alexametrics
22.6 C
Malang
Thursday, 19 May 2022

Mengulik Jejak Soekarno di Selecta Batu

Kota batu menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan era Presiden Soekarno. Kala bangsa menghadapi invasi Jepang pada 1942, Soekarno “bertapa” 15 hari di Kota batu, tepatnya di Vila Bima Shakti, kompleks Taman Wisata Selecta, Tulungrejo, Bumiaji. Putusan penting dirumuskan dari sana. Pada HUT ke-19 Kota Batu ini, Jawa Pos Radar Malang secara khusus mengulas jejak Soekarno di sana.

Di pintu salah satu kamar Vila Bima Shakti, tertempel angka nomor 47. Interior dan bentuk kamar berukuran 5×5 meter itu masih gaya etnik klasik. Ruangan di vila yang dibangun tahun 1930 itu dilengkapi seperangkat kursi kayu dengan daun jendela menghadap lereng pegunungan. Belum ada sentuhan desain modern. Nampaknya desain era penjajahan Belanda itu masih dipertahankan oleh pengelola hingga saat ini.

Lokasi vila yang dulu bernama Villa De Brandarice tersebut berada di ketinggian 1.150 meter di atas permukaan laut. Ada taman indah seluas 20 hektare. Dikelilingi Gunung Panderman, Arjuno, dan Welirang.

Itulah secuil gambaran kamar yang pernah ditinggali Soekarno. Kamar itu sangat bersejarah karena pernah jadi saksi bagaimana Bung Karno menuangkan ide-ide untuk kepentingan bangsa dan negara. ”Beliau (Soekarno) ke sini selama 15 hari. Saat itu masih dikuasai Jepang,” terang Direktur Wisata Selecta Sujud Hariadi.

Bangunan ini menjadi bangunan keempat yang didirikan kala itu. Nama asalnya ialah De Brandarice. Di bawah pengelolaan Hashiguci. Kunjungan pertama Sang Proklamator terjadi pada tahun 1942.

Berdasarkan sejarah, Bung Karno sewaktu menginap di sana sangat jarang berbicara. Waktunya hanya dihabiskan untuk berolahraga kecil dan memikirkan masa depan bangsa. Dia hanya keluar sesekali untuk menghirup udara segar khas Kota Apel.

Kunjungan keduanya adalah pada tahun 1946. Kali ini, dia membawa anak, istri, dan juga para pejabat pemerintah. Bermula dari kunjungan itulah nama Bima Shakti muncul dan dipertahankan hingga sekarang. Dari data sejarah, kala itu ada agenda Soekarno hadir pada Sidang Pleno Kelima Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Gedung Rakyat Kota Malang. Gedung itu kini jadi Sarinah Store. Namun karena banyak pertimbangan, Soekarno batal menghadiri Sidang Pleno KNIP dan digantikan Wakil Presiden RI Moch. Hatta. Bahkan Bung Hatta juga menginap di Vila Bima Shakti tersebut.

Begitu bersejarahnya kamar di vila tersebut, karena dua proklamator negeri ini, Soekarno-Hatta, pernah menginap di vila tersebut. Saking terkesannya dengan vila tersebut, Soekarno dengan tulisan tangan menuliskan kalimat dengan arti mendalam dengan ejaan lama. ”Kenang-kenangan pada Selecta tetap hidup dalam ingatan saja. Bukan karena tamasja jang indah, tetapi djuga karena di Selecta itu beberapa putusan penting mengenai perdjoeangan negara telah saja ambil.”

Tercatat, tulisan tangan Bung Karno itu ditulis pada 1 Maret 1955. Naskah bersejarah itu pun sampai kini terawat rapi dalam pigura yang terpajang di vila tersebut. ”Kami menjaga bentuk keseluruhan dan beberapa peninggalannya karena nilai sejarah yang sangat patut untuk dihargai,” ucapnya.

Karena nilai sejarahnya yang tinggi itu, vila tersebut disewakan untuk umum dengan tarif lumayan mahal, Rp 1 juta per malam.

Pewarta: Wildan

Kota batu menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan era Presiden Soekarno. Kala bangsa menghadapi invasi Jepang pada 1942, Soekarno “bertapa” 15 hari di Kota batu, tepatnya di Vila Bima Shakti, kompleks Taman Wisata Selecta, Tulungrejo, Bumiaji. Putusan penting dirumuskan dari sana. Pada HUT ke-19 Kota Batu ini, Jawa Pos Radar Malang secara khusus mengulas jejak Soekarno di sana.

Di pintu salah satu kamar Vila Bima Shakti, tertempel angka nomor 47. Interior dan bentuk kamar berukuran 5×5 meter itu masih gaya etnik klasik. Ruangan di vila yang dibangun tahun 1930 itu dilengkapi seperangkat kursi kayu dengan daun jendela menghadap lereng pegunungan. Belum ada sentuhan desain modern. Nampaknya desain era penjajahan Belanda itu masih dipertahankan oleh pengelola hingga saat ini.

Lokasi vila yang dulu bernama Villa De Brandarice tersebut berada di ketinggian 1.150 meter di atas permukaan laut. Ada taman indah seluas 20 hektare. Dikelilingi Gunung Panderman, Arjuno, dan Welirang.

Itulah secuil gambaran kamar yang pernah ditinggali Soekarno. Kamar itu sangat bersejarah karena pernah jadi saksi bagaimana Bung Karno menuangkan ide-ide untuk kepentingan bangsa dan negara. ”Beliau (Soekarno) ke sini selama 15 hari. Saat itu masih dikuasai Jepang,” terang Direktur Wisata Selecta Sujud Hariadi.

Bangunan ini menjadi bangunan keempat yang didirikan kala itu. Nama asalnya ialah De Brandarice. Di bawah pengelolaan Hashiguci. Kunjungan pertama Sang Proklamator terjadi pada tahun 1942.

Berdasarkan sejarah, Bung Karno sewaktu menginap di sana sangat jarang berbicara. Waktunya hanya dihabiskan untuk berolahraga kecil dan memikirkan masa depan bangsa. Dia hanya keluar sesekali untuk menghirup udara segar khas Kota Apel.

Kunjungan keduanya adalah pada tahun 1946. Kali ini, dia membawa anak, istri, dan juga para pejabat pemerintah. Bermula dari kunjungan itulah nama Bima Shakti muncul dan dipertahankan hingga sekarang. Dari data sejarah, kala itu ada agenda Soekarno hadir pada Sidang Pleno Kelima Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Gedung Rakyat Kota Malang. Gedung itu kini jadi Sarinah Store. Namun karena banyak pertimbangan, Soekarno batal menghadiri Sidang Pleno KNIP dan digantikan Wakil Presiden RI Moch. Hatta. Bahkan Bung Hatta juga menginap di Vila Bima Shakti tersebut.

Begitu bersejarahnya kamar di vila tersebut, karena dua proklamator negeri ini, Soekarno-Hatta, pernah menginap di vila tersebut. Saking terkesannya dengan vila tersebut, Soekarno dengan tulisan tangan menuliskan kalimat dengan arti mendalam dengan ejaan lama. ”Kenang-kenangan pada Selecta tetap hidup dalam ingatan saja. Bukan karena tamasja jang indah, tetapi djuga karena di Selecta itu beberapa putusan penting mengenai perdjoeangan negara telah saja ambil.”

Tercatat, tulisan tangan Bung Karno itu ditulis pada 1 Maret 1955. Naskah bersejarah itu pun sampai kini terawat rapi dalam pigura yang terpajang di vila tersebut. ”Kami menjaga bentuk keseluruhan dan beberapa peninggalannya karena nilai sejarah yang sangat patut untuk dihargai,” ucapnya.

Karena nilai sejarahnya yang tinggi itu, vila tersebut disewakan untuk umum dengan tarif lumayan mahal, Rp 1 juta per malam.

Pewarta: Wildan

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/