alexametrics
26.5 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Masih Mahal, Tarif Swab PCR di Batu Belum Turun

KOTA BATU – Tarif baru swab PCR (polymerase chain reaction) yang ditetapkan pemerintah pusat tidak otomatis berlaku di daerah, khususnya Kota Batu. Sebab, meski Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) memerintahkan tarif swab PCR Rp 300 ribu, hingga kini Kota Wisata Batu masih menggunakan tarif lama, Rp 450 ribu.

Setidaknya, itulah yang diterapkan di Rumah Sakit Umum (RSU) Karsa Husada, Kota Batu. Alasan pihak rumah sakit (RS) belum menurunkan tarif swab PCR karena menunggu keputusan resmi dari pemerintah pusat.

Kepala Seksi Pelayanan Medis, RSU Karsa Husada dr Ferdinandus Stevanus Kakiay SpPD mengatakan, hingga kemarin (26/10) tarif pemeriksaan RT-PCR masih Rp 450 ribu. “Tetapi apa pun kebijakannya nanti, tetap akan kami ikuti karena kami rumah sakit pemerintah,” katanya.

Menurutnya, seiring biaya RT-PCR turun, harga alat habis pakai yang digunakan juga akan turun. Sehingga tidak begitu akan memengaruhi biaya ongkos yang dikeluarkan. “Termasuk margin keuntungannya juga akan kami kurangi, misalnya dari pengurangan biaya tenaga kesehatannya atau bagaimana nanti akan disesuaikan,” katanya.

Dia menambahkan, jika biaya RT-PCR benar-benar turun, maka penentuan tarif dari RS Karsa Husada akan disesuaikan dengan kebijakan yang ada. Lalu permintaan pelayanan RT-PCR, kata dia, biasanya meningkat menjelang tanggal merah atau libur panjang.

Dalam satu hari, pihaknya mampu melayani tiga kali pemeriksaan RT-PCR. Dengan setiap kali kegiatan mampu memeriksa 14 sampel selama waktu sekitar tiga sampai lima jam.

“Pagi (kemarin) ini saja sudah melayani swab PCR untuk 10 orang. Mungkin nanti bisa lebih dari 14 orang (kalau menjelang musim liburan),” katanya.

Di sisi lain, dia mendukung langkah pemerintah menurunkan tarif RT-PCR. Sebab tidak jarang masih masyarakat yang mengeluhkan biaya PCR. Selain itu, saat ini ketersediaan alat pendukung pelayanan RT-PCR juga masih mencukupi.

Sebelumnya, pada Agustus lalu, pemerintah pusat juga telah mengeluarkan kebijakan pembatasan tarif PCR, yakni Rp 495 ribu untuk wilayah Jawa dan Bali. Hal itu sesuai dengan Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan nomor HK.02.02/I/2845/2021. Sebelum adanya SE tersebut, harga swab PCR melambung hingga Rp 1 juta per orang. (nug/dan/rmc).

KOTA BATU – Tarif baru swab PCR (polymerase chain reaction) yang ditetapkan pemerintah pusat tidak otomatis berlaku di daerah, khususnya Kota Batu. Sebab, meski Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) memerintahkan tarif swab PCR Rp 300 ribu, hingga kini Kota Wisata Batu masih menggunakan tarif lama, Rp 450 ribu.

Setidaknya, itulah yang diterapkan di Rumah Sakit Umum (RSU) Karsa Husada, Kota Batu. Alasan pihak rumah sakit (RS) belum menurunkan tarif swab PCR karena menunggu keputusan resmi dari pemerintah pusat.

Kepala Seksi Pelayanan Medis, RSU Karsa Husada dr Ferdinandus Stevanus Kakiay SpPD mengatakan, hingga kemarin (26/10) tarif pemeriksaan RT-PCR masih Rp 450 ribu. “Tetapi apa pun kebijakannya nanti, tetap akan kami ikuti karena kami rumah sakit pemerintah,” katanya.

Menurutnya, seiring biaya RT-PCR turun, harga alat habis pakai yang digunakan juga akan turun. Sehingga tidak begitu akan memengaruhi biaya ongkos yang dikeluarkan. “Termasuk margin keuntungannya juga akan kami kurangi, misalnya dari pengurangan biaya tenaga kesehatannya atau bagaimana nanti akan disesuaikan,” katanya.

Dia menambahkan, jika biaya RT-PCR benar-benar turun, maka penentuan tarif dari RS Karsa Husada akan disesuaikan dengan kebijakan yang ada. Lalu permintaan pelayanan RT-PCR, kata dia, biasanya meningkat menjelang tanggal merah atau libur panjang.

Dalam satu hari, pihaknya mampu melayani tiga kali pemeriksaan RT-PCR. Dengan setiap kali kegiatan mampu memeriksa 14 sampel selama waktu sekitar tiga sampai lima jam.

“Pagi (kemarin) ini saja sudah melayani swab PCR untuk 10 orang. Mungkin nanti bisa lebih dari 14 orang (kalau menjelang musim liburan),” katanya.

Di sisi lain, dia mendukung langkah pemerintah menurunkan tarif RT-PCR. Sebab tidak jarang masih masyarakat yang mengeluhkan biaya PCR. Selain itu, saat ini ketersediaan alat pendukung pelayanan RT-PCR juga masih mencukupi.

Sebelumnya, pada Agustus lalu, pemerintah pusat juga telah mengeluarkan kebijakan pembatasan tarif PCR, yakni Rp 495 ribu untuk wilayah Jawa dan Bali. Hal itu sesuai dengan Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan nomor HK.02.02/I/2845/2021. Sebelum adanya SE tersebut, harga swab PCR melambung hingga Rp 1 juta per orang. (nug/dan/rmc).

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/