alexametrics
21.1 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Gandeng E-Commerce Pasarkan Produk UMKM Kota Batu Secara Digital

KOTA BATU – kasus pandemi Covid-19 baik di daerah maupun nasional turut berpengaruh terhadap perekonomian di Kota Batu.

Pertumbuhan ekonomi Kota Batu pun semakin membaik, setelah tahun lalu terkoreksi tajam yakni minus 6,46 persen. Saat ini sampai dengan trikotawulan II tahun 2021 lalu tumbuh positif 11,92 persen secara year on year. Hal itu tentunya tidak terlepas dari upaya Pemkot Batu melalui program kegiatan yang ada. Salah satunya pengembangan UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) oleh diskoperindag (dinas koperasi, usaha mikro, perindustrian dan perdagangan).

Kasi Pengembangan UMKM Diskoperindag Kota Batu Andry Yunanto mengatakan, di Kota Batu ada 14.600 UMKM dan yang sudah memiliki NIB (nomor induk berusaha) sekitar 60 persen. Pihaknya menargetkan sebanyak-banyaknya UMKM bisa memasarkan produknya secara masif dan mengedepankan digitalisasi. “Dalam waktu dekat ini kami akan bekerja sama dengan SMKN 3 Batu untuk membuat semacam video profil usaha beserta produknya untuk ditampilkan di sosial media, bahkan kalau bisa di videotron juga,” katanya.

Selain itu, pada Februari tahun ini pihaknya telah bekerja sama dengan salah satu marketplace nasional guna melakukan pendampingan intensif terhadap 51 UMKM di Kota Batu. Tujuannya untuk meningkatkan pemasaran produk-produk usaha asal Kota Batu. Menurutnya pandemi Covid-19 telah berdampak pada sektor ekonomi. Yakni terjadi pergeseran pemasaran produk, dari konvensional ke pemasaran melalui media digital. Hal ini memaksa pelaku usaha untuk segera beradaptasi melakukan perubahan.

“Dengan pemasaran produk melalui online membuka dukungan seluas luasnya untuk pelaku usaha agar bisa bertahan dan berkembang,” katanya. Ada sekitar 500 produk dari Kota Batu yang dipasarkan pada kegiatan itu. Seperti makanan dan minuman, kerajinan (kayu dan rajut), fashion dan batik atau peralatan dapur. Dikatakannya, pelatihan marketing digital sudah dilakukan berkali-kali, diharapkan UMKM Kota Batu memiliki toko online dan dapat memasarkan produknya ke seluruh wilayah Indonesia.

Andry mengatakan di Kota Batu sebenarnya sebanyak 75 persen dari pelaku UMKM sudah terbiasa melakukan perdagangan secara digital. Para pelaku usaha kecil yang bergabung dengan e-commerce menurutnya saat ini memiliki omzet penjualan produk yang beragam. Mulai dari Rp 2 juta hingga ada yang sampai Rp 6 juta setiap bulannya.

Lalu dalam waktu dekat diskoperindag juga akan menggandeng salah satu marketplace lainnya yang memiliki layanan pesan antar makanan dan minuman. Kali ini sasaran pengembangan UMKM dikhususkan untuk PKL (pedagang kaki lima) di sekitar Alun-Alun Kota Batu terlebih dahulu. “Penting bagi PKL untuk bisa bergabung, jangan sampai mereka kalah dengan restoran yang besar-besar,” ujarnya.

Sedangkan pada April lalu, diskoperindag juga berhasil melakukan kerja sama dengan kementerian koperasi dan UKM yakni menggelar pelatihan usaha berbasis kompetensi ekspor di Senyum World Hotel. Diharapkan dari kegiatan itu produksi hasil barang dan komoditi dari Kota Batu ada peningkatan ekspor ke luar negeri. Dengan begitu, kegiatan ekspor dapat mengoptimalkan sistem business to business yang sebelumnya masih business to customer.

Sebanyak 30 pelaku usaha potensial diikutsertakan sertifikasi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Ekspor. Diharapkan kegiatan ekspor di Kota Batu bisa dilakukan secara mandiri dan dengan skala besar. Sehingga hasil produksi usaha bisa bertambah dua kali lipatnya. “Rata-rata pelaku usaha yang ikut sudah badan usaha, sehingga bisa satu kontainer kirimnya. Selama ini masih ada yang melalui trader (atau makelar) ekspor dan importir sehingga jalur distribusi panjang maka itu kami pangkas,” katanya.

Selain itu, upaya lainnya yang dilakukan dengan menaruh gerai display pojok UMKM di tempat-tempat usaha besar seperti hotel, restoran dan tempat wisata. Ada 16 gerai kecil yang tengah disiapkan pihaknya untuk didistribusikan pada November mendatang. Setiap gerai bisa menampung puluhan produk UMKM seperti keripik buah, madu dan lainnya. Untuk produk UMKM yang ditaruh di setiap gerai berdasarkan kurasi dari setiap pengelola tempat usaha besar. “Sebenarnya yang sudah jalan ada tiga tempat, seperti di Hotel Kontena, restoran Pupuk Bawang dan Hotel Aston Inn. Nanti kami taruh di lainnya seperti toko oleh-oleh Brawijaya, Hotel Singhasari, restoran Pondok Desa dan lainnya,” katanya.

Sedangkan Ketua PNS (pegawai niaga sipil) PKL Alun-Alun Kota Batu Puspita Herdysari menyambut baik adanya rencana dari diskoperindag untuk mengikutsertakan PKL dengan layanan pesan antar secara online. Menurutnya dengan begitu dapat membantu meningkatkan pemasaran produk pedagang kecil. “Supaya masyarakat Batu juga bisa menikmati jajanan PKL dengan online. Sehingga pedagang juga senang karena diharapkan penjualannya bisa meningkat, karena selama PPKM sempat turun omzet kami,” katanya. (nug/lid/rmc)

KOTA BATU – kasus pandemi Covid-19 baik di daerah maupun nasional turut berpengaruh terhadap perekonomian di Kota Batu.

Pertumbuhan ekonomi Kota Batu pun semakin membaik, setelah tahun lalu terkoreksi tajam yakni minus 6,46 persen. Saat ini sampai dengan trikotawulan II tahun 2021 lalu tumbuh positif 11,92 persen secara year on year. Hal itu tentunya tidak terlepas dari upaya Pemkot Batu melalui program kegiatan yang ada. Salah satunya pengembangan UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) oleh diskoperindag (dinas koperasi, usaha mikro, perindustrian dan perdagangan).

Kasi Pengembangan UMKM Diskoperindag Kota Batu Andry Yunanto mengatakan, di Kota Batu ada 14.600 UMKM dan yang sudah memiliki NIB (nomor induk berusaha) sekitar 60 persen. Pihaknya menargetkan sebanyak-banyaknya UMKM bisa memasarkan produknya secara masif dan mengedepankan digitalisasi. “Dalam waktu dekat ini kami akan bekerja sama dengan SMKN 3 Batu untuk membuat semacam video profil usaha beserta produknya untuk ditampilkan di sosial media, bahkan kalau bisa di videotron juga,” katanya.

Selain itu, pada Februari tahun ini pihaknya telah bekerja sama dengan salah satu marketplace nasional guna melakukan pendampingan intensif terhadap 51 UMKM di Kota Batu. Tujuannya untuk meningkatkan pemasaran produk-produk usaha asal Kota Batu. Menurutnya pandemi Covid-19 telah berdampak pada sektor ekonomi. Yakni terjadi pergeseran pemasaran produk, dari konvensional ke pemasaran melalui media digital. Hal ini memaksa pelaku usaha untuk segera beradaptasi melakukan perubahan.

“Dengan pemasaran produk melalui online membuka dukungan seluas luasnya untuk pelaku usaha agar bisa bertahan dan berkembang,” katanya. Ada sekitar 500 produk dari Kota Batu yang dipasarkan pada kegiatan itu. Seperti makanan dan minuman, kerajinan (kayu dan rajut), fashion dan batik atau peralatan dapur. Dikatakannya, pelatihan marketing digital sudah dilakukan berkali-kali, diharapkan UMKM Kota Batu memiliki toko online dan dapat memasarkan produknya ke seluruh wilayah Indonesia.

Andry mengatakan di Kota Batu sebenarnya sebanyak 75 persen dari pelaku UMKM sudah terbiasa melakukan perdagangan secara digital. Para pelaku usaha kecil yang bergabung dengan e-commerce menurutnya saat ini memiliki omzet penjualan produk yang beragam. Mulai dari Rp 2 juta hingga ada yang sampai Rp 6 juta setiap bulannya.

Lalu dalam waktu dekat diskoperindag juga akan menggandeng salah satu marketplace lainnya yang memiliki layanan pesan antar makanan dan minuman. Kali ini sasaran pengembangan UMKM dikhususkan untuk PKL (pedagang kaki lima) di sekitar Alun-Alun Kota Batu terlebih dahulu. “Penting bagi PKL untuk bisa bergabung, jangan sampai mereka kalah dengan restoran yang besar-besar,” ujarnya.

Sedangkan pada April lalu, diskoperindag juga berhasil melakukan kerja sama dengan kementerian koperasi dan UKM yakni menggelar pelatihan usaha berbasis kompetensi ekspor di Senyum World Hotel. Diharapkan dari kegiatan itu produksi hasil barang dan komoditi dari Kota Batu ada peningkatan ekspor ke luar negeri. Dengan begitu, kegiatan ekspor dapat mengoptimalkan sistem business to business yang sebelumnya masih business to customer.

Sebanyak 30 pelaku usaha potensial diikutsertakan sertifikasi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Ekspor. Diharapkan kegiatan ekspor di Kota Batu bisa dilakukan secara mandiri dan dengan skala besar. Sehingga hasil produksi usaha bisa bertambah dua kali lipatnya. “Rata-rata pelaku usaha yang ikut sudah badan usaha, sehingga bisa satu kontainer kirimnya. Selama ini masih ada yang melalui trader (atau makelar) ekspor dan importir sehingga jalur distribusi panjang maka itu kami pangkas,” katanya.

Selain itu, upaya lainnya yang dilakukan dengan menaruh gerai display pojok UMKM di tempat-tempat usaha besar seperti hotel, restoran dan tempat wisata. Ada 16 gerai kecil yang tengah disiapkan pihaknya untuk didistribusikan pada November mendatang. Setiap gerai bisa menampung puluhan produk UMKM seperti keripik buah, madu dan lainnya. Untuk produk UMKM yang ditaruh di setiap gerai berdasarkan kurasi dari setiap pengelola tempat usaha besar. “Sebenarnya yang sudah jalan ada tiga tempat, seperti di Hotel Kontena, restoran Pupuk Bawang dan Hotel Aston Inn. Nanti kami taruh di lainnya seperti toko oleh-oleh Brawijaya, Hotel Singhasari, restoran Pondok Desa dan lainnya,” katanya.

Sedangkan Ketua PNS (pegawai niaga sipil) PKL Alun-Alun Kota Batu Puspita Herdysari menyambut baik adanya rencana dari diskoperindag untuk mengikutsertakan PKL dengan layanan pesan antar secara online. Menurutnya dengan begitu dapat membantu meningkatkan pemasaran produk pedagang kecil. “Supaya masyarakat Batu juga bisa menikmati jajanan PKL dengan online. Sehingga pedagang juga senang karena diharapkan penjualannya bisa meningkat, karena selama PPKM sempat turun omzet kami,” katanya. (nug/lid/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/