alexametrics
27.4 C
Malang
Friday, 1 July 2022

Hujan Terus, Begini Cara Petani di Kota Batu Cegah Hasil Panen Susut

KOTA BATU – Hujan yang hampir setiap hari melanda membuat para petani harus melakukan perawatan tanaman secara ekstra. Hasil panen bahkan sempat menyusut akibat tanaman kebanyakan air. Seperti yang dialami petani bawang daun, Yono Supomo di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu.

“Untungnya cuma tidak nyiram saja. Lebih banyak rugi sebenarnya,” ungkap pria yang tinggal di Kelurahan Temas tersebut. Penyusutan panen yang dialaminya sekitar 30 persen. Dari lahan seluas seribu meter persegi, biasanya dia bisa memanen 1,5 ton bawang daun. Tapi, sekarang menyusut hanya menjadi sekitar 1 ton saja sekali panen.

Pupuk yang tidak bisa terserap secara maksimal pada tanaman menjadi alasan utamanya. “Kalau tidak ada hujan kan setelah disiram baru diberi pupuk, jadi penyerapan bisa di lakukan tumbuhan dengan baik. Sekarang, belum terserap sudah hilang kena air hujan,” terangnya.

Tanaman yang busuk juga menjadi penyebab susutnya hasil panen. Ia mengaku jika telat sedikit saja dalam perawatan, maka risikonya tanaman bakal busuk dan mati. Tak jarang dia harus puas dengan hasil yang minim hingga hanya kembali modal.

Upaya penanggulangan yang dilakukan Yono adalah membuat got sebagai tempat pembuangan air. Parit di setiap petak lahannya juga dibuat agak dalam untuk mencegah tidak terjadi genangan. Dengan begitu, risiko tanamannya terendam air hujan bisa dikurangi.

Terkait penjualan hasil panen, Yono menyebut bawang daun dikirim pedagang ke luar kota seperti Surabaya dan sekitarnya. Harganya saat ini Rp 5 ribu per kilogramnya. ”Kalau harga cenderung stabil beberapa minggu ini,” tambahnya.

Pewarta: Wildan Agta Affirdausy

KOTA BATU – Hujan yang hampir setiap hari melanda membuat para petani harus melakukan perawatan tanaman secara ekstra. Hasil panen bahkan sempat menyusut akibat tanaman kebanyakan air. Seperti yang dialami petani bawang daun, Yono Supomo di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu.

“Untungnya cuma tidak nyiram saja. Lebih banyak rugi sebenarnya,” ungkap pria yang tinggal di Kelurahan Temas tersebut. Penyusutan panen yang dialaminya sekitar 30 persen. Dari lahan seluas seribu meter persegi, biasanya dia bisa memanen 1,5 ton bawang daun. Tapi, sekarang menyusut hanya menjadi sekitar 1 ton saja sekali panen.

Pupuk yang tidak bisa terserap secara maksimal pada tanaman menjadi alasan utamanya. “Kalau tidak ada hujan kan setelah disiram baru diberi pupuk, jadi penyerapan bisa di lakukan tumbuhan dengan baik. Sekarang, belum terserap sudah hilang kena air hujan,” terangnya.

Tanaman yang busuk juga menjadi penyebab susutnya hasil panen. Ia mengaku jika telat sedikit saja dalam perawatan, maka risikonya tanaman bakal busuk dan mati. Tak jarang dia harus puas dengan hasil yang minim hingga hanya kembali modal.

Upaya penanggulangan yang dilakukan Yono adalah membuat got sebagai tempat pembuangan air. Parit di setiap petak lahannya juga dibuat agak dalam untuk mencegah tidak terjadi genangan. Dengan begitu, risiko tanamannya terendam air hujan bisa dikurangi.

Terkait penjualan hasil panen, Yono menyebut bawang daun dikirim pedagang ke luar kota seperti Surabaya dan sekitarnya. Harganya saat ini Rp 5 ribu per kilogramnya. ”Kalau harga cenderung stabil beberapa minggu ini,” tambahnya.

Pewarta: Wildan Agta Affirdausy

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/