alexametrics
21.4 C
Malang
Saturday, 28 May 2022

Masa Jabatan Dewanti-Punjul Sisa Setahun, Gerbong Politik Menghangat

KOTA BATU – Meski masih setahun lagi jelang berakhirnya masa tugas Wali Kota Batu Rumpoko, gerbong politik di kota wisata tersebut nampaknya mulai dipanasi. Sejumlah nama tokoh mulai disebut-sebut akan maju dalam kontestasi pemilihan kepala daerah (pilkada) Kota Batu.

Pengamat politik Universitas Brawijaya (UB)  Wawan Sobari menyebut, pergerakan mesin politik di Kota Batu diperkirakan baru akan terlihat pada 2022 mendatang. Itu karena sejauh ini dia belum melihat ada figur yang benar-benar muncul ke tengah publik dan menyampaikan keinginannya untuk maju dalam Pilkada Kota Batu tahun 2024 secara konkret.

Tes ombak tersebut misalnya bisa dilakukan lewat pemasangan banner, spanduk ataupun bentuk komunikasi visual lainnya. Namun ketimbang langkah persuasif, Wawan menilai bahwa strategi yang paling pas bagi calon figur untuk menarik simpati masyarakat saat ini adalah dengan karya atau kinerja kepada masyarakat.

“Itu yang paling penting, tunjukkan karya yang sudah dihasilkan,” kata pria yang juga dosen Jurusan Ilmu Politik FISIP UB itu. Wawan menambahkan, pihak yang ingin berpartisipasi dalam kontestasi politik juga harus mengutamakan figur. Artinya, bukan hanya nama partai saja yang menjadi patokan.

Wawan menyebut, calon pemilih berbasis partai kini dinilai sudah sangat sedikit jumlahnya. “Kalau menonjolkan partai nggak laku, karena pilkada itu figur yang dipilih. Orang lebih banyak memilih figur kandidat,” katanya.

Selain incumbent,  Wawan menyebut bahwa figur lama yang pernah mencalonkan pada Pilkada Kota Batu tahun 2017 juga sangat dimungkinkan untuk maju kembali. Termasuk pasangan incumbent. Karena Wali Kota Batu dan wakilnya saat ini masih satu periode menjabat. Tetapi kondisi tersebut akan dikembalikan lagi dalam keputusan rekomendasi partai. Peluang adanya penyegaran masih terbuka lebar.

“Misal seperti Bu Dewanti dipasangkan dengan lainnya karena butuh figur untuk menunjang kinerjanya di bidang industri kreatif, kemasyarakatan, pelayanan publik atau lainnya,” kata dia. Meski umumnya menang di atas kertas, Wawan mengingatkan bahwa pasangan incumbent juga masih bisa terkalahkan.

“Jadi jangan percaya diri dulu, sekarang saya sedang penelitian Pilkada Kabupaten Blitar. Jadi bisa menjadi pelajaran daerah lainnya bahwa incumbent bisa dikalahkan,” ujar Wawan.

Lalu bagi pasangan incumbent akan memiliki tantangan tersendiri karena akan ada jeda selama dua tahun untuk bersaing dengan figur lainnya. Kondisi ini menurutnya menjadi berkah bagi semua figur yang ingin maju dalam Pilkada Kota Batu tahun 2024. Artinya semua calon figur memiliki titik start untuk menginvestasikan kerja citranya di hadapan publik.

“Bagi saya tidak mudah tantangan incumbent. Bagaimana dia sudah tidak bersentuhan dengan aspek-aspek terhadap pelayanan ke publik untuk mempromosikan dirinya karena selama dua tahun sudah putus (masa jabatannya),” katanya. (nug/lid/rmc)

KOTA BATU – Meski masih setahun lagi jelang berakhirnya masa tugas Wali Kota Batu Rumpoko, gerbong politik di kota wisata tersebut nampaknya mulai dipanasi. Sejumlah nama tokoh mulai disebut-sebut akan maju dalam kontestasi pemilihan kepala daerah (pilkada) Kota Batu.

Pengamat politik Universitas Brawijaya (UB)  Wawan Sobari menyebut, pergerakan mesin politik di Kota Batu diperkirakan baru akan terlihat pada 2022 mendatang. Itu karena sejauh ini dia belum melihat ada figur yang benar-benar muncul ke tengah publik dan menyampaikan keinginannya untuk maju dalam Pilkada Kota Batu tahun 2024 secara konkret.

Tes ombak tersebut misalnya bisa dilakukan lewat pemasangan banner, spanduk ataupun bentuk komunikasi visual lainnya. Namun ketimbang langkah persuasif, Wawan menilai bahwa strategi yang paling pas bagi calon figur untuk menarik simpati masyarakat saat ini adalah dengan karya atau kinerja kepada masyarakat.

“Itu yang paling penting, tunjukkan karya yang sudah dihasilkan,” kata pria yang juga dosen Jurusan Ilmu Politik FISIP UB itu. Wawan menambahkan, pihak yang ingin berpartisipasi dalam kontestasi politik juga harus mengutamakan figur. Artinya, bukan hanya nama partai saja yang menjadi patokan.

Wawan menyebut, calon pemilih berbasis partai kini dinilai sudah sangat sedikit jumlahnya. “Kalau menonjolkan partai nggak laku, karena pilkada itu figur yang dipilih. Orang lebih banyak memilih figur kandidat,” katanya.

Selain incumbent,  Wawan menyebut bahwa figur lama yang pernah mencalonkan pada Pilkada Kota Batu tahun 2017 juga sangat dimungkinkan untuk maju kembali. Termasuk pasangan incumbent. Karena Wali Kota Batu dan wakilnya saat ini masih satu periode menjabat. Tetapi kondisi tersebut akan dikembalikan lagi dalam keputusan rekomendasi partai. Peluang adanya penyegaran masih terbuka lebar.

“Misal seperti Bu Dewanti dipasangkan dengan lainnya karena butuh figur untuk menunjang kinerjanya di bidang industri kreatif, kemasyarakatan, pelayanan publik atau lainnya,” kata dia. Meski umumnya menang di atas kertas, Wawan mengingatkan bahwa pasangan incumbent juga masih bisa terkalahkan.

“Jadi jangan percaya diri dulu, sekarang saya sedang penelitian Pilkada Kabupaten Blitar. Jadi bisa menjadi pelajaran daerah lainnya bahwa incumbent bisa dikalahkan,” ujar Wawan.

Lalu bagi pasangan incumbent akan memiliki tantangan tersendiri karena akan ada jeda selama dua tahun untuk bersaing dengan figur lainnya. Kondisi ini menurutnya menjadi berkah bagi semua figur yang ingin maju dalam Pilkada Kota Batu tahun 2024. Artinya semua calon figur memiliki titik start untuk menginvestasikan kerja citranya di hadapan publik.

“Bagi saya tidak mudah tantangan incumbent. Bagaimana dia sudah tidak bersentuhan dengan aspek-aspek terhadap pelayanan ke publik untuk mempromosikan dirinya karena selama dua tahun sudah putus (masa jabatannya),” katanya. (nug/lid/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/