alexametrics
22.4 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

Terlanjur Hamili Pacar, Remaja Kota Batu Divonis Setahun

KOTA BATU – Kasus ini bisa menjadi peringatan bagi para remaja yang sedang dimabuk cinta. Punya pacar memang sah-sah saja, namun bila hubungannya sampai kebablasan, bisa-bisa bakal menghuni bui. Hal itulah yang dialami VF, 16, remaja dari Kota Batu.

Siang kemarin (27/1), dia divonis satu tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Malang. VF terbukti telah menyetubuhi AG, 17, pacarnya sendiri. Karena masuk kategori anak di bawah umur, VF ditahan di Lapas Khusus Anak (LPKA) Blitar.

Terpidana dan korban diketahui sudah berpacaran sejak 2020 lalu. Di tahun itu, VF sudah meminta hal-hal yang lebih dari pacarnya. “Anak (pelaku) sempat meminta keperawanan korban namun ditolak,” kata Ketua Majelis Hakim Sri Haryani SH MH dalam pembacaan putusan siang kemarin di ruang sidang anak PN Malang.

Meski mendapat penolakan, VF tetap memaksa pacarnya. Siswa salah satu SMK swasta di Kota Batu itu sengaja melakukan persetubuhan tersebut karena percaya bahwa apabila keperawanan sudah diambil, maka hubungannya bisa langgeng. VF juga  berjanji tidak akan meninggalkan korban, dan akan bertanggung jawab apabila pacarnya melahirkan.

Bujuk rayu itu manjur dan dalam setengah telanjang, AG akhirnya diperawani VF. Selang satu tahun kemudian, persetubuhan kedua kembali terjadi. Hingga pertengahan 2021, terhitung sudah empat kali VF melakukan perbuatan tercelanya itu. Dari hasil visum yang dilakukan pada 22 Agustus 2021, diketahui bila korban telah mengandung.  “Saat itu usia kandungan korban sudah 12 minggu,” tambah Sri. Beberapa hari sebelum hasil visum tersebut keluar, VF sudah dilaporkan orang tua korban. Dia akhirnya ditangkap polisi. Pada agenda sidang di awal-awal, remaja berusia 16 tahun itu dituntut dua tahun penjara.

Namun hasil vonis kemarin siang menyatakan bila dia harus menjalani hukuman selama satu tahun penjara di LPKA. Dia juga diharuskan mengikuti pelatihan kerja selama tiga bulan di lembaga yang ditunjuk Dinas Sosial Kota Batu. “Putusan sudah sesuai pasal 81 Undang-Undang (UU) nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak,” tutup Sri. (biy/by)

KOTA BATU – Kasus ini bisa menjadi peringatan bagi para remaja yang sedang dimabuk cinta. Punya pacar memang sah-sah saja, namun bila hubungannya sampai kebablasan, bisa-bisa bakal menghuni bui. Hal itulah yang dialami VF, 16, remaja dari Kota Batu.

Siang kemarin (27/1), dia divonis satu tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Malang. VF terbukti telah menyetubuhi AG, 17, pacarnya sendiri. Karena masuk kategori anak di bawah umur, VF ditahan di Lapas Khusus Anak (LPKA) Blitar.

Terpidana dan korban diketahui sudah berpacaran sejak 2020 lalu. Di tahun itu, VF sudah meminta hal-hal yang lebih dari pacarnya. “Anak (pelaku) sempat meminta keperawanan korban namun ditolak,” kata Ketua Majelis Hakim Sri Haryani SH MH dalam pembacaan putusan siang kemarin di ruang sidang anak PN Malang.

Meski mendapat penolakan, VF tetap memaksa pacarnya. Siswa salah satu SMK swasta di Kota Batu itu sengaja melakukan persetubuhan tersebut karena percaya bahwa apabila keperawanan sudah diambil, maka hubungannya bisa langgeng. VF juga  berjanji tidak akan meninggalkan korban, dan akan bertanggung jawab apabila pacarnya melahirkan.

Bujuk rayu itu manjur dan dalam setengah telanjang, AG akhirnya diperawani VF. Selang satu tahun kemudian, persetubuhan kedua kembali terjadi. Hingga pertengahan 2021, terhitung sudah empat kali VF melakukan perbuatan tercelanya itu. Dari hasil visum yang dilakukan pada 22 Agustus 2021, diketahui bila korban telah mengandung.  “Saat itu usia kandungan korban sudah 12 minggu,” tambah Sri. Beberapa hari sebelum hasil visum tersebut keluar, VF sudah dilaporkan orang tua korban. Dia akhirnya ditangkap polisi. Pada agenda sidang di awal-awal, remaja berusia 16 tahun itu dituntut dua tahun penjara.

Namun hasil vonis kemarin siang menyatakan bila dia harus menjalani hukuman selama satu tahun penjara di LPKA. Dia juga diharuskan mengikuti pelatihan kerja selama tiga bulan di lembaga yang ditunjuk Dinas Sosial Kota Batu. “Putusan sudah sesuai pasal 81 Undang-Undang (UU) nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak,” tutup Sri. (biy/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/