alexametrics
22.4 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

Terkendala Produksi, Tanaman Hias Batu Sulit Penuhi Permintaan Pasar

KOTA BATU – Pandemi Covid-19 tidak hanya menimbulkan kesedihan. Dibalik situasi yang serba sulit, kondisi ini justru menjadi berkah bagi para petani hias. Salah satunya di Kota Batu. Ketua Jaringan Petani Nasional (JPN) Kota Batu Juni Purnomo menuturkan, selama hampir satu bulan belakangan, pihaknya mendapat pesanan sebanyak 2 ribu pot.

Beberapa jenis tanaman hias yang dibudidayakan antara lain philodendron dan anthurium kuping gajah. Tak hanya diminati pasar lokal, pemasaran tanaman hias tersebut bahkan sudah mendapai Negeri Kincir Angin Belanda dan Amerika Serikat.

Sementara untuk jenis tanaman hias agave titanota dan sanseviera trifasciata sudah dikirim hingga Jepang dan Rusia. Omzet yang diraih petani tanaman hias dalam sebulan bisa mencapai Rp 10 juta hingga Rp 30 juta.

Purnomo mengungkapkan, sebenarnya pembeli yang berada di luar negeri memiliki kemampuan untuk membayar lebih bila ketersediaan stok bisa terpenuhi. Sayangnya, sampai saat ini petani masih mengandalkan metode pengembangbiakan secara manual. Misalnya dari biji, teknik split, atau lainnya yang memakan waktu cukup lama.

“Berbeda dengan petani yang ada di Thailand atau Filipina yang mampu melakukan pengembangbiakan secara kultur jaringan. Padahal di luar permintaan sangat banyak,” jelas Juni. Karena hanya bisa memperbanyak dengan cara manual, maka petani harus lebih sabar menunggu. “Kalau kultur jaringan pengembangbiakannya bisa langsung ratusan bahkan ribuan,” jelasnya.

Kendala itulah yang membuat para petani tanaman hias tidak mampu mendukung percepatan ekspor. Alasannya, stok tidak mencukupi. Karena itu dia berharap pemerintah bisa memberikan perhatian lebih agar petani di Indonesia bisa bersaing dengan petani luar negeri. “Sering kali kami dihubungi oleh teman di luar negeri tapi kami kesulitan mencari ketersediaan barang,” katanya.

Menurutnya perhatian tersebut bisa dilakukan dalam bentuk pelatihan untuk meningkatkan SDM. Atau juga dukungan fasilitas dan sarana prasarana seperti laboratorium kultur jaringan. “Tujuannya agar bisa bersaing dengan petani negara lain sehingga bisa meningkatkan pendapatan maupun kesejahteraan mereka,” ujarnya. (nug/lid/rmc)

KOTA BATU – Pandemi Covid-19 tidak hanya menimbulkan kesedihan. Dibalik situasi yang serba sulit, kondisi ini justru menjadi berkah bagi para petani hias. Salah satunya di Kota Batu. Ketua Jaringan Petani Nasional (JPN) Kota Batu Juni Purnomo menuturkan, selama hampir satu bulan belakangan, pihaknya mendapat pesanan sebanyak 2 ribu pot.

Beberapa jenis tanaman hias yang dibudidayakan antara lain philodendron dan anthurium kuping gajah. Tak hanya diminati pasar lokal, pemasaran tanaman hias tersebut bahkan sudah mendapai Negeri Kincir Angin Belanda dan Amerika Serikat.

Sementara untuk jenis tanaman hias agave titanota dan sanseviera trifasciata sudah dikirim hingga Jepang dan Rusia. Omzet yang diraih petani tanaman hias dalam sebulan bisa mencapai Rp 10 juta hingga Rp 30 juta.

Purnomo mengungkapkan, sebenarnya pembeli yang berada di luar negeri memiliki kemampuan untuk membayar lebih bila ketersediaan stok bisa terpenuhi. Sayangnya, sampai saat ini petani masih mengandalkan metode pengembangbiakan secara manual. Misalnya dari biji, teknik split, atau lainnya yang memakan waktu cukup lama.

“Berbeda dengan petani yang ada di Thailand atau Filipina yang mampu melakukan pengembangbiakan secara kultur jaringan. Padahal di luar permintaan sangat banyak,” jelas Juni. Karena hanya bisa memperbanyak dengan cara manual, maka petani harus lebih sabar menunggu. “Kalau kultur jaringan pengembangbiakannya bisa langsung ratusan bahkan ribuan,” jelasnya.

Kendala itulah yang membuat para petani tanaman hias tidak mampu mendukung percepatan ekspor. Alasannya, stok tidak mencukupi. Karena itu dia berharap pemerintah bisa memberikan perhatian lebih agar petani di Indonesia bisa bersaing dengan petani luar negeri. “Sering kali kami dihubungi oleh teman di luar negeri tapi kami kesulitan mencari ketersediaan barang,” katanya.

Menurutnya perhatian tersebut bisa dilakukan dalam bentuk pelatihan untuk meningkatkan SDM. Atau juga dukungan fasilitas dan sarana prasarana seperti laboratorium kultur jaringan. “Tujuannya agar bisa bersaing dengan petani negara lain sehingga bisa meningkatkan pendapatan maupun kesejahteraan mereka,” ujarnya. (nug/lid/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/