnya.

Selain itu, latihan moral juga meliputi anjuran untuk tidak makan dan minum minuman yang memabukkan. Serta melatih tidak makan dan minum setelah setengah hari. Juga melatih diri untuk tidak tidur di tempat yang mewah. Melatih diri untuk tidak melakukan kegiatan yang tidak suci. Melatih diri untuk menghindari ucapan yang tidak benar. Terakhir, melatih diri untuk tidak mendengarkan musik, berhias, dan bernyanyi. (fif/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/