alexametrics
29.6 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Ampuh Tangkal Korona, Kampung Tangguh dan PSBB Lokal Diadopsi Pusat

DITERPA badai Covid-19 tak membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melempem. Justru sebaliknya, pemerintah yang dinahkodai oleh Wali Kota Malang Sutiaji itu tertantang menciptakan inovasi penangkal korona, tanpa mengesampingkan pelayanan publik. Salah satu inovasi yang menjadi rujukan nasional dalam memutus rantai sebaran virus korona adalah pembentukan Kampung Tangguh

`”Kampung Tangguh itu harus diakui, lahir dan tumbuh di Kota Malang,” ujar Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadiskominfo) Kota Malang Nur Widianto, kemarin.

Wiwid, panggilan akrab Nur Widianto itu menambahkan, keberadaan Kampung Tangguh diyakini menjadi salah satu faktor terkendalinya jumlah kasus positif Covid-19 di Kota Pendidikan ini. Hal itu terlihat dari penurunan jumlah rukun tetangga (RT) yang masuk kategori zona kuning. Dari sebelumnya 205 RT yang masuk zona kuning, kini hanya tersisa 11 RT.

Baca juga : Kampung Tangguh di Malang Ini Kembangkan Budidaya Lele Organik

Selain pembentukan Kampung Tangguh, inovasi lain milik pemkot yang go national adalah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) lokal. PSBB skala mikro ini juga diadopsi oleh pemerintah pusat dalam menekan kasus Covid-19 di berbagai daerah di Indonesia.

Terpisah, Wali Kota Malang Sutiaji memaparkan kronologi PSBB lokal yang diadopsi oleh pemerintah pusat. ”Kita menginisiasi dulu (PSBB lokal). Sekarang PPKM mikro, dulu kan PSBB lokal,” ungkap Sutiaji.

Upaya lain yang dilakukan Pemkot untuk membatasi mobilitas masyarakat guna menekan penularan adalah membatasi jam operasional. Mulai dari work from home (WFH) instansi pemerintah maupun swasta dengan proporsi 50:50. Hal serupa juga berlaku di tempat perbelanjaan yang dibatasi hingga pukul 20.00.

Kebijakan lain yang berhasil menekan sebaran Covid-19 adalah penyiapan safe house. Fasilitas ini disediakan untuk pasien dengan status orang tanpa gejala (OTG), serta gejala ringan yang harus isolasi mandiri.

Safe house yang berlokasi di gedung BPSDM Provinsi Jatim itu pertama kali digunakan pada Juli 2020 lalu. Keterisian tempat tidur di safe house pernah mencapai 96 persen. Hal itu menunjukkan bahwa pemanfaatan safe house untuk isolasi mandiri pasien Covid-19 terbilang optimal. ”Sekarang ini keterisian tempat tidur safe house berkisar 30 persen,” kata Kadinkes Kota Malang dr Husnul Muarif.

Di sisi lain, pemkot juga tidak melupakan pelayanan publik. Itu terlihat dari peningkatan inovasi di bidang pelayanan publik. Terhitung tiga tahun terakhir, jumlah inovasi pelayanan Pemkot Malang bertambah rata-rata dua kali lipat. Pada 2019 lalu, jumlah inovasi pelayanan publik di Kota Malang masih 11 inovasi. Lalu, 2020 naik dua kali lipat menjadi 21 inovasi serta pada 2021 ini jumlah inovasi yang dimiliki mencapai 45 inovasi. (adn/arl/dan/fia)

DITERPA badai Covid-19 tak membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melempem. Justru sebaliknya, pemerintah yang dinahkodai oleh Wali Kota Malang Sutiaji itu tertantang menciptakan inovasi penangkal korona, tanpa mengesampingkan pelayanan publik. Salah satu inovasi yang menjadi rujukan nasional dalam memutus rantai sebaran virus korona adalah pembentukan Kampung Tangguh

`”Kampung Tangguh itu harus diakui, lahir dan tumbuh di Kota Malang,” ujar Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadiskominfo) Kota Malang Nur Widianto, kemarin.

Wiwid, panggilan akrab Nur Widianto itu menambahkan, keberadaan Kampung Tangguh diyakini menjadi salah satu faktor terkendalinya jumlah kasus positif Covid-19 di Kota Pendidikan ini. Hal itu terlihat dari penurunan jumlah rukun tetangga (RT) yang masuk kategori zona kuning. Dari sebelumnya 205 RT yang masuk zona kuning, kini hanya tersisa 11 RT.

Baca juga : Kampung Tangguh di Malang Ini Kembangkan Budidaya Lele Organik

Selain pembentukan Kampung Tangguh, inovasi lain milik pemkot yang go national adalah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) lokal. PSBB skala mikro ini juga diadopsi oleh pemerintah pusat dalam menekan kasus Covid-19 di berbagai daerah di Indonesia.

Terpisah, Wali Kota Malang Sutiaji memaparkan kronologi PSBB lokal yang diadopsi oleh pemerintah pusat. ”Kita menginisiasi dulu (PSBB lokal). Sekarang PPKM mikro, dulu kan PSBB lokal,” ungkap Sutiaji.

Upaya lain yang dilakukan Pemkot untuk membatasi mobilitas masyarakat guna menekan penularan adalah membatasi jam operasional. Mulai dari work from home (WFH) instansi pemerintah maupun swasta dengan proporsi 50:50. Hal serupa juga berlaku di tempat perbelanjaan yang dibatasi hingga pukul 20.00.

Kebijakan lain yang berhasil menekan sebaran Covid-19 adalah penyiapan safe house. Fasilitas ini disediakan untuk pasien dengan status orang tanpa gejala (OTG), serta gejala ringan yang harus isolasi mandiri.

Safe house yang berlokasi di gedung BPSDM Provinsi Jatim itu pertama kali digunakan pada Juli 2020 lalu. Keterisian tempat tidur di safe house pernah mencapai 96 persen. Hal itu menunjukkan bahwa pemanfaatan safe house untuk isolasi mandiri pasien Covid-19 terbilang optimal. ”Sekarang ini keterisian tempat tidur safe house berkisar 30 persen,” kata Kadinkes Kota Malang dr Husnul Muarif.

Di sisi lain, pemkot juga tidak melupakan pelayanan publik. Itu terlihat dari peningkatan inovasi di bidang pelayanan publik. Terhitung tiga tahun terakhir, jumlah inovasi pelayanan Pemkot Malang bertambah rata-rata dua kali lipat. Pada 2019 lalu, jumlah inovasi pelayanan publik di Kota Malang masih 11 inovasi. Lalu, 2020 naik dua kali lipat menjadi 21 inovasi serta pada 2021 ini jumlah inovasi yang dimiliki mencapai 45 inovasi. (adn/arl/dan/fia)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/