alexametrics
21.1 C
Malang
Tuesday, 16 August 2022

Buntut Sengketa Waris, Homestay Dirobohkan

KOTA BATU – Satu kendaraan ekskavator bertengger di Jalan Kenanga RT 2 RW 6 Desa Oro-Oro Ombo Selasa pagi (28/6). Sontak hal itu membuat heboh warga sekitar. Mereka berbondong-bondong mendekati area homestay dan rumah tinggal yang akan dieksekusi oleh Pengadilan Agama Malang. Lantaran, area seluas 8.730 meter persegi itu adalah tanah sengketa antara anak angkat dengan saudara kandung ahli waris.

Diketahui, tergugat merupakan anak angkat dari Muhammad Sidik yaitu Wardi’i. Sedangkan penggugat merupakan dua saudara kandung Sidik, yakni Wuriati dengan Sumiatin. Sebelum dilakukan eksekusi, kasus ini sudah melewati tahapan mediasi sejak 2019 lalu. Namun tergugat tetap tak mau membagi tanah waris tersebut.

“Sebenarnya penggugat ini tak akan sampai melakukan pelaporan jika tergugat mau membagi tanah waris. Namun tergugat bersikukuh bahwa dirinya memiliki hak dan tak mau membagi hartanya. Maka langkah ini  yang ditempuh,” ucap kuasa hukum penggugat Suwito.

Secara rinci, bangunan yang dirobohkan berupa rumah tinggal dam homestay seluas 300 meter persegi di atas tanah 8.730 meter persegi. Bangunan itu sudah ditempati oleh tergugat sejak 1980. Ditaksir memiliki nominal sekitar Rp 1 miliar. Pembongkaran tersebut, ditetapkan berdasarkan putusan eksekusi riil dari Pengadilan Agama Malang nomor 0451/Pdt.G/2019/PA.Mlg.

Sementara itu, Panitera atau Juru Sita Pengadilan Agama Malang Chafidz Syaifuddin turut membenarkan pernyataan yang dilayangkan oleh Suwito, bahwa proses ini memakan waktu yang cukup lama akibat tergugat tak mau berbagi harta waris.

“Kasus ini masuk tanggal 18 Februari 2019. Lalu diputus tanggal 21 Oktober 2019. Tapi tergugat atas nama Wardi’i mengajukan upaya banding ke Pengadilan Tinggi Agama Surabaya dan diputus 24 April 2020 bahwa tergugat dinyatakan kalah,” terangnya.

Setelah itu, Wardi’i masih terus melakukan banding hingga ke Mahkamah Agung dan diputus 1 Oktober 2020. Setelahnya para penggugat melayangkan surat permohonan eksekusi pada 11 Juni 2021. Hingga pada akhirnya tergugat masih memohon untuk dilakukan peninjauan kembali pada MA, selesai pada 24 Maret 2022.

“Dari situ perkara peninjauan kembali sudah selesai, terbit surat keputusan eksekusi tersebut. Sejak 8 Juni lalu kita sudah berkoordinasi dengan stakeholder terkait sampai terakhir tanggal 28 Juni ini kita lakukan eksekusinya,” beber dia.

Dalam eksekusi tersebut, turut diamankan oleh 30 personel dari Polres Batu. Hal itu seperti yang diutarakan oleh Kabag Ops Polres Batu Kompol Novian Widyantoro. Pihaknya menegaskan jika dalam eksekusi tersebut tidak ada gejolak perseteruan selama proses pengosongan serta pembongkaran. “Intinya berjalan lancar,” tutupnya. (fif/lid)

KOTA BATU – Satu kendaraan ekskavator bertengger di Jalan Kenanga RT 2 RW 6 Desa Oro-Oro Ombo Selasa pagi (28/6). Sontak hal itu membuat heboh warga sekitar. Mereka berbondong-bondong mendekati area homestay dan rumah tinggal yang akan dieksekusi oleh Pengadilan Agama Malang. Lantaran, area seluas 8.730 meter persegi itu adalah tanah sengketa antara anak angkat dengan saudara kandung ahli waris.

Diketahui, tergugat merupakan anak angkat dari Muhammad Sidik yaitu Wardi’i. Sedangkan penggugat merupakan dua saudara kandung Sidik, yakni Wuriati dengan Sumiatin. Sebelum dilakukan eksekusi, kasus ini sudah melewati tahapan mediasi sejak 2019 lalu. Namun tergugat tetap tak mau membagi tanah waris tersebut.

“Sebenarnya penggugat ini tak akan sampai melakukan pelaporan jika tergugat mau membagi tanah waris. Namun tergugat bersikukuh bahwa dirinya memiliki hak dan tak mau membagi hartanya. Maka langkah ini  yang ditempuh,” ucap kuasa hukum penggugat Suwito.

Secara rinci, bangunan yang dirobohkan berupa rumah tinggal dam homestay seluas 300 meter persegi di atas tanah 8.730 meter persegi. Bangunan itu sudah ditempati oleh tergugat sejak 1980. Ditaksir memiliki nominal sekitar Rp 1 miliar. Pembongkaran tersebut, ditetapkan berdasarkan putusan eksekusi riil dari Pengadilan Agama Malang nomor 0451/Pdt.G/2019/PA.Mlg.

Sementara itu, Panitera atau Juru Sita Pengadilan Agama Malang Chafidz Syaifuddin turut membenarkan pernyataan yang dilayangkan oleh Suwito, bahwa proses ini memakan waktu yang cukup lama akibat tergugat tak mau berbagi harta waris.

“Kasus ini masuk tanggal 18 Februari 2019. Lalu diputus tanggal 21 Oktober 2019. Tapi tergugat atas nama Wardi’i mengajukan upaya banding ke Pengadilan Tinggi Agama Surabaya dan diputus 24 April 2020 bahwa tergugat dinyatakan kalah,” terangnya.

Setelah itu, Wardi’i masih terus melakukan banding hingga ke Mahkamah Agung dan diputus 1 Oktober 2020. Setelahnya para penggugat melayangkan surat permohonan eksekusi pada 11 Juni 2021. Hingga pada akhirnya tergugat masih memohon untuk dilakukan peninjauan kembali pada MA, selesai pada 24 Maret 2022.

“Dari situ perkara peninjauan kembali sudah selesai, terbit surat keputusan eksekusi tersebut. Sejak 8 Juni lalu kita sudah berkoordinasi dengan stakeholder terkait sampai terakhir tanggal 28 Juni ini kita lakukan eksekusinya,” beber dia.

Dalam eksekusi tersebut, turut diamankan oleh 30 personel dari Polres Batu. Hal itu seperti yang diutarakan oleh Kabag Ops Polres Batu Kompol Novian Widyantoro. Pihaknya menegaskan jika dalam eksekusi tersebut tidak ada gejolak perseteruan selama proses pengosongan serta pembongkaran. “Intinya berjalan lancar,” tutupnya. (fif/lid)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/