alexametrics
23.6 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Dinkes Kota Batu Siapkan Ketersediaan Obat

KOTA BATU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu harus menyiapkan ketersediaan obat selama kurun 18 bulan ke depan. Selama ini sebelum masa pendemi Covid-19 dinkes hanya menyiapkan obat untuk memenuhi kebutuhan 5 puskesmas. Namun, sejak ada pandemi dinkes juga harus menyediakan obat untuk memenuhi kebutuhan satu shelter yaitu di Yayasan Pelayanan Pekabaran Injil Indonesia (YPPPI) Kota Batu.
Menurut Dian Lindawati, Kasi Kefarmasian dan Pengawasan Keamanan Makanan Dinkes Kota Batu, setiap tahun dinkes membuat rencana kebutuhan obat (RKO) untuk stok setahun di lima puskesmas yang ada di Kota Batu. Namun, meski tertulis untuk kebutuhan setahun, tetapi diprogramkan untuk bisa memenuhi kebutuhan 18 bulan.
Hal tersebut dilakukan karena untuk persiapan jika ada kebutuhan tak terduga yang membutuhkan obat yang banyak. “Supaya kalau ada kebutuhan obat dalam jumlah banyak sewaktu-waktu tetap bisa mencukupi,” tegas Linda.
Sementara itu ditanya soal masa expired obat, Linda menyampaikan ada yang hingga 18 bulan ada yang tidak sampai 18 bulan dan ada yang hanya 12 bulan. Setiap obat lanjut dia memiliki masa expired yang berbeda. Sehingga dinkes juga harus memantau tanggal kedaluwarsanya. Selama ini lanjut dia obat yang tersedia di semua puskesmas di Kota Batu selalu dipantau dan tidak ada yang kedaluwarsa.
Lalu jika sudah dinyatakan kedaluwarsa maka obat tersebut sudah dikategorikan dalam limbah medis yang harus dihancurkan. “Namun kami tidak bisa langsung menghancurkan obat itu, tetapi harus bekerja sama dengan pihak ketiga,” ungkap dia.
Alasannya untuk memusnahkan obat kedaluwarsa tidak bisa sembarangan. Harus ada alat dan tempat pembuangannya sendiri. Mengingat limbah obat termasuk limbah yang berbahaya.
Ditanya soal obat yang paling banyak digunakan, Linda menyampaikan tidak bisa dipastikan. Karena kebutuhan obat tidak selalu sama dengan jumlah penyakit yang diderita oleh masyarakat. Bisa juga meski penyakitnya terlihat sama, tetapi obat yang diberikan berbeda. Karena masing-masing penyakit yang ada di pasien memiliki karakter yang berbeda beda. Misal, untuk sakit panas ada yang disertai batuk pilek ada yang tidak. Sehingga meski sama-sama panas, obatnya berbeda.” Jadi obat yang diberikan tergantung gejala yang diderita pasien,” pungkas Linda. (lid)

KOTA BATU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu harus menyiapkan ketersediaan obat selama kurun 18 bulan ke depan. Selama ini sebelum masa pendemi Covid-19 dinkes hanya menyiapkan obat untuk memenuhi kebutuhan 5 puskesmas. Namun, sejak ada pandemi dinkes juga harus menyediakan obat untuk memenuhi kebutuhan satu shelter yaitu di Yayasan Pelayanan Pekabaran Injil Indonesia (YPPPI) Kota Batu.
Menurut Dian Lindawati, Kasi Kefarmasian dan Pengawasan Keamanan Makanan Dinkes Kota Batu, setiap tahun dinkes membuat rencana kebutuhan obat (RKO) untuk stok setahun di lima puskesmas yang ada di Kota Batu. Namun, meski tertulis untuk kebutuhan setahun, tetapi diprogramkan untuk bisa memenuhi kebutuhan 18 bulan.
Hal tersebut dilakukan karena untuk persiapan jika ada kebutuhan tak terduga yang membutuhkan obat yang banyak. “Supaya kalau ada kebutuhan obat dalam jumlah banyak sewaktu-waktu tetap bisa mencukupi,” tegas Linda.
Sementara itu ditanya soal masa expired obat, Linda menyampaikan ada yang hingga 18 bulan ada yang tidak sampai 18 bulan dan ada yang hanya 12 bulan. Setiap obat lanjut dia memiliki masa expired yang berbeda. Sehingga dinkes juga harus memantau tanggal kedaluwarsanya. Selama ini lanjut dia obat yang tersedia di semua puskesmas di Kota Batu selalu dipantau dan tidak ada yang kedaluwarsa.
Lalu jika sudah dinyatakan kedaluwarsa maka obat tersebut sudah dikategorikan dalam limbah medis yang harus dihancurkan. “Namun kami tidak bisa langsung menghancurkan obat itu, tetapi harus bekerja sama dengan pihak ketiga,” ungkap dia.
Alasannya untuk memusnahkan obat kedaluwarsa tidak bisa sembarangan. Harus ada alat dan tempat pembuangannya sendiri. Mengingat limbah obat termasuk limbah yang berbahaya.
Ditanya soal obat yang paling banyak digunakan, Linda menyampaikan tidak bisa dipastikan. Karena kebutuhan obat tidak selalu sama dengan jumlah penyakit yang diderita oleh masyarakat. Bisa juga meski penyakitnya terlihat sama, tetapi obat yang diberikan berbeda. Karena masing-masing penyakit yang ada di pasien memiliki karakter yang berbeda beda. Misal, untuk sakit panas ada yang disertai batuk pilek ada yang tidak. Sehingga meski sama-sama panas, obatnya berbeda.” Jadi obat yang diberikan tergantung gejala yang diderita pasien,” pungkas Linda. (lid)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/