alexametrics
20.8 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Fadjar Djunaedi, Pelukis Asal Kota Batu yang Mendunia

Nama Fadjar Djunaedi di kalangan seniman lukis nasional begitu harum. Ini karena dia menjadi salah satu pelukis yang masuk dalam buku Modern Indonesian Art: From Raden Saleh to the Present Today. Artinya, kualitasnya telah diakui dunia.

Sebuah lukisan realis terpajang di Studio Omah Sawah, Jalan Terusan Bejo No 12, Kelurahan Sisir. Itu salah satu karya terbaik dari Fadjar Djunaedi. Pria kelahiran Batu, 17 Juni 1970, ini memang dari keluarga pelaku seni. Kakaknya, yakni Agus Tubrun, ketua Bantengan Nuswantara.

”Tetapi bapak saya tentara, kemudian sewaktu sekolah SMA awalnya sering ikut lomba-lomba melukis, tetapi hanya sebatas untuk senang-senang,” kata laki-laki alumnus SMAN 01 Batu ini.

Dari situ, dia mulai tertarik dan serius mendalami untuk belajar melukis dengan memilih melanjutkan kuliah di Jurusan Seni Rupa IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang) dari tahun 1989-1994.

”Nah, saat itu karakter lukisan saya dalam masa pencarian dan akhirnya pada tahun 1993 saya melukis dengan style yang naif tetapi alirannya masuk realis,” kata fans pelukis Jean-Michel Basquiat asal Amerika Serikat itu.

Uniknya, karakter lukisan Fadjar layaknya goresan gambar dari usia anak-anak. Menurutnya, gambaran dari anak-anak merupakan goresan yang jujur dan natural dari perasaan hati nurani.

Tetapi, bedanya, dalam setiap lukisannya terdapat unsur-unsur pakem seni rupa. Seperti keseimbangan komposisi warna dan terdapat focus of interest. ”Lukisan naif pertama saya berjudul Mandi Matahari, bercerita tentang seorang turis yang mandi di Pantai Kuta, Bali,” katanya.

Dalam perjalanannya, Fadjar pergi ke Bali untuk mencari pengalaman dalam melukis dari tahun 1995. Tetapi, karena merasa terjebak dengan lifestyle yang tidak pakem, pada tahun 1998 dirinya memutuskan untuk pulang kampung. ”Ya di sana awalnya menjanjikan, tetapi lebih baik di sini saja (Kota Batu), bersama keluarga istri dan anak saya,” kata suami dari Yuniar Lidyawati itu.

Kemudian, pada tanggal 27 Juli 1996 untuk pertama kalinya Fadjar menggelar pameran tunggal Galeri Pondok Seni Batu di GOR Ganesha. Terdapat sekitar 25 lukisan dengan ukuran besar dan kecil yang dipamerkan. Lalu, dia ikut bergabung dalam Puri Art Galeri saat masih ada di Kota Malang dari tahun 2003-2011.

”Ide lukisan saya dari imajinasi kehidupan sehari-hari yang tidak akan habis digali,” katanya.

Pada tahun 2009, untuk pertama kalinya Fadjar mengikuti pameran lukisan di luar negeri, yakni Art Expo Malaysia. Terdapat tiga lukisannya yang dipajang dengan judul Surrender dan Will You Marry Me. Lalu, pada tahun 2010 dia pameran di Korea Internasional Art Fair dengan membawa satu lukisan berjudul Flying without Wings dan pada tahun yang sama memamerkan lukisan di Singapura.

”Kemudian tahun 2018 saya diajak pameran di Hungaria, terbaru Maret 2020 lalu sebelum pandemi Covid-19 sebanyak 30 lukisan saya dipamerkan di Xiamen, China, dalam pameran tunggal bertajuk From Batu To Xiamen,” katanya.

Dia sangat bersyukur, dari pameran-pameran yang diikuti ada saja lukisan yang laku.

Sudah ratusan lukisan yang dibuatnya selama menjadi pelukis dan lukisan yang dibuatnya seperti pada umumnya menggunakan cat minyak atau cat akrilik. Untuk melukis satu lukisan kecil, biasanya menghabiskan waktu satu minggu. Sedangkan ukuran besar (190 cm x 170 cm) sekitar tiga minggu. Harga satu lukisannya pun saat ini di-rate sampai puluhan juta rupiah. Tergantung tingkat kesulitan dalam pembuatannya.

”Terus saya kalau main warna itu lebih monokrom dari gelap ke terang, tetapi full colour juga saya kerjakan,” katanya.

Biasanya ketika sedang melukis, dia ditemani dengan lagu-lagu dari Bob Marley. Untuk jamnya, biasanya hari Senin sampai Sabtu dari pukul 8.00 pagi hingga pukul 16.00 sore.

”Kalau soal tingkat kepuasan itu biasanya berada saat waktu finishing, jika dirasa sudah cukup ya sudah dihentikan. Tapi, menurut saya melukis itu harus dinikmati,” katanya.

Setelah beberapa bulan tidak mengikuti pameran, nantinya pada Desember mendatang Fadjar bakal mengikuti pameran di Banyuwangi dalam tajuk Art OS. Rencananya ada dua lukisan yang dipersiapkan.

”Belum dibuat, masih rahasia dan juga masih mikir apa temanya,” katanya.

Dari pekerjaannya sebagai pelukis, Fadjar dapat membeli satu rumah di Jalan Terusan Bejo No 12, Kelurahan Sisir, dan memiliki studio lukis sendiri di rumahnya bernama Studio Omah Sawah. Salah satu lukisannya berjudul Welcome to Batu juga dipajang di Balai Kota Among Tani. (gp/c1/abm/rmc)

Nama Fadjar Djunaedi di kalangan seniman lukis nasional begitu harum. Ini karena dia menjadi salah satu pelukis yang masuk dalam buku Modern Indonesian Art: From Raden Saleh to the Present Today. Artinya, kualitasnya telah diakui dunia.

Sebuah lukisan realis terpajang di Studio Omah Sawah, Jalan Terusan Bejo No 12, Kelurahan Sisir. Itu salah satu karya terbaik dari Fadjar Djunaedi. Pria kelahiran Batu, 17 Juni 1970, ini memang dari keluarga pelaku seni. Kakaknya, yakni Agus Tubrun, ketua Bantengan Nuswantara.

”Tetapi bapak saya tentara, kemudian sewaktu sekolah SMA awalnya sering ikut lomba-lomba melukis, tetapi hanya sebatas untuk senang-senang,” kata laki-laki alumnus SMAN 01 Batu ini.

Dari situ, dia mulai tertarik dan serius mendalami untuk belajar melukis dengan memilih melanjutkan kuliah di Jurusan Seni Rupa IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang) dari tahun 1989-1994.

”Nah, saat itu karakter lukisan saya dalam masa pencarian dan akhirnya pada tahun 1993 saya melukis dengan style yang naif tetapi alirannya masuk realis,” kata fans pelukis Jean-Michel Basquiat asal Amerika Serikat itu.

Uniknya, karakter lukisan Fadjar layaknya goresan gambar dari usia anak-anak. Menurutnya, gambaran dari anak-anak merupakan goresan yang jujur dan natural dari perasaan hati nurani.

Tetapi, bedanya, dalam setiap lukisannya terdapat unsur-unsur pakem seni rupa. Seperti keseimbangan komposisi warna dan terdapat focus of interest. ”Lukisan naif pertama saya berjudul Mandi Matahari, bercerita tentang seorang turis yang mandi di Pantai Kuta, Bali,” katanya.

Dalam perjalanannya, Fadjar pergi ke Bali untuk mencari pengalaman dalam melukis dari tahun 1995. Tetapi, karena merasa terjebak dengan lifestyle yang tidak pakem, pada tahun 1998 dirinya memutuskan untuk pulang kampung. ”Ya di sana awalnya menjanjikan, tetapi lebih baik di sini saja (Kota Batu), bersama keluarga istri dan anak saya,” kata suami dari Yuniar Lidyawati itu.

Kemudian, pada tanggal 27 Juli 1996 untuk pertama kalinya Fadjar menggelar pameran tunggal Galeri Pondok Seni Batu di GOR Ganesha. Terdapat sekitar 25 lukisan dengan ukuran besar dan kecil yang dipamerkan. Lalu, dia ikut bergabung dalam Puri Art Galeri saat masih ada di Kota Malang dari tahun 2003-2011.

”Ide lukisan saya dari imajinasi kehidupan sehari-hari yang tidak akan habis digali,” katanya.

Pada tahun 2009, untuk pertama kalinya Fadjar mengikuti pameran lukisan di luar negeri, yakni Art Expo Malaysia. Terdapat tiga lukisannya yang dipajang dengan judul Surrender dan Will You Marry Me. Lalu, pada tahun 2010 dia pameran di Korea Internasional Art Fair dengan membawa satu lukisan berjudul Flying without Wings dan pada tahun yang sama memamerkan lukisan di Singapura.

”Kemudian tahun 2018 saya diajak pameran di Hungaria, terbaru Maret 2020 lalu sebelum pandemi Covid-19 sebanyak 30 lukisan saya dipamerkan di Xiamen, China, dalam pameran tunggal bertajuk From Batu To Xiamen,” katanya.

Dia sangat bersyukur, dari pameran-pameran yang diikuti ada saja lukisan yang laku.

Sudah ratusan lukisan yang dibuatnya selama menjadi pelukis dan lukisan yang dibuatnya seperti pada umumnya menggunakan cat minyak atau cat akrilik. Untuk melukis satu lukisan kecil, biasanya menghabiskan waktu satu minggu. Sedangkan ukuran besar (190 cm x 170 cm) sekitar tiga minggu. Harga satu lukisannya pun saat ini di-rate sampai puluhan juta rupiah. Tergantung tingkat kesulitan dalam pembuatannya.

”Terus saya kalau main warna itu lebih monokrom dari gelap ke terang, tetapi full colour juga saya kerjakan,” katanya.

Biasanya ketika sedang melukis, dia ditemani dengan lagu-lagu dari Bob Marley. Untuk jamnya, biasanya hari Senin sampai Sabtu dari pukul 8.00 pagi hingga pukul 16.00 sore.

”Kalau soal tingkat kepuasan itu biasanya berada saat waktu finishing, jika dirasa sudah cukup ya sudah dihentikan. Tapi, menurut saya melukis itu harus dinikmati,” katanya.

Setelah beberapa bulan tidak mengikuti pameran, nantinya pada Desember mendatang Fadjar bakal mengikuti pameran di Banyuwangi dalam tajuk Art OS. Rencananya ada dua lukisan yang dipersiapkan.

”Belum dibuat, masih rahasia dan juga masih mikir apa temanya,” katanya.

Dari pekerjaannya sebagai pelukis, Fadjar dapat membeli satu rumah di Jalan Terusan Bejo No 12, Kelurahan Sisir, dan memiliki studio lukis sendiri di rumahnya bernama Studio Omah Sawah. Salah satu lukisannya berjudul Welcome to Batu juga dipajang di Balai Kota Among Tani. (gp/c1/abm/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/