alexametrics
30.6 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Sosok Ludi Tanarto, dari Sopir Angkot Jadi Bos Pabrik Nutrisi Tanaman

Perjuangan hidup Ludi Tanarto ini layak dijadikan teladan oleh para pemuda. Terlahir dari keluarga sopir, dia tidak pernah menyerah untuk menggapai masa depan yang lebih baik.

Nama Ludi Tanarto sudah sangat dikenal oleh warga Desa Junrejo kecamatan Junrejo Kota Batu. Ini terbukti ketika penulis bertanya kepada ibu-ibu tentang lokasi pabrik nutrisi tanaman milik Ludi. “O Pak Ludi, itu Mas, ini lurus terus belok kanan lewat jembatan kecil naik terus, nanti sampai,” begitu jawab wanita paro baya itu.

Pria kelahiran 5 April 1974 ini sangat dikenal masyarakat Junrejo dan bahkan Kota Batu. Karena dia memang putra asli kelahiran Junrejo, aktif di Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Junrejo, menikah dengan gadis Junrejo, menetap di Junrejo dan kini membangun usaha juga di Junrejo.

Selanjutnya penulis mengikuti arah yang ditunjukkan oleh seorang ibu tersebut. Di sebuah bukit kecil di Desa Junrejo terdapat bangunan pabrik PT Eureeka Great Nusantara yang cukup luas. Sekitar 50 karyawan yang semuanya warga Junrejo sehari-hari bekerja di pabrik tempat produksi nutrisi tanaman tersebut. Ada 20 merek lebih yang diproduksi.

Di antaranya Versus, Golden Gibb, Cabion, Combo, Mikroplex Pure-K dan masih banyak lagi. Produk-produk tersebut kini sudah menyebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari seluruh Jawa, Sumatera, Sulawesi NTB, NTT dan berbagai wilayah lainnya.

Pagi itu Ludi menyambut kami dengan gayanya yang santai. Dia kemudian bercerita, jika usahanya dibangun tahun 2006. Yang mana di tahun itu dia masih menjadi karyawan di PT Santani Agrolestari, yang juga memproduksi pupuk dan pestisida. Di perusahaan itu dia menempati sejumlah posisi mulai dari kepala gudang, marketing dan manajer. “Jadi pas jadi marketing saya ya keliling Mas, ke distributor, kelompok tani dan pengelola perkebunan menawarkan produk,” terang bapak empat anak ini.

Selama menjadi karyawan, bisa dibilang dia mendapatkan posisi dan gaji yang bagus. Tetapi sejak tahun 2006, Ludi memang sudah punya niat untuk resign. Namun, sebelum benar-benar resign dia mempersiapkan semuanya. Diapun mulai mempekerjakan orang untuk membuat pupuk. Namun, ketika itu masih bisa dibilang uji coba dan dipasarkan terbatas. Karyawannya hanya 1 orang.

Sering berjalannya waktu, usahanya berjalan cukup baik dan karyawan bertambah. Maka, pada tahun 2011 Ludi yang waktu itu bisa dibilang sedang di puncak karir secara baik-baik mengajukan resign kepada atasannya. “Nah pas mengajukan resign itu saya ditawari jabatan lain di devisi yang berbeda. Bahkan saya diberi saham,” terang suami Arlik Juwita ini.

Namun, karena niatnya sudah bulat, Ludi menolak tawaran tersebut dan ingin konsentrasi dan fokus di perusahaan yang sudah dirintis. ”Ora tolah-toleh wes, mantab resign,” ujar alumni jurusan ilmu tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) ini sembari tersenyum.

Meski demikian Ludi tetap menjalin komunikasi yang baik dengan atasannya di perusahaan tersebut. Sehingga setelah resign dan punya perusahaan, Ludi juga tetap bekerja sama dengan perusahaan lamanya. Yang mana PT Eureeka Great Nusantara juga menjadi distributor untuk beberapa produk di PT Santani sampai sekarang.

Ditanya soal riwayat pekerjaan Ludi mengaku, ketika kuliah sudah bekerja menjadi sopir angkot ADL (Arjosari Dinoyo Landungsari) terkadang Batu -Landungsari (BL).

Pekerjaan tersebut dia lakukan karena ayahnya menjadi sopir angkot jurusan Batu-Landungsari (BL). Sedangkan kakeknya yang tinggal di Oro Oro Dowo Kota Malanga adalah seorang sopir bemo (angkot roda tiga) yang kemudian juga jadi sopir angkot. “Dulu waktu saya sekolah di SMAN 2 Kota Malang saya tinggal di rumah kakek,” ungkapnya.

Dikatakan Ludi, pekerjaan menjadi sopir angkot itu dia lakukan mulai setelah magrib hingga sekitar pukul 23.00. Selama menjadi sopir inilah dia punya banyak pengalamat hidup yang berharga. Harus berani menghadapi berbagai kendala. Kadang berurusan dengan preman, kadang kucing-kucingan dengan sesama sopir ketika mencari penumpang dana masalah lainnya. “Kehidupan di lapangan itu keras dan kita harus tetap eksis,” kata.

Kemudian menjelang lulus kuliah 1997 Ludi mencari lowongan kerja di koran Jawa Pos. Dia lalu melamar di Bank Prekreditan Rakyat (BPR) Dana Lestari Kepanjen Kabupaten Malang. Selama sekitar 10 bulan dia pulang pergi dari Batu ke Kepanjen. Di BPR itu Ludi bekerja sebagai account officer (AO). Tugasnya keliling menawarkan kredit kepada masyarakat. “Nah selama di BPR ini saya banyak mendapatkan ilmu tentang pembukuan keuangan. Dan sampai saat ini saya gunakan di perusahaan sekarang,” terang dia.

Setelah itu dia berpindah kerja di PT Pratama Sumber Milindo di Surabaya mulai tahun 1999 hingga 2002. Perusahaan ini bergerak di bidang pupuk dan pestisida tetapi skalanya masih Jawa Timur. Kemudian mulai tahun 2002 dia pindah ke PT PT Santai Agrolestari hingga 2011.

Namun, meski bisa dibilang sukses, Ludi masih belum berniat membeli rumah. Meski sudah punya empat anak yaitu Gibran M Daffa, Hasna Aisyah Larasati, Rangga Moh Jabir dan Fahima Aisyah Kinanti Ludi awalnya memilih tetap tinggal satu rumah dengan kedua orang tuanya, Sutikno dan Nis Utami. Meskipun sebenarnya dia sudah mampu membangun rumah.

Karena kesuksesannya membangun perusahaan Ludi kemudian dilirik partai untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kota Batu di tahun 2014. “Waktu itu ada yang bilang, lha wong rumah saja tidak punya kok nyalon,” ungkap anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Namun, karena sosok Ludi yang selama ini dikenal baik dan aktif di masyarakat terutama di BPD Junrejo, maka dia pun dengan mulus terpilih sebagai anggota dewan dari PKS. Termasuk ketika mencalonkan lagi di tahun 2019 dia lolos lagi dan bahkan kini menjadi ketua Fraksi PKS di DPRD Kota Batu.

Selama dua periode menjadi anggota dewan Ludi mengaku jabatannya itu semata-mata dia jadikan cara untuk mengabdi kepada masyarakat. Alasannya dari sisi finansial Ludi merasa sudah cukup dari bisnisnya itu. Selain itu, bagi dia hidup tanpa pengabdian itu terasa kering.(*)

Pewarta: Kholid Amrullah

Perjuangan hidup Ludi Tanarto ini layak dijadikan teladan oleh para pemuda. Terlahir dari keluarga sopir, dia tidak pernah menyerah untuk menggapai masa depan yang lebih baik.

Nama Ludi Tanarto sudah sangat dikenal oleh warga Desa Junrejo kecamatan Junrejo Kota Batu. Ini terbukti ketika penulis bertanya kepada ibu-ibu tentang lokasi pabrik nutrisi tanaman milik Ludi. “O Pak Ludi, itu Mas, ini lurus terus belok kanan lewat jembatan kecil naik terus, nanti sampai,” begitu jawab wanita paro baya itu.

Pria kelahiran 5 April 1974 ini sangat dikenal masyarakat Junrejo dan bahkan Kota Batu. Karena dia memang putra asli kelahiran Junrejo, aktif di Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Junrejo, menikah dengan gadis Junrejo, menetap di Junrejo dan kini membangun usaha juga di Junrejo.

Selanjutnya penulis mengikuti arah yang ditunjukkan oleh seorang ibu tersebut. Di sebuah bukit kecil di Desa Junrejo terdapat bangunan pabrik PT Eureeka Great Nusantara yang cukup luas. Sekitar 50 karyawan yang semuanya warga Junrejo sehari-hari bekerja di pabrik tempat produksi nutrisi tanaman tersebut. Ada 20 merek lebih yang diproduksi.

Di antaranya Versus, Golden Gibb, Cabion, Combo, Mikroplex Pure-K dan masih banyak lagi. Produk-produk tersebut kini sudah menyebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari seluruh Jawa, Sumatera, Sulawesi NTB, NTT dan berbagai wilayah lainnya.

Pagi itu Ludi menyambut kami dengan gayanya yang santai. Dia kemudian bercerita, jika usahanya dibangun tahun 2006. Yang mana di tahun itu dia masih menjadi karyawan di PT Santani Agrolestari, yang juga memproduksi pupuk dan pestisida. Di perusahaan itu dia menempati sejumlah posisi mulai dari kepala gudang, marketing dan manajer. “Jadi pas jadi marketing saya ya keliling Mas, ke distributor, kelompok tani dan pengelola perkebunan menawarkan produk,” terang bapak empat anak ini.

Selama menjadi karyawan, bisa dibilang dia mendapatkan posisi dan gaji yang bagus. Tetapi sejak tahun 2006, Ludi memang sudah punya niat untuk resign. Namun, sebelum benar-benar resign dia mempersiapkan semuanya. Diapun mulai mempekerjakan orang untuk membuat pupuk. Namun, ketika itu masih bisa dibilang uji coba dan dipasarkan terbatas. Karyawannya hanya 1 orang.

Sering berjalannya waktu, usahanya berjalan cukup baik dan karyawan bertambah. Maka, pada tahun 2011 Ludi yang waktu itu bisa dibilang sedang di puncak karir secara baik-baik mengajukan resign kepada atasannya. “Nah pas mengajukan resign itu saya ditawari jabatan lain di devisi yang berbeda. Bahkan saya diberi saham,” terang suami Arlik Juwita ini.

Namun, karena niatnya sudah bulat, Ludi menolak tawaran tersebut dan ingin konsentrasi dan fokus di perusahaan yang sudah dirintis. ”Ora tolah-toleh wes, mantab resign,” ujar alumni jurusan ilmu tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) ini sembari tersenyum.

Meski demikian Ludi tetap menjalin komunikasi yang baik dengan atasannya di perusahaan tersebut. Sehingga setelah resign dan punya perusahaan, Ludi juga tetap bekerja sama dengan perusahaan lamanya. Yang mana PT Eureeka Great Nusantara juga menjadi distributor untuk beberapa produk di PT Santani sampai sekarang.

Ditanya soal riwayat pekerjaan Ludi mengaku, ketika kuliah sudah bekerja menjadi sopir angkot ADL (Arjosari Dinoyo Landungsari) terkadang Batu -Landungsari (BL).

Pekerjaan tersebut dia lakukan karena ayahnya menjadi sopir angkot jurusan Batu-Landungsari (BL). Sedangkan kakeknya yang tinggal di Oro Oro Dowo Kota Malanga adalah seorang sopir bemo (angkot roda tiga) yang kemudian juga jadi sopir angkot. “Dulu waktu saya sekolah di SMAN 2 Kota Malang saya tinggal di rumah kakek,” ungkapnya.

Dikatakan Ludi, pekerjaan menjadi sopir angkot itu dia lakukan mulai setelah magrib hingga sekitar pukul 23.00. Selama menjadi sopir inilah dia punya banyak pengalamat hidup yang berharga. Harus berani menghadapi berbagai kendala. Kadang berurusan dengan preman, kadang kucing-kucingan dengan sesama sopir ketika mencari penumpang dana masalah lainnya. “Kehidupan di lapangan itu keras dan kita harus tetap eksis,” kata.

Kemudian menjelang lulus kuliah 1997 Ludi mencari lowongan kerja di koran Jawa Pos. Dia lalu melamar di Bank Prekreditan Rakyat (BPR) Dana Lestari Kepanjen Kabupaten Malang. Selama sekitar 10 bulan dia pulang pergi dari Batu ke Kepanjen. Di BPR itu Ludi bekerja sebagai account officer (AO). Tugasnya keliling menawarkan kredit kepada masyarakat. “Nah selama di BPR ini saya banyak mendapatkan ilmu tentang pembukuan keuangan. Dan sampai saat ini saya gunakan di perusahaan sekarang,” terang dia.

Setelah itu dia berpindah kerja di PT Pratama Sumber Milindo di Surabaya mulai tahun 1999 hingga 2002. Perusahaan ini bergerak di bidang pupuk dan pestisida tetapi skalanya masih Jawa Timur. Kemudian mulai tahun 2002 dia pindah ke PT PT Santai Agrolestari hingga 2011.

Namun, meski bisa dibilang sukses, Ludi masih belum berniat membeli rumah. Meski sudah punya empat anak yaitu Gibran M Daffa, Hasna Aisyah Larasati, Rangga Moh Jabir dan Fahima Aisyah Kinanti Ludi awalnya memilih tetap tinggal satu rumah dengan kedua orang tuanya, Sutikno dan Nis Utami. Meskipun sebenarnya dia sudah mampu membangun rumah.

Karena kesuksesannya membangun perusahaan Ludi kemudian dilirik partai untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kota Batu di tahun 2014. “Waktu itu ada yang bilang, lha wong rumah saja tidak punya kok nyalon,” ungkap anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Namun, karena sosok Ludi yang selama ini dikenal baik dan aktif di masyarakat terutama di BPD Junrejo, maka dia pun dengan mulus terpilih sebagai anggota dewan dari PKS. Termasuk ketika mencalonkan lagi di tahun 2019 dia lolos lagi dan bahkan kini menjadi ketua Fraksi PKS di DPRD Kota Batu.

Selama dua periode menjadi anggota dewan Ludi mengaku jabatannya itu semata-mata dia jadikan cara untuk mengabdi kepada masyarakat. Alasannya dari sisi finansial Ludi merasa sudah cukup dari bisnisnya itu. Selain itu, bagi dia hidup tanpa pengabdian itu terasa kering.(*)

Pewarta: Kholid Amrullah

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/