alexametrics
26.5 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Divonis 7 Tahun, Pembakar Istri di Kota Batu Pilih Ajukan Banding

KOTA BATU – Suyanto benar-benar merasa tidak akan kuat menjalani hukuman tujuh tahun penjara yang sudah dijatuhkan hakim Pengadilan Negeri Malang. Pria yang nekat membakar istrinya pada 7 September tahun lalu itu memutuskan untuk mengajukan upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi.

Alasan utamanya adalah penyakit gagal ginjal. Kondisi pria yang beralamat di Dusun Gondorejo, Desa Oro-Oro Dowo, Kecamatan Batu, memang bisa merepotkan banyak pihak. Dia harus rutin menjalani cuci darah rutin dua kali dalam seminggu. Karena itulah, selama menjalani persidangan tingkat pertama di Pengadilan Negeri Malang, pria berusia 52 tahun tidak ditahan di rutan

Dia menjalani tahanan kota sampai sekarang. Saat hakim menjatuhkan vonis tujuh tahun penjara pada 5 April lalu, Suyanto mengaku sudah keberatan. Dia diberi waktu selama tujuh hari menyatakan sikap. Kemarin, Jaksa mengabarkan bahwa Suyanto sudah menyatakan akan mengajukan banding. ”Pada 12 April Suyanto sudah menyatakan mengajukan upaya banding ” kata Kasi Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Batu Edi Sutomo SH MH kemarin siang. Namun pihaknya masih belum mengetahui alasan Suyanto menyatakan banding itu. Kemungkinan besar tetap pada masalah kesehatan.

Jika Suyanto tidak mengajukan banding, maka tujuh hari setelah kasusnya diputus oleh hakim, dia sudah harus menjalani hukuman. Itu artinya dia harus menjadi warga binaan lembaga pemasyarakatan. Bisa jadi dia akan merepotkan pihak lapas ketika harus menjalani rutinitas cuci darah. Dengan mengajukan banding tersebut, Suyanto masih punya peluang untuk tetap menjadi tahanan kota dan menjalani rutinitas cuci darah dengan lebih leluasa. Edi menjelaskan, pihak kejaksaan masih menyusun memori banding atas permintaan banding yang diajukan Suyanto. ”Kami a harus mempelajari ulang detail amar putusan hakim,” ujarnya.

Seperti diketahui, penganiayaan yang dilakukan Suyanto terhadap Rahmawati, istrinya, terjadi pada 7 September 2021 pukul 20.30. Malam itu, Rahmawati sedang berkumpul dengan keluarganya di rumah orang tuanya. Tiba-tiba Suyanto datang dengan membawa empat jeriken berisi bensin. Suyanto yang emosi langsung menyiramkan bensin ke separo badan Rahmawati dan melontarkan korek api. Rahmawati meninggal setelah 25 hari dirawat di RSUD Karsa Husada. Suyanto lolos dari jeratan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Dia dikenakan pasal 44 Ayat 3 Undang-Undang (UU) Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Dalam beberapa kali persidangan, Suyanto mengaku tidak berniat membunuh istrinya. Emosi itu muncul lantaran dia mendengar kabar istrinya selingkuh lantaran Suyanto sakit-sakitan dan tidak lagi bisa memberikan nafkah lahir maupun batin. (biy/fat)

KOTA BATU – Suyanto benar-benar merasa tidak akan kuat menjalani hukuman tujuh tahun penjara yang sudah dijatuhkan hakim Pengadilan Negeri Malang. Pria yang nekat membakar istrinya pada 7 September tahun lalu itu memutuskan untuk mengajukan upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi.

Alasan utamanya adalah penyakit gagal ginjal. Kondisi pria yang beralamat di Dusun Gondorejo, Desa Oro-Oro Dowo, Kecamatan Batu, memang bisa merepotkan banyak pihak. Dia harus rutin menjalani cuci darah rutin dua kali dalam seminggu. Karena itulah, selama menjalani persidangan tingkat pertama di Pengadilan Negeri Malang, pria berusia 52 tahun tidak ditahan di rutan

Dia menjalani tahanan kota sampai sekarang. Saat hakim menjatuhkan vonis tujuh tahun penjara pada 5 April lalu, Suyanto mengaku sudah keberatan. Dia diberi waktu selama tujuh hari menyatakan sikap. Kemarin, Jaksa mengabarkan bahwa Suyanto sudah menyatakan akan mengajukan banding. ”Pada 12 April Suyanto sudah menyatakan mengajukan upaya banding ” kata Kasi Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Batu Edi Sutomo SH MH kemarin siang. Namun pihaknya masih belum mengetahui alasan Suyanto menyatakan banding itu. Kemungkinan besar tetap pada masalah kesehatan.

Jika Suyanto tidak mengajukan banding, maka tujuh hari setelah kasusnya diputus oleh hakim, dia sudah harus menjalani hukuman. Itu artinya dia harus menjadi warga binaan lembaga pemasyarakatan. Bisa jadi dia akan merepotkan pihak lapas ketika harus menjalani rutinitas cuci darah. Dengan mengajukan banding tersebut, Suyanto masih punya peluang untuk tetap menjadi tahanan kota dan menjalani rutinitas cuci darah dengan lebih leluasa. Edi menjelaskan, pihak kejaksaan masih menyusun memori banding atas permintaan banding yang diajukan Suyanto. ”Kami a harus mempelajari ulang detail amar putusan hakim,” ujarnya.

Seperti diketahui, penganiayaan yang dilakukan Suyanto terhadap Rahmawati, istrinya, terjadi pada 7 September 2021 pukul 20.30. Malam itu, Rahmawati sedang berkumpul dengan keluarganya di rumah orang tuanya. Tiba-tiba Suyanto datang dengan membawa empat jeriken berisi bensin. Suyanto yang emosi langsung menyiramkan bensin ke separo badan Rahmawati dan melontarkan korek api. Rahmawati meninggal setelah 25 hari dirawat di RSUD Karsa Husada. Suyanto lolos dari jeratan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Dia dikenakan pasal 44 Ayat 3 Undang-Undang (UU) Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Dalam beberapa kali persidangan, Suyanto mengaku tidak berniat membunuh istrinya. Emosi itu muncul lantaran dia mendengar kabar istrinya selingkuh lantaran Suyanto sakit-sakitan dan tidak lagi bisa memberikan nafkah lahir maupun batin. (biy/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/