alexametrics
26.1 C
Malang
Wednesday, 1 December 2021

Dalami Seni Karawitan, Mulai Nembang Sejak TK

RADAR MALANG – Ada yang berbeda dengan kesibukan Galuh Sri Setiyani dibanding dengan wanita seusianya. Saat teman-temannya menggandrungi musik pop atau aliran musik lain yang menjadi tren, Galuh lebih tertarik untuk mendalami seni menyinden. Galuh pernah tampil di Festival Dalang Remaja tahun 2017 di Kota Batu. Wanita kelahiran 19 Oktober 2000 itu juga mendapatkan piala penyaji terbaik.

Saat ini, Galuh juga tergabung dalam sanggar Cakra Baruna. Biasanya dia menghabiskan waktu setiap Jumat dan Sabtu malam hari untuk latihan sebelum pentas. Kegiatan kesenian tersebut juga dilakukan di kampusnya Universitas Kanjuruhan Malang dengan bergabung Sanggar Pakadata.

Tak cukup sampai disitu, setiap Selasa dia juga belatih karawitan bersama warga binaan perempuan di Lapas Perempuan Kelas II A Malang. “Untuk seru-seruan saja sama menghilangkan jenuh tapi saya tidak selalu ikut kalau misal berbenturan dengan kegiatan lainnya,” kata dia.

Beberapa lagu yang dinyanyikan seperti tembang jenis Sotya dan Campursari. Lalu judulnya seperti Janjine Piye, Setya Tuhu, Taman Sari, Anteping Sih dan lainnya.

Sejak kecil, Galuh memang sudah senang menonton wayang bersama orang tuanya. Hampir seluruh keluarga besarnya juga memiliki darah seni. “Saya suka liat kasetnya bude sewaktu nyinden terus putar setiap hari dan saya tirukan. Ketika masuk TK saya bisa nembang pertama itu pangkur Semarangan,” katanya.

Salah satu prestasi yang diraihnya seperti pada tahun 2019, juara 3 FLS2N di Universitas Negeri Malang (UM) dalam Lomba Nembang Macapat tingkat SMA/SMK/MA se-Jatim. (nug/lid/rmc)

RADAR MALANG – Ada yang berbeda dengan kesibukan Galuh Sri Setiyani dibanding dengan wanita seusianya. Saat teman-temannya menggandrungi musik pop atau aliran musik lain yang menjadi tren, Galuh lebih tertarik untuk mendalami seni menyinden. Galuh pernah tampil di Festival Dalang Remaja tahun 2017 di Kota Batu. Wanita kelahiran 19 Oktober 2000 itu juga mendapatkan piala penyaji terbaik.

Saat ini, Galuh juga tergabung dalam sanggar Cakra Baruna. Biasanya dia menghabiskan waktu setiap Jumat dan Sabtu malam hari untuk latihan sebelum pentas. Kegiatan kesenian tersebut juga dilakukan di kampusnya Universitas Kanjuruhan Malang dengan bergabung Sanggar Pakadata.

Tak cukup sampai disitu, setiap Selasa dia juga belatih karawitan bersama warga binaan perempuan di Lapas Perempuan Kelas II A Malang. “Untuk seru-seruan saja sama menghilangkan jenuh tapi saya tidak selalu ikut kalau misal berbenturan dengan kegiatan lainnya,” kata dia.

Beberapa lagu yang dinyanyikan seperti tembang jenis Sotya dan Campursari. Lalu judulnya seperti Janjine Piye, Setya Tuhu, Taman Sari, Anteping Sih dan lainnya.

Sejak kecil, Galuh memang sudah senang menonton wayang bersama orang tuanya. Hampir seluruh keluarga besarnya juga memiliki darah seni. “Saya suka liat kasetnya bude sewaktu nyinden terus putar setiap hari dan saya tirukan. Ketika masuk TK saya bisa nembang pertama itu pangkur Semarangan,” katanya.

Salah satu prestasi yang diraihnya seperti pada tahun 2019, juara 3 FLS2N di Universitas Negeri Malang (UM) dalam Lomba Nembang Macapat tingkat SMA/SMK/MA se-Jatim. (nug/lid/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru