alexametrics
26.5 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Keluarga Pedagang Ini Terpaksa Tinggal di Pos Pantau BPBD Kota Batu

BATU – Keluarga Nurhayati tak hanya kehilangan mata pencaharian sejak sepekan terakhir. Mereka juga kehilangan ‘tempat tinggal’ pasca musibah retakan tanah yang berujung penutupan warung di Jalan Brigjen Manan (Payung I), Songgokerto, Batu. Maklum saja, warung yang menjadi lokasi berjualan sekaligus menjadi tempat tinggalnya.

“Besok sudah seminggu tinggal di sini (tempat milik BPBD Kota Batu). Karena nggak punya rumah dan tempat jualan juga nggak bisa ditempati lagi,” kata perempuan 48 tahun ini saat ditemui di tempat tinggal sementara di pos pantau BPBD Kota Batu di Punten, Kamis (25/2). Dia tinggal di tempat tersebut bersama enam anggota keluarganya. Yaitu suami, empat anak dan menantunya. “Karena (anak-menantu) sama-sama belum punya rumah. Jadi kayak keluarga besar tinggal di sini,” terang perempuan kelahiran Kota Malang ini.

Dia bercerita bahwa tidak memungkinkan untuk kembali ke tanah kelahirannya di Kota Malang. Karena rumah peninggalan orang tuanya sudah ditempati saudaranya. “Nggak mungkin balik lagi. Rumahnya sudah ditempati keluarga. Apalagi kan anggota keluarga banyak,” jelas dia.

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ada bantuan dari Pemkot Batu. Selain itu, juga mengandalkan pendapatan suami dari mengatur lalu lintas di Payung I selama masa perbaikan. “Kadang suami dapat Rp 50 ribu, kadang juga Rp 40 ribu dari jaga (lalu-lintas) di sana,” ujar dia.

Dia berharap, perbaikan jalan di Payung I segera selesai. Sehingga, dia bisa kembali jualan. Karena tempat jualan sekaligus tempat tinggal di area Payung I masih menyewa. “Saya ambil sewa bulanan. Sebulan Rp 700 ribu. Tapi ini nggak tahu, nggak bisa jualan tetap bayar atau gimana,” ungkap dia.

Seperti diketahui, tanah di Payung I mengalami retakan. Sehingga, sebanyak 14 pedagang di area ini diminta mengosongkan lapaknya dan lalu-lintas diberlakukan buka tutup.

Pewarta: Imam N

BATU – Keluarga Nurhayati tak hanya kehilangan mata pencaharian sejak sepekan terakhir. Mereka juga kehilangan ‘tempat tinggal’ pasca musibah retakan tanah yang berujung penutupan warung di Jalan Brigjen Manan (Payung I), Songgokerto, Batu. Maklum saja, warung yang menjadi lokasi berjualan sekaligus menjadi tempat tinggalnya.

“Besok sudah seminggu tinggal di sini (tempat milik BPBD Kota Batu). Karena nggak punya rumah dan tempat jualan juga nggak bisa ditempati lagi,” kata perempuan 48 tahun ini saat ditemui di tempat tinggal sementara di pos pantau BPBD Kota Batu di Punten, Kamis (25/2). Dia tinggal di tempat tersebut bersama enam anggota keluarganya. Yaitu suami, empat anak dan menantunya. “Karena (anak-menantu) sama-sama belum punya rumah. Jadi kayak keluarga besar tinggal di sini,” terang perempuan kelahiran Kota Malang ini.

Dia bercerita bahwa tidak memungkinkan untuk kembali ke tanah kelahirannya di Kota Malang. Karena rumah peninggalan orang tuanya sudah ditempati saudaranya. “Nggak mungkin balik lagi. Rumahnya sudah ditempati keluarga. Apalagi kan anggota keluarga banyak,” jelas dia.

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ada bantuan dari Pemkot Batu. Selain itu, juga mengandalkan pendapatan suami dari mengatur lalu lintas di Payung I selama masa perbaikan. “Kadang suami dapat Rp 50 ribu, kadang juga Rp 40 ribu dari jaga (lalu-lintas) di sana,” ujar dia.

Dia berharap, perbaikan jalan di Payung I segera selesai. Sehingga, dia bisa kembali jualan. Karena tempat jualan sekaligus tempat tinggal di area Payung I masih menyewa. “Saya ambil sewa bulanan. Sebulan Rp 700 ribu. Tapi ini nggak tahu, nggak bisa jualan tetap bayar atau gimana,” ungkap dia.

Seperti diketahui, tanah di Payung I mengalami retakan. Sehingga, sebanyak 14 pedagang di area ini diminta mengosongkan lapaknya dan lalu-lintas diberlakukan buka tutup.

Pewarta: Imam N

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/