alexametrics
20.5 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Pemkot Siapkan Rp 6 Miliar Untuk Relokasi Pedagang Pasar Kota Batu

KOTA BATU – Proyek pembangunan Pasar Kota Batu ini tertunda sudah beberapa tahun. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Salah satunya karena DIPA yang tak kunjung diteken Kementerian PUPR. Namun setelah DIPA dipastikan turun, Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan (Diskumdag) Kota Batu segera merelokasi para pedagang.

Kepala Diskumdag Kota Batu, Eko Suhartono mengatakan pihaknya sudah menyiapkan anggaran relokasi Rp 6 miliar. “Rencana kami bila tender proyek di kementerian sudah selesai pada Juli- Agustus mendatang dalam waktu 2-3 bulan relokasi harus sudah dituntaskan. Sebab akhir tahun ini pembangu nan sudah mulai,” katanya.

Sebelumnya, Diskumdag menganggarkan relokasi sebesar Rp 3 miliar lalu naik menjadi Rp 6 miliar yang diperuntukkan bagi 1.200 pedagang. Karena dia tak ingin tempatnya asal-asalan dan tidak layak bagi pedagang. “Nanti tempat relokasi harus bagus, biar aktivitas jual beli berjalan lancar. Secara detail bedak nanti dari galvalum, dinding spandek, dan atap asbes. Bukan triplek seperti di tempat-tempat lainnya. Dan saya tekankan relokasi gratis tidak ada biaya sepeser pun,” jamin dia.

Agar relokasi berjalan maksimal, jauh-jauh hari Diskumdag juga sudah melakukan koordinasi bersama pedagang secara berkelanjutan. Rencananya relokasi tetap di sekitaran Stadion Brantas Batu dan sebagian di Pasar Sayur Batu sesuai arahan Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko. “Nanti pedagang yang berada di unit-unit bakal direlokasi di sekitaran stadion. Lalu pedagang buah di sekitaran pasar sayur. Intinya semua bedak bakal tertampung,” katanya.

Menanggapi itu, Ketua Himpunan Pedagang Pasar, Faizirahmi sampai saat ini belum bisa memahami pembangunan yang direncanakan Pemkot Batu baik itu terkait Detail Engineering Desain (DED) dan relokasinya. “Dengan turunnya DIPA tidak secara otomatis Pemkot bisa mengeksekusi pedagang. Karena masih banyak persoalan yang belum klir. Termasuk ukuran bedak, jumlah riil pedagang sesuai SK, dan sebagainya,” katanya.

Menurutnya, DED harus bisa memuat detail apapun seperti peta bedak sekaligus jumlah penghuninya maupun batas area objek yang akan dibangun. Dalam proses DED, banyak aspirasi dan masukan dari para pedagang. “Memang dulu sudah kita sampaikan saat proses penyusunan DED, tapi banyak keinginan pedagang tidak terakomodir. Bahkan terakhir penyusun DED belum deal dengan pedagang, apalagi kita ketahui gambar DED copy paste,” katanya.

Terpisah, perwakilan pedagang pasar buah, Damir mengaku sangat setuju dengan adanya pembangunan. Apalagi kondisi pasar buah tidak layak, banyak atap berlubang dan akses jalan rusak. “Banyak pedagang yang berharap pembangunan segera dilaksanakan. Tapi kembali lagi dari tahun 2020 kemarin juga begitu,” katanya.

Dia tak ingin rencana ini gagal seperti sebelum-sebelumnya. Pemerintah harus memiliki keseriusan dan niat kuat. “Katanya pemerintah pelayan masyarakat dan kebutuhan publik kalau memang dibangun ya segerakan. Jangan gagal lagi dan gagal lagi,” tambahnya. (rmc/nug/lib)

KOTA BATU – Proyek pembangunan Pasar Kota Batu ini tertunda sudah beberapa tahun. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Salah satunya karena DIPA yang tak kunjung diteken Kementerian PUPR. Namun setelah DIPA dipastikan turun, Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan (Diskumdag) Kota Batu segera merelokasi para pedagang.

Kepala Diskumdag Kota Batu, Eko Suhartono mengatakan pihaknya sudah menyiapkan anggaran relokasi Rp 6 miliar. “Rencana kami bila tender proyek di kementerian sudah selesai pada Juli- Agustus mendatang dalam waktu 2-3 bulan relokasi harus sudah dituntaskan. Sebab akhir tahun ini pembangu nan sudah mulai,” katanya.

Sebelumnya, Diskumdag menganggarkan relokasi sebesar Rp 3 miliar lalu naik menjadi Rp 6 miliar yang diperuntukkan bagi 1.200 pedagang. Karena dia tak ingin tempatnya asal-asalan dan tidak layak bagi pedagang. “Nanti tempat relokasi harus bagus, biar aktivitas jual beli berjalan lancar. Secara detail bedak nanti dari galvalum, dinding spandek, dan atap asbes. Bukan triplek seperti di tempat-tempat lainnya. Dan saya tekankan relokasi gratis tidak ada biaya sepeser pun,” jamin dia.

Agar relokasi berjalan maksimal, jauh-jauh hari Diskumdag juga sudah melakukan koordinasi bersama pedagang secara berkelanjutan. Rencananya relokasi tetap di sekitaran Stadion Brantas Batu dan sebagian di Pasar Sayur Batu sesuai arahan Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko. “Nanti pedagang yang berada di unit-unit bakal direlokasi di sekitaran stadion. Lalu pedagang buah di sekitaran pasar sayur. Intinya semua bedak bakal tertampung,” katanya.

Menanggapi itu, Ketua Himpunan Pedagang Pasar, Faizirahmi sampai saat ini belum bisa memahami pembangunan yang direncanakan Pemkot Batu baik itu terkait Detail Engineering Desain (DED) dan relokasinya. “Dengan turunnya DIPA tidak secara otomatis Pemkot bisa mengeksekusi pedagang. Karena masih banyak persoalan yang belum klir. Termasuk ukuran bedak, jumlah riil pedagang sesuai SK, dan sebagainya,” katanya.

Menurutnya, DED harus bisa memuat detail apapun seperti peta bedak sekaligus jumlah penghuninya maupun batas area objek yang akan dibangun. Dalam proses DED, banyak aspirasi dan masukan dari para pedagang. “Memang dulu sudah kita sampaikan saat proses penyusunan DED, tapi banyak keinginan pedagang tidak terakomodir. Bahkan terakhir penyusun DED belum deal dengan pedagang, apalagi kita ketahui gambar DED copy paste,” katanya.

Terpisah, perwakilan pedagang pasar buah, Damir mengaku sangat setuju dengan adanya pembangunan. Apalagi kondisi pasar buah tidak layak, banyak atap berlubang dan akses jalan rusak. “Banyak pedagang yang berharap pembangunan segera dilaksanakan. Tapi kembali lagi dari tahun 2020 kemarin juga begitu,” katanya.

Dia tak ingin rencana ini gagal seperti sebelum-sebelumnya. Pemerintah harus memiliki keseriusan dan niat kuat. “Katanya pemerintah pelayan masyarakat dan kebutuhan publik kalau memang dibangun ya segerakan. Jangan gagal lagi dan gagal lagi,” tambahnya. (rmc/nug/lib)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/