alexametrics
22.7 C
Malang
Thursday, 19 May 2022

Mengenal Dekopon, Jeruk Bermahkota Asal Jepang

KOTA BATU – Pernah dengar jeruk Dekopon? jeruk asal Jepang bisa menjadi investasi bidang perkebunan yang menguntungkan. Jeruk berukuran besar ini memiliki ciri khas mahkota di kepalanya.

Sebagai varietas pendatang baru, jeruk dekopon mulai banyak dibudidayakan oleh petani di sejumlah daerah. Sayangnya di Malang, khususnya Kota batu, belum banyak petani yang menanam jeruk dekopon. salah satu alasannya adalah, permintaan pasar yang belum terbentuk.

“Dulu awal masuk ke Indonesia, kami ambil 300 pohon mata tempel dari Jepang. Lalu diperbanyak disini,” ucap Kepala Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropis (Balijestro), Harwanto kemarin (22/3).

Jeruk unik ini memiliki ukuran yang besar. Bahkan untuk satu kilogramnya, hanya diisi oleh 3 buah saja. Kualitas buah yang baik dengan rasa manis sedikit masam, dinilai menjadi nilai plus tersendiri bagi jenis ini. Keunikan lain dari buah ini adalah bisa berbuah sepanjang tahun. Metode bujangseta, sangat cocok digunakan untuknya. Dengan itu pohon akan bisa berbunga dan berbuah secara bersamaan sepanjang waktu.

Benihnya pun sudah mulai disebarluaskan. Tapi, di Kota Batu sendiri hanya ada dua sampai tiga petani saja yang mulai mencoba membudidayakannya. Alasannya karena buah yang masih minim permintaan karena belum begitu dikenal. “Buahnya kan masih baru. Maka dari itu belum banyak permintaan, kami harus menyesuaikan juga pada keinginan konsumen,” tambahnya.

Ia menegaskan, bagi petani yang ingin mengembangkan jeruk dekopon, Harwanto menyarankan agar membeli benih legal yang telah dipastikan bebas dari penyakit, agar bisa mendapatkan hasil panen maksimal. Sementara, banyak benih ilegal beredar di pasaran yang tidak terjamin kualitasnya.

Harwanto menyebut, masa produktif benih berlabel relatif lebih panjang dibandingkan benih abal-abal. Masa umur pohon dengan benih ilegal hanya bisa bertahan dalam kurun waktu 5 tahun. Tapi, benih berlabel bisa produktif hingga 20 tahun.

“Penjagaan kualitas dan varietas buah menjadi hal penting didalam pembudidayaan jeruk. Karena penurunan kualitas akan berpengaruh juga pada dampak ekonomi para petani,” imbuhnya.

Dia berharap, jeruk dekopon bukan dipergunakan sebagai kesenangan semata, namun juga bisa memiliki nilai ekonomi. Pemenuhan pengadaan jeruk menjadi impian guna menyokong swasembada pangan. Mengingat, pengadaan barang yang masih kurang dari petani lokal. Menyebabkan impor masih dilakukan hingga kini.

“Buah ini sebenarnya juga memiliki segment pasar luas. Tapi baru beberapa saja yang bisa membaca peluang itu,” ungkapnya.

Pewarta : Chosa Setya Ayu Widodo

KOTA BATU – Pernah dengar jeruk Dekopon? jeruk asal Jepang bisa menjadi investasi bidang perkebunan yang menguntungkan. Jeruk berukuran besar ini memiliki ciri khas mahkota di kepalanya.

Sebagai varietas pendatang baru, jeruk dekopon mulai banyak dibudidayakan oleh petani di sejumlah daerah. Sayangnya di Malang, khususnya Kota batu, belum banyak petani yang menanam jeruk dekopon. salah satu alasannya adalah, permintaan pasar yang belum terbentuk.

“Dulu awal masuk ke Indonesia, kami ambil 300 pohon mata tempel dari Jepang. Lalu diperbanyak disini,” ucap Kepala Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropis (Balijestro), Harwanto kemarin (22/3).

Jeruk unik ini memiliki ukuran yang besar. Bahkan untuk satu kilogramnya, hanya diisi oleh 3 buah saja. Kualitas buah yang baik dengan rasa manis sedikit masam, dinilai menjadi nilai plus tersendiri bagi jenis ini. Keunikan lain dari buah ini adalah bisa berbuah sepanjang tahun. Metode bujangseta, sangat cocok digunakan untuknya. Dengan itu pohon akan bisa berbunga dan berbuah secara bersamaan sepanjang waktu.

Benihnya pun sudah mulai disebarluaskan. Tapi, di Kota Batu sendiri hanya ada dua sampai tiga petani saja yang mulai mencoba membudidayakannya. Alasannya karena buah yang masih minim permintaan karena belum begitu dikenal. “Buahnya kan masih baru. Maka dari itu belum banyak permintaan, kami harus menyesuaikan juga pada keinginan konsumen,” tambahnya.

Ia menegaskan, bagi petani yang ingin mengembangkan jeruk dekopon, Harwanto menyarankan agar membeli benih legal yang telah dipastikan bebas dari penyakit, agar bisa mendapatkan hasil panen maksimal. Sementara, banyak benih ilegal beredar di pasaran yang tidak terjamin kualitasnya.

Harwanto menyebut, masa produktif benih berlabel relatif lebih panjang dibandingkan benih abal-abal. Masa umur pohon dengan benih ilegal hanya bisa bertahan dalam kurun waktu 5 tahun. Tapi, benih berlabel bisa produktif hingga 20 tahun.

“Penjagaan kualitas dan varietas buah menjadi hal penting didalam pembudidayaan jeruk. Karena penurunan kualitas akan berpengaruh juga pada dampak ekonomi para petani,” imbuhnya.

Dia berharap, jeruk dekopon bukan dipergunakan sebagai kesenangan semata, namun juga bisa memiliki nilai ekonomi. Pemenuhan pengadaan jeruk menjadi impian guna menyokong swasembada pangan. Mengingat, pengadaan barang yang masih kurang dari petani lokal. Menyebabkan impor masih dilakukan hingga kini.

“Buah ini sebenarnya juga memiliki segment pasar luas. Tapi baru beberapa saja yang bisa membaca peluang itu,” ungkapnya.

Pewarta : Chosa Setya Ayu Widodo

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/