alexametrics
23.6 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Cerita Gadis Asal Kelurahan Sisir yang Jadi Wasit Berlisensi

RADAR MALANG – Olahraga sepak bola memang identik dengan laki-laki. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Rika Navi’atul Khasanah. Bukan sebagai pemain, namun pemain Arema FC putri ini justru tertarik untuk memimpin pertandingan alias menjadi wasit sepak bola.

Dari sejak duduk di bangku sekolah, Rika sudah menyukai dunia sepak bola. Dia pun tidak canggung ketika harus bermain bersama teman laki-lakinya. Tak ingin setengah-setengah, untuk mengeksplore diri, pada Oktober 2020 lalu dia juga telah mengikuti uji lisensi wasit C3 yang diselenggarakan oleh Askot PSSI Kota Batu. Menurutnya wasit wanita di Indonesia masih jarang sehingga menjadi peluang baginya untuk mengembangkan karier di dunia sepak bola.

Hingga sekarang, sudah sekitar 20 laga sepak bola pernah dipimpinnya. Seluruh pertandingan tersebut dimainkan oleh para pria. “Saya belum pernah memimpin pertandingan cewek sama sekali,” kata gadis asal Kelurahan Sisir itu.

Rata-rata pertandingan yang dipimpin olehnya adalah dari kompetisi U10 hingga U15. Terakhir kali laga yang dipimpin pada ajang SSB (sekolah sepak bola) antar daerah se- Jawa Timur pada Januari lalu di lapangan Kusuma Agro Kota Batu.

Rika mengaku selalu bersikap tegas setiap memimpin pertandingan. Bahkan dalam hal memutuskan pelanggaran atau tidak dalam suatu pertandingan.

Pengalaman yang paling berkesan baginya sebagai wasit wanita yakni soal mental. Sebab ketika memimpin pertandingan, protes bukan dilakukan oleh pemain saja. “Bahkan orang tuanya kadang juga protes kalau misal anaknya melanggar tidak sesuai ketentuan permainan,” katanya. (nug/lid/rmc)

RADAR MALANG – Olahraga sepak bola memang identik dengan laki-laki. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Rika Navi’atul Khasanah. Bukan sebagai pemain, namun pemain Arema FC putri ini justru tertarik untuk memimpin pertandingan alias menjadi wasit sepak bola.

Dari sejak duduk di bangku sekolah, Rika sudah menyukai dunia sepak bola. Dia pun tidak canggung ketika harus bermain bersama teman laki-lakinya. Tak ingin setengah-setengah, untuk mengeksplore diri, pada Oktober 2020 lalu dia juga telah mengikuti uji lisensi wasit C3 yang diselenggarakan oleh Askot PSSI Kota Batu. Menurutnya wasit wanita di Indonesia masih jarang sehingga menjadi peluang baginya untuk mengembangkan karier di dunia sepak bola.

Hingga sekarang, sudah sekitar 20 laga sepak bola pernah dipimpinnya. Seluruh pertandingan tersebut dimainkan oleh para pria. “Saya belum pernah memimpin pertandingan cewek sama sekali,” kata gadis asal Kelurahan Sisir itu.

Rata-rata pertandingan yang dipimpin olehnya adalah dari kompetisi U10 hingga U15. Terakhir kali laga yang dipimpin pada ajang SSB (sekolah sepak bola) antar daerah se- Jawa Timur pada Januari lalu di lapangan Kusuma Agro Kota Batu.

Rika mengaku selalu bersikap tegas setiap memimpin pertandingan. Bahkan dalam hal memutuskan pelanggaran atau tidak dalam suatu pertandingan.

Pengalaman yang paling berkesan baginya sebagai wasit wanita yakni soal mental. Sebab ketika memimpin pertandingan, protes bukan dilakukan oleh pemain saja. “Bahkan orang tuanya kadang juga protes kalau misal anaknya melanggar tidak sesuai ketentuan permainan,” katanya. (nug/lid/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/