alexametrics
22.3 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Kota Malang Berusia 108, MCC dan Penanganan Banjir Jadi Proyek Superprioritas

LIPUTAN KHUSUS HUT KE-108 KOTA MALANG

MALANG KOTA – Tahun ini bakal menjadi waktu supersibuk bagi Pemkot Malang. Sebab, ada 10 proyek pembangunan yang menjadi prioritas harus dikerjakan. Setelah puas dengan penyelesaian Jembatan Tunggulmas pada 2021 lalu, Pemkot Malang terus berpacu untuk menata sejumlah kawasan yang kerap dianggap tertinggal.

Dari 10 proyek prioritas tersebut, ada dua proyek yang menjadi superprioritas. Yakni menuntaskan pembangunan gedung Malang Creative Center (MCC) dan membuat masterplan drainase. Penyelesaian MCC, misalnya, ditarget selesai pada 21 Juli mendatang. Proyek tersebut dibangun sejak pertengahan 2021 lalu dan bersifat multiyears. Saat pembangunan selesai nanti, MCC diharapkan menjadi rumah bagi ratusan pelaku ekonomi kreatif (ekraf). Gedung setinggi 8 lantai itu setidaknya bisa menjadi percontohan untuk daerah lain yang ingin mengembangkan ekraf. ”MCC nanti menjadi silicon valley-nya pelaku ekraf Kota Malang, Jawa Timur, bahkan Indonesia,” tutur Wali Kota Malang Sutiaji.

Problem banjir yang kerap terjadi pada musim penghujan juga mulai diurai tahun ini. Untuk tahap awal, pemkot melakukan pemetaan saluran air atau masterplan drainase. Panjang drainase di Kota Malang saat ini mencapai 1.786 kilometer. Namun, 287 kilometer drainase tak dapat ber fungsi karena adanya pendangkalan dan penumpukan sampah. Dengan adanya masterplan drainase, setidaknya kerja pemkot memantau drainase dan banjir bisatertangani dengan ampuh.

Sebenarnya, pemkot masih memiliki prioritas pembangunan lain. Yakni kelanjutan pembangunan zona tiga Kajoetangan Heritage pada April tahun ini. Proyek tersebut bakal menyambung dengan zona satu dan zona dua yang sudah selesai pada awal 2021 lalu. Dengan penyelesaian proyek tersebut, Sutiaji berharap Kota Malang bisa menjadi lebih tertata dan generasi penerus bakal lebih mudah untuk menikmati hasil pembangunan. ”Kajoetangan ini saya ingin bawa kembali seperti masa lalu yang dijadikan pusat tongkrongan. Eman, kawasan ini sempat mati dan coba kami hidupkan lagi,” tegas Sutiaji.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Diah Ayu Kusumadewi menjelaskan, tahun ini pihaknya menggelontorkan anggaran sebesar Rp 267 miliar untuk 10 program prioritas tersebut. Dari jumlah tersebut, memang ada dua program prioritas. Yakni penuntasan banjir dan penyelesaian MCC. ”Kami sudah berkaca dari tahun lalu, banjir me mang menjadi masalah besar yang harus tuntas.

Gedung MCC juga harus tuntas tahun ini karena sudah ditarget selesai Juli depan,” bebernya. Pengerjaan gedung MCC saat ini sudah mencapai 71 persen. Capaian tersebut terbilang cukup baik, mengingat pada awal Maret lalu masih berada di angka 64 persen. Diah juga telah mengestimasi beberapa hal terkait tata letak ruangan hingga daya tampung pelaku ekraf yang bisa menampung ribuan orang.

Anggaran yang digelontorkan pem kot untuk pembangunan MCC tak bisa dibilang kecil. Yakni mencapai Rp 98 miliar. Namun dari jumlah tersebut, anggaran sebanyak Rp 25 miliar telah dibayarkan pemkot kepada PT Tiara Multi Teknik (PT TMT) selaku kontraktor pada akhir tahun lalu. Artinya, kekurangan pembayaran sebesar Rp 73 miliar bakal dibayarkan pemkot pada tahun ini. Nantinya, pembayaran bakal dilakukan setelah seluruh pembangunan usai.

Sementara untuk pengerjaan masterplan drainase, teknisnya dilakukan kerja sama dengan Prodi Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB). Kerja sama itu dilakukan karena pemkot juga perlu bantuan pemikiran pihak lain dalam memetakan drainase. ”Targetnya nanti, pada 2023 ada beberapa drainase yang tidak aktif bisa aktif kembali. Karena dari dulu kita nggak punya blueprint drainase,” katanya. Bahkan boozem atau kolam penangkal banjir yang ada di Kecamatan Blimbing juga bakal masuk dalam peta drainase tersebut.

Diah menyebut peta drainase itu ke depan bisa jadi rujukannya memelihara drainase. Khususnya lagi drainase yang susah dirawat karena di atasnya berdiri sebuah bangunan. Untuk pembuatan peta drainase bakal menerapkan sistem swakelola tipe 2. Artinya, beban kerja pemetaan drainase diserahkan ke pihak Teknik Pengairan FT UB. ”Saat ini masih dalam penyelesaian administrasi. Maret pokoknya kami mulai gerak,” tegas wanita yang juga men jadi Plt Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Malang itu.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jar woko mengungkapkan, tahun ini menjadi titik balik bagi pemkot dalam upaya pemulihan sejumlah sektor yang terdampak pandemi Covid-19. Hal yang paling utama adalah pemulihan ekonomi kota yang sudah perlahan membaik sejak tahun lalu. ”Tahun ini ekonomi bisa ditarget tumbuh hingga 5 persen. Maka kami beri wadah bagi pelaku UMKM untuk bisa ikut pameran di setiap acara pemkot supaya roda perekonomian tetap jalan,” kata pria yang kerap disapa Bung Edi itu.

Pemilik kursi N2 itu menargetkan Juli mendatang adalah awal kebangkitan pelaku UMKM. Pembangunan MCC yang saat itu sudah selesai 100 persen bisa jadi tempat inkubasi dan saling bertukar ilmu. Dengan kondisi seperti itu, roda perekonomian di masyarakat terus berputar seiring melandainya kasus Covid-19.

Tak hanya sektor ekonomi, sektor pendidikan juga men jadi fokus pemulihan pasca pan demi. Ketika digelar kembali pembelajaran tatap muka (PTM), maka sektor penunjang bakal kembali menggeliat. Edi berharap kondisi ini terus membaik. Tak hanya tahun ini, namun terus berlanjut tiap tahun. ”Kalau semua sudah kembali normal, kita lebih nyaman menata apapun, baik infrastruktur dan target lainnya,” terangnya. (adn/fat)

LIPUTAN KHUSUS HUT KE-108 KOTA MALANG

MALANG KOTA – Tahun ini bakal menjadi waktu supersibuk bagi Pemkot Malang. Sebab, ada 10 proyek pembangunan yang menjadi prioritas harus dikerjakan. Setelah puas dengan penyelesaian Jembatan Tunggulmas pada 2021 lalu, Pemkot Malang terus berpacu untuk menata sejumlah kawasan yang kerap dianggap tertinggal.

Dari 10 proyek prioritas tersebut, ada dua proyek yang menjadi superprioritas. Yakni menuntaskan pembangunan gedung Malang Creative Center (MCC) dan membuat masterplan drainase. Penyelesaian MCC, misalnya, ditarget selesai pada 21 Juli mendatang. Proyek tersebut dibangun sejak pertengahan 2021 lalu dan bersifat multiyears. Saat pembangunan selesai nanti, MCC diharapkan menjadi rumah bagi ratusan pelaku ekonomi kreatif (ekraf). Gedung setinggi 8 lantai itu setidaknya bisa menjadi percontohan untuk daerah lain yang ingin mengembangkan ekraf. ”MCC nanti menjadi silicon valley-nya pelaku ekraf Kota Malang, Jawa Timur, bahkan Indonesia,” tutur Wali Kota Malang Sutiaji.

Problem banjir yang kerap terjadi pada musim penghujan juga mulai diurai tahun ini. Untuk tahap awal, pemkot melakukan pemetaan saluran air atau masterplan drainase. Panjang drainase di Kota Malang saat ini mencapai 1.786 kilometer. Namun, 287 kilometer drainase tak dapat ber fungsi karena adanya pendangkalan dan penumpukan sampah. Dengan adanya masterplan drainase, setidaknya kerja pemkot memantau drainase dan banjir bisatertangani dengan ampuh.

Sebenarnya, pemkot masih memiliki prioritas pembangunan lain. Yakni kelanjutan pembangunan zona tiga Kajoetangan Heritage pada April tahun ini. Proyek tersebut bakal menyambung dengan zona satu dan zona dua yang sudah selesai pada awal 2021 lalu. Dengan penyelesaian proyek tersebut, Sutiaji berharap Kota Malang bisa menjadi lebih tertata dan generasi penerus bakal lebih mudah untuk menikmati hasil pembangunan. ”Kajoetangan ini saya ingin bawa kembali seperti masa lalu yang dijadikan pusat tongkrongan. Eman, kawasan ini sempat mati dan coba kami hidupkan lagi,” tegas Sutiaji.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Diah Ayu Kusumadewi menjelaskan, tahun ini pihaknya menggelontorkan anggaran sebesar Rp 267 miliar untuk 10 program prioritas tersebut. Dari jumlah tersebut, memang ada dua program prioritas. Yakni penuntasan banjir dan penyelesaian MCC. ”Kami sudah berkaca dari tahun lalu, banjir me mang menjadi masalah besar yang harus tuntas.

Gedung MCC juga harus tuntas tahun ini karena sudah ditarget selesai Juli depan,” bebernya. Pengerjaan gedung MCC saat ini sudah mencapai 71 persen. Capaian tersebut terbilang cukup baik, mengingat pada awal Maret lalu masih berada di angka 64 persen. Diah juga telah mengestimasi beberapa hal terkait tata letak ruangan hingga daya tampung pelaku ekraf yang bisa menampung ribuan orang.

Anggaran yang digelontorkan pem kot untuk pembangunan MCC tak bisa dibilang kecil. Yakni mencapai Rp 98 miliar. Namun dari jumlah tersebut, anggaran sebanyak Rp 25 miliar telah dibayarkan pemkot kepada PT Tiara Multi Teknik (PT TMT) selaku kontraktor pada akhir tahun lalu. Artinya, kekurangan pembayaran sebesar Rp 73 miliar bakal dibayarkan pemkot pada tahun ini. Nantinya, pembayaran bakal dilakukan setelah seluruh pembangunan usai.

Sementara untuk pengerjaan masterplan drainase, teknisnya dilakukan kerja sama dengan Prodi Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB). Kerja sama itu dilakukan karena pemkot juga perlu bantuan pemikiran pihak lain dalam memetakan drainase. ”Targetnya nanti, pada 2023 ada beberapa drainase yang tidak aktif bisa aktif kembali. Karena dari dulu kita nggak punya blueprint drainase,” katanya. Bahkan boozem atau kolam penangkal banjir yang ada di Kecamatan Blimbing juga bakal masuk dalam peta drainase tersebut.

Diah menyebut peta drainase itu ke depan bisa jadi rujukannya memelihara drainase. Khususnya lagi drainase yang susah dirawat karena di atasnya berdiri sebuah bangunan. Untuk pembuatan peta drainase bakal menerapkan sistem swakelola tipe 2. Artinya, beban kerja pemetaan drainase diserahkan ke pihak Teknik Pengairan FT UB. ”Saat ini masih dalam penyelesaian administrasi. Maret pokoknya kami mulai gerak,” tegas wanita yang juga men jadi Plt Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Malang itu.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jar woko mengungkapkan, tahun ini menjadi titik balik bagi pemkot dalam upaya pemulihan sejumlah sektor yang terdampak pandemi Covid-19. Hal yang paling utama adalah pemulihan ekonomi kota yang sudah perlahan membaik sejak tahun lalu. ”Tahun ini ekonomi bisa ditarget tumbuh hingga 5 persen. Maka kami beri wadah bagi pelaku UMKM untuk bisa ikut pameran di setiap acara pemkot supaya roda perekonomian tetap jalan,” kata pria yang kerap disapa Bung Edi itu.

Pemilik kursi N2 itu menargetkan Juli mendatang adalah awal kebangkitan pelaku UMKM. Pembangunan MCC yang saat itu sudah selesai 100 persen bisa jadi tempat inkubasi dan saling bertukar ilmu. Dengan kondisi seperti itu, roda perekonomian di masyarakat terus berputar seiring melandainya kasus Covid-19.

Tak hanya sektor ekonomi, sektor pendidikan juga men jadi fokus pemulihan pasca pan demi. Ketika digelar kembali pembelajaran tatap muka (PTM), maka sektor penunjang bakal kembali menggeliat. Edi berharap kondisi ini terus membaik. Tak hanya tahun ini, namun terus berlanjut tiap tahun. ”Kalau semua sudah kembali normal, kita lebih nyaman menata apapun, baik infrastruktur dan target lainnya,” terangnya. (adn/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/