alexametrics
30.5 C
Malang
Sunday, 3 July 2022

Kesaktian Pancasila, Lawan Covid Jadikan Momen Rekonsiliasi Nasional

MALANG-KOTA –Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober, semua elemen bangsa diharapkan jangan memperuncing diri dari perbedaan sejarah kelam, namun fokus perkuat konsensus ideologi Pancasila, Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta tekat bulat menjaga NKRI untuk kemajuan bangsa.

Demikian disampaikan Ketua PD XIII GM FKPPI Jatim, Ir R Agoes Soerjanto dalam refleksi nasional jelang Hari Kesaktian Pancasila, Rabu (30/9).

“Sejarah mencatat perjuangan semua elemen masyarakat, baik founding father maupun founding mother mampu meraih kemerdekaan. Kita juga menyadarinya dalam meraihnya terjadi perbedaan pendapat dan persepsi diantara kalangan anak anak bangsa,” paparnya.

Namun, di akhir semua perbedaan pendapat dan persepsi itu, semua anak anak bangsa telah menyepakati, konsesus nasional yakni melahirkan dan tegak lurus menjalankan Ideologi Pancasila serta menjaga konstitusi Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 dan NKRI sebagai bentuk negara yang disepakati.

Konsensus itu sifatnya final, dan tidak surut dilekang waktu, ataupun menghadapi tantangan dan gangguan apapun. “GM FKPPI Jatim menyerukan agar sejarah kelam apapun yang pernah terjadi di Indonesia boleh diingat, tapi memahaminya, bahwa itu bagian dari sejarah perjalanan membangun bangsa,” paparnya.

Kita semua tahu, sebelum maupun sesudah peristiwa tahun 1965 terjadi pula tragedi kemanusiaan, penghilangan nyawa secara massal, banyak korban baik dari kalangan pemuka agama, para ulama, para kiai, juga para jendral, para tokoh pejuang, dan kalangan sipil lainnya.

“Marilah peristiwa kelam itu kita sadari bersama sebagai bagian dari perjalanan bangsa yang kita cintai ini. Kita rajut kembali rasa Bhinneka Tunggal Ika. Mari bergandengan tangan, saling menguatkan, fokus bersama sama bersatu memajukan negeri yang sangat kita cintai ini,” harapnya.

Ditambahkan Agoes, agar generasi kedepan juga tidak terbebani sejarah kelam, GM FKPPI lantang menegaskan terus gelorakan perkuat persatuan, gelorakan kebhinekaaan, serta serukan menjaga NKRI. Mengokohkan Pancasila dan NKRI itu bagian penting komitmen nasional

“Hidup berbhinekka tunggal ika itu adalah menghargai berbagai perbedaan yang selama ini ada, baik dalam bermasyarakat dan bernegara. Jangan sampai, ujungnya kita bisa terpecah, hanya karena kita egois berusaha meluruskan sejarah kelam. Apalagi berusaha menggali itu semua, dan memaksakan semuanya itu benar,” ingatnya.

Dijelaskan Agoes, para pejuang bangsa banyak melakukan intropeksi atas segala peristiwa laten yang mengancam keutuhan NKRI dan kelak agar tidak muncul kembali, maka para pendiri bangsa membentengi dengan dilahirkan beberapa ketetapan konstitusi seperti Ketetapan MPRS No. XXV/ MPRS/1966 Tahun 1966 dan Undang Undang Nomor 24 tahun 2003, termasuk sekarang dibahas RUU BPIP sebagai upaya untuk mengokohkan Pancasila.

“Sudah selesai urusan sejarah, sekali lagi, kini tugas kita adalah membentengi Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Kita lindungi Indonesia yang hebat ini, karena para pendiri bangsa ini mampu mempersatukan beragam perbedaan, mulai ras, suku, agama dan berbagai keyakinan dan pandangan. Bagaimana saktinya Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia mampu melawan berbagai ancaman dan gangguan yang merongrong NKRI,” tegasnya lantang

Agoes juga menyinggung fenomena peristiwa yang sensitif mengarah upaya membenturkan kelompok agama, karenanya GM FKPPI mendukung langkah pemerintah untuk bertindak tegas dan respect pada penegakan hukum. “Ketegasan ini penting menjadi bagian dari membentengi NKRI agar menjaga persatuan bangsa.

Terakhir, Agoes tegaskan adanya wabah pandemi Covid-19 ini, jadikan momentum rekonsiliasi bersama menyelamatkan NKRI. “Kita punya momentum untuk menanggalkan segala perbedaan tentang sejarah kelam, kini waktunya kita kompak bersatu dibawah panji panji Pancasila untuk melawan Covid 19. Jadikan ini moment catatan sejarah baru, bahwa kita mampu mengalahkan egoisme kita dan menjunjung tinggi kepentingan yang lebih besar yakni menyelamatkan NKRI,” pungkasnya.

Pewarta: Galih R Praseto

MALANG-KOTA –Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober, semua elemen bangsa diharapkan jangan memperuncing diri dari perbedaan sejarah kelam, namun fokus perkuat konsensus ideologi Pancasila, Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta tekat bulat menjaga NKRI untuk kemajuan bangsa.

Demikian disampaikan Ketua PD XIII GM FKPPI Jatim, Ir R Agoes Soerjanto dalam refleksi nasional jelang Hari Kesaktian Pancasila, Rabu (30/9).

“Sejarah mencatat perjuangan semua elemen masyarakat, baik founding father maupun founding mother mampu meraih kemerdekaan. Kita juga menyadarinya dalam meraihnya terjadi perbedaan pendapat dan persepsi diantara kalangan anak anak bangsa,” paparnya.

Namun, di akhir semua perbedaan pendapat dan persepsi itu, semua anak anak bangsa telah menyepakati, konsesus nasional yakni melahirkan dan tegak lurus menjalankan Ideologi Pancasila serta menjaga konstitusi Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 dan NKRI sebagai bentuk negara yang disepakati.

Konsensus itu sifatnya final, dan tidak surut dilekang waktu, ataupun menghadapi tantangan dan gangguan apapun. “GM FKPPI Jatim menyerukan agar sejarah kelam apapun yang pernah terjadi di Indonesia boleh diingat, tapi memahaminya, bahwa itu bagian dari sejarah perjalanan membangun bangsa,” paparnya.

Kita semua tahu, sebelum maupun sesudah peristiwa tahun 1965 terjadi pula tragedi kemanusiaan, penghilangan nyawa secara massal, banyak korban baik dari kalangan pemuka agama, para ulama, para kiai, juga para jendral, para tokoh pejuang, dan kalangan sipil lainnya.

“Marilah peristiwa kelam itu kita sadari bersama sebagai bagian dari perjalanan bangsa yang kita cintai ini. Kita rajut kembali rasa Bhinneka Tunggal Ika. Mari bergandengan tangan, saling menguatkan, fokus bersama sama bersatu memajukan negeri yang sangat kita cintai ini,” harapnya.

Ditambahkan Agoes, agar generasi kedepan juga tidak terbebani sejarah kelam, GM FKPPI lantang menegaskan terus gelorakan perkuat persatuan, gelorakan kebhinekaaan, serta serukan menjaga NKRI. Mengokohkan Pancasila dan NKRI itu bagian penting komitmen nasional

“Hidup berbhinekka tunggal ika itu adalah menghargai berbagai perbedaan yang selama ini ada, baik dalam bermasyarakat dan bernegara. Jangan sampai, ujungnya kita bisa terpecah, hanya karena kita egois berusaha meluruskan sejarah kelam. Apalagi berusaha menggali itu semua, dan memaksakan semuanya itu benar,” ingatnya.

Dijelaskan Agoes, para pejuang bangsa banyak melakukan intropeksi atas segala peristiwa laten yang mengancam keutuhan NKRI dan kelak agar tidak muncul kembali, maka para pendiri bangsa membentengi dengan dilahirkan beberapa ketetapan konstitusi seperti Ketetapan MPRS No. XXV/ MPRS/1966 Tahun 1966 dan Undang Undang Nomor 24 tahun 2003, termasuk sekarang dibahas RUU BPIP sebagai upaya untuk mengokohkan Pancasila.

“Sudah selesai urusan sejarah, sekali lagi, kini tugas kita adalah membentengi Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Kita lindungi Indonesia yang hebat ini, karena para pendiri bangsa ini mampu mempersatukan beragam perbedaan, mulai ras, suku, agama dan berbagai keyakinan dan pandangan. Bagaimana saktinya Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia mampu melawan berbagai ancaman dan gangguan yang merongrong NKRI,” tegasnya lantang

Agoes juga menyinggung fenomena peristiwa yang sensitif mengarah upaya membenturkan kelompok agama, karenanya GM FKPPI mendukung langkah pemerintah untuk bertindak tegas dan respect pada penegakan hukum. “Ketegasan ini penting menjadi bagian dari membentengi NKRI agar menjaga persatuan bangsa.

Terakhir, Agoes tegaskan adanya wabah pandemi Covid-19 ini, jadikan momentum rekonsiliasi bersama menyelamatkan NKRI. “Kita punya momentum untuk menanggalkan segala perbedaan tentang sejarah kelam, kini waktunya kita kompak bersatu dibawah panji panji Pancasila untuk melawan Covid 19. Jadikan ini moment catatan sejarah baru, bahwa kita mampu mengalahkan egoisme kita dan menjunjung tinggi kepentingan yang lebih besar yakni menyelamatkan NKRI,” pungkasnya.

Pewarta: Galih R Praseto

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/