alexametrics
28.5 C
Malang
Thursday, 30 June 2022

ER Dihukum (Lagi) 7 Tahun, Juga Wajib Bayar Uang Pengganti Rp 45 ,9 M

SURABAYA – ”Masa tinggal” Eddy Rumpokodi Lapas Semarang bakal memakan waktu lebih lama lagi.Sebab, mantan Wali Kota Batu itu kembali diganjar hukuman tujuh tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Surabaya kemarin (19/5).Hukuman itu dijatuhkan atas kasus gratifikasi yang menjerat pria 57 tahun itu.

Saat ini, Eddy Rumpoko memang masih menjadi warga binaan Lapas Semarang atas kasus korupsi yang diputus pada 2018 lalu.Dia menjalani hukuman 5,5 tahun penjara atas putusan kasasi MA pada 2019.Karena itulah, pada sidang kasus keduanya kemarin, Eddy mengikuti secara daring dari Lapas Semarang.

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim I KetutSuarta SH MH itu seharusnya dimulai pada pukul 09.00.Kenyataannya, sidang baru bisa dimulai pada pukul 16.00.Di layar monitor tampak Eddy Rumpoko mengenakan baju putih lengan panjang dengan tulisan ”Among Tani” (nama Balai Kota Batu).

Dalam persidangan sebelumnya, jaksa penuntut umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengajukan tuntutan 8,5 tahun penjara, denda Rp 500 juta, serta uang pengganti Rp 45,9 miliar. Apabila tidak bisa membayar uang pengganti, jaksa meminta dilakukan penyitaan dan pelelangan aset milik terdakwa.

Hakim anggota Emma Ellyani SH MH, dalam pembacaan amar putusan mengungkapkan, Eddy telah merugikan negara sebesar Rp 46 miliar melalui gratifikasi yang diperolehsecara bertahap. Uang pelicin itu berasal dari setidaknya 45 orang yang terdiri dari pengusaha, dinas, dan beberapa orang lain. ”Itu dilakukan selama dia menjabat sebagai Wali Kota Batu. Bahkan ada uang dollar Amerika Serikat yang mencapai USD 100 ribu,” kata Emma.

Semua uang itu diterima Eddy dalam kurun waktu 2011 hingga 2017. Gratifikasi itu ditujukan untuk memuluskan izin pembangunan villa, hotel, cottage dan perumahan di Kota Batu. Fakta lain dalam persidangan juga menyebutkan bahwa pria kelahiran Manado tersebut tidak mengembalikan uang gratifikasi dan tidak melaporkan jumlah aset yang dimiliki kepada KPK.

Selanjutnya, terdakwa malah mengarahkan beberapa pihak tertentu untuk mengatur proses pelelangan barang dan jasa atas paket pekerjaan yang ada di Kota Batu. Tujuannya untuk memenangkan para pengusaha tertentu yang dekat dengannya.

Eddy juga mengarahkan beberapa pihak tertentu yang ingin berinvestasi di wilayah Kota Batu untuk mengatur proses perizinan di Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu – Satu Pintu dan Tenaga Kerja di Pemkot Batu sejak tahun 2012 sampai dengan tahun 2018. Hal itu untuk mempermudah pengurusan perizinan kepada beberapa pengusaha yang dekat dengan terdakwa.

Dalam pembelaannya, kuasa hukum terdakwa memohon agar Eddy dibebaskan.Alasannya, terdakwa sudah berusia lanjut dan telah berjasa dalam pembangunan dan penghargaan yang diraih Kota Batu selama dia menjabat.

Hakim memaklumi pembelaan kedua soal dedikasi terdakwa sebagai pimpinan daerah Kota Batu yang meraih prestasi.Namun ada pertimbangan yang memperberat hukuman, yakni terdakwa tidak mengakui perbuatannya dan tidak menjadi teladan bagi warga serta Aparatur Sipil Negara (ASN) secara keseluruhan.

Akhirnya, Ketua Majelis Hakim I KetutSuarta SH MH mengetuk palu putusan pidana penjara tujuh tahun penjara untuk Eddy Rumpoko.Suami Wali Kota Batu DewantiRumpoko itu dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 12B juncto pasal 18 Undang-undang (UU) RI Nomor 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

”Menjatuhkan pidana denda sebesar Rp 500 juta subsider tiga bulan,” tegas hakim. Selain itu, Eddy juga diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 45,9 miliar (Rp 45.923.231.400) yang apabila tidak bisa dibayar diganti dengan penjara 3 tahun setelah satu bulan putusan tersebut berkekuatan hukum tetap, namun asetnya akan disita dan dilelang untuk menutupi kerugian negara.

Atas putusan itu, kedua pihak baik kuasa hukum maupun penuntut umum masih menyatakan pikir-pikir.”Putusan ini kami rasa memberatkan karena beliau juga sudah usia lanjut,” kata salah satu kuasa hukum terdakwa YozaPhahlevi SH setelah persidangan. Pihaknya masih akan berkoordinasi dengan kliennya untuk menentukan langkah selanjutnya. (biy/fat)

SURABAYA – ”Masa tinggal” Eddy Rumpokodi Lapas Semarang bakal memakan waktu lebih lama lagi.Sebab, mantan Wali Kota Batu itu kembali diganjar hukuman tujuh tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Surabaya kemarin (19/5).Hukuman itu dijatuhkan atas kasus gratifikasi yang menjerat pria 57 tahun itu.

Saat ini, Eddy Rumpoko memang masih menjadi warga binaan Lapas Semarang atas kasus korupsi yang diputus pada 2018 lalu.Dia menjalani hukuman 5,5 tahun penjara atas putusan kasasi MA pada 2019.Karena itulah, pada sidang kasus keduanya kemarin, Eddy mengikuti secara daring dari Lapas Semarang.

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim I KetutSuarta SH MH itu seharusnya dimulai pada pukul 09.00.Kenyataannya, sidang baru bisa dimulai pada pukul 16.00.Di layar monitor tampak Eddy Rumpoko mengenakan baju putih lengan panjang dengan tulisan ”Among Tani” (nama Balai Kota Batu).

Dalam persidangan sebelumnya, jaksa penuntut umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengajukan tuntutan 8,5 tahun penjara, denda Rp 500 juta, serta uang pengganti Rp 45,9 miliar. Apabila tidak bisa membayar uang pengganti, jaksa meminta dilakukan penyitaan dan pelelangan aset milik terdakwa.

Hakim anggota Emma Ellyani SH MH, dalam pembacaan amar putusan mengungkapkan, Eddy telah merugikan negara sebesar Rp 46 miliar melalui gratifikasi yang diperolehsecara bertahap. Uang pelicin itu berasal dari setidaknya 45 orang yang terdiri dari pengusaha, dinas, dan beberapa orang lain. ”Itu dilakukan selama dia menjabat sebagai Wali Kota Batu. Bahkan ada uang dollar Amerika Serikat yang mencapai USD 100 ribu,” kata Emma.

Semua uang itu diterima Eddy dalam kurun waktu 2011 hingga 2017. Gratifikasi itu ditujukan untuk memuluskan izin pembangunan villa, hotel, cottage dan perumahan di Kota Batu. Fakta lain dalam persidangan juga menyebutkan bahwa pria kelahiran Manado tersebut tidak mengembalikan uang gratifikasi dan tidak melaporkan jumlah aset yang dimiliki kepada KPK.

Selanjutnya, terdakwa malah mengarahkan beberapa pihak tertentu untuk mengatur proses pelelangan barang dan jasa atas paket pekerjaan yang ada di Kota Batu. Tujuannya untuk memenangkan para pengusaha tertentu yang dekat dengannya.

Eddy juga mengarahkan beberapa pihak tertentu yang ingin berinvestasi di wilayah Kota Batu untuk mengatur proses perizinan di Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu – Satu Pintu dan Tenaga Kerja di Pemkot Batu sejak tahun 2012 sampai dengan tahun 2018. Hal itu untuk mempermudah pengurusan perizinan kepada beberapa pengusaha yang dekat dengan terdakwa.

Dalam pembelaannya, kuasa hukum terdakwa memohon agar Eddy dibebaskan.Alasannya, terdakwa sudah berusia lanjut dan telah berjasa dalam pembangunan dan penghargaan yang diraih Kota Batu selama dia menjabat.

Hakim memaklumi pembelaan kedua soal dedikasi terdakwa sebagai pimpinan daerah Kota Batu yang meraih prestasi.Namun ada pertimbangan yang memperberat hukuman, yakni terdakwa tidak mengakui perbuatannya dan tidak menjadi teladan bagi warga serta Aparatur Sipil Negara (ASN) secara keseluruhan.

Akhirnya, Ketua Majelis Hakim I KetutSuarta SH MH mengetuk palu putusan pidana penjara tujuh tahun penjara untuk Eddy Rumpoko.Suami Wali Kota Batu DewantiRumpoko itu dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 12B juncto pasal 18 Undang-undang (UU) RI Nomor 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

”Menjatuhkan pidana denda sebesar Rp 500 juta subsider tiga bulan,” tegas hakim. Selain itu, Eddy juga diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 45,9 miliar (Rp 45.923.231.400) yang apabila tidak bisa dibayar diganti dengan penjara 3 tahun setelah satu bulan putusan tersebut berkekuatan hukum tetap, namun asetnya akan disita dan dilelang untuk menutupi kerugian negara.

Atas putusan itu, kedua pihak baik kuasa hukum maupun penuntut umum masih menyatakan pikir-pikir.”Putusan ini kami rasa memberatkan karena beliau juga sudah usia lanjut,” kata salah satu kuasa hukum terdakwa YozaPhahlevi SH setelah persidangan. Pihaknya masih akan berkoordinasi dengan kliennya untuk menentukan langkah selanjutnya. (biy/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/