alexametrics
22.3 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Dishub Kota Malang Warning Lafayette, Parkir VIP Hanya 3 Mobil

Urusan parkir di Kafe Lafayette sudah dua kali mendapat peringatan dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang. Meski kini sudah ada kesepakatan yang terjalin antara kedua belah pihak, Dishub tetap memberi perhatian khusus untuk kafe itu. Seperti apa pelanggarannya?

—————–

Kasus ini bisa menjadi pelajaran bersama, khususnya bagi para pengusaha. Punya bisnis tentu sah-sah saja. Namun, tetap harus memperhatikan beberapa fasilitas pendukung. Utamanya yakni tempat parkir. Bila sarana itu tidak dipenuhi, bisa-bisa permasalahan yang terjadi di Kafe Lafayette yang berada di kawasan Kajoetangan Heritage terulang lagi. Pada 22 April lalu, kafe tersebut sempat ramai diperbincangkan usai disidak petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang. Gara-garanya lahan parkir yang banyak menggunakan bahu jalan.

Akibatnya, kemacetan panjang dari arah barat perempatan rajabally sering terjadi. Adu mulut antara personel dishub dengan pemilik kafe di sana sempat tersaji saat itu. Beberapa waktu kemudian, muncul dugaan bila Kafe Lafayette itu telah menyalahi aturan analisis dampak lalu lintas (amdal lalin). Jumat lalu (30/4) Jawa Pos Radar Malang mengonfirmasi perihal itu kepada Yusuf, pemilik Kafe Lafayette. Dia menyebut bila permasalahan itu mencuat karena kurangnya komunikasi antara petugas lapangan Dishub Kota Malang dengan pihaknya.

Sedari awal, dia memastikan bila kepengurusan izin telah dipenuhi pihaknya. Di dalamnya juga ada pembahasan soal parkir untuk pengunjung kafe yang akan dilakukan dengan sistem parkir valet. Untuk diketahui, itu merupakan layanan parkir yang dilakukan oleh petugas valet kepada pemilik kendaraan. Sehingga pengunjung tidak perlu memikirkan dan mencari lokasi parkir karena ada petugas yang akan mengaturnya. Nah, Yusuf menyebut bila lokasi dari layanan parkir itu juga sudah ditentukan. ”Ada di Hotel Trio Indah, Jalan Basuki Rahmat dan Senaputra,” kata dia.

Dia juga menyebut bila sistem itu juga ada batasannya. Di-plot hanya untuk pemilik kafe dan tamu VIP. ”Kami sudah ngobrol panjang lebar ke dishub terkait parkir, bahkan mereka bilang boleh saat awal kepengurusan (izin),” cerita Yusuf. Dia melanjutkan bila kasus yang terjadi 22 April lalu didasari atas sikap pihak dishub yang mempermasalahkan adanya juru parkir (jukir). Kepada koran ini, dia memastikan bila manajemen Kafe Lafayette tidak mengambil sepeser pun rupiah dari parkir itu. Uang parkir tersebut, menurut dia, dikelola oleh warga sekitar yang juga bergantung pada operasional kafe.

Sikap keberatan sempat ditunjukkan pihaknya karena menganggap jalan cekungan yang menjadi lokasi parkir motor itu masih menjadi lahan milik kafe. Itu karena secara historis, dia menyebut bila cekungan jalan tersebut di-plot sebagai lokasi pemberhentian penumpang dan untuk parkir. Yusuf juga menyayangkan sikap pihak Dishub Kota Malang yang sempat mengempesi ban milik pengunjung kafe tanpa ada audiensi terlebih dahulu. Puncak kekesalan pihaknya terjadi saat sidak kedua, ketika petugas dishub memasang rambu larangan parkir. ”Niat saya baik untuk memperbaiki kawasan ini. Jika saya salah, saya sudah siap dengan bukti yang ada,” tegasnya.

Di tempat lain, Kepala Bidang (Kabid) Parkir Dishub Kota Malang Mustaqim Jaya menyebut bila pasca sidak 22 April lalu, kini sudah ada kesepakatan yang terjalin dengan pemilik kafe. Kesepakatannya yakni pemberlakuan sistem parkir valet. ”Iya, kami sudah menyepakati dengan sang pemilik untuk tidak menggunakan bahu jalan tersebut untuk parkir, apalagi sampai ada juru parkir (jukir),” kata dia.
Kesepakatan berikutnya yang terjalin yakni adanya pembatasan kendaraan yang parkir di depan kafe. Maksimal hanya boleh berisi 4 mobil. Itu di-plot untuk pemilik kafe dan tiga tamu VIP.

Jika ditemui pelanggaran, pihaknya mengaku tidak akan segan untuk melakukan razia lagi. Sikap itu ditunjukkan karena dia menyebut bila sang pemilik kafe sudah mendapat peringatan dua kali dan tidak pernah digubris. Di sisi lain, Mustaqim juga menyebut bila permasalahan yang sebenarnya terjadi 22 April lalu dilandasi atas keberadaan jukir. Sebab, di sana telah terpasang rambu larangan berhenti. Terkait klaim lahan parkir di area cekungan jalan, dia menegaskan bila kawasan itu adalah sarana umum. Jika pengunjung ingin memarkirkan kendaraannya, maka harus parkir di tempat lain yang sudah disediakan.(rmc/adn/c1/by)

Urusan parkir di Kafe Lafayette sudah dua kali mendapat peringatan dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang. Meski kini sudah ada kesepakatan yang terjalin antara kedua belah pihak, Dishub tetap memberi perhatian khusus untuk kafe itu. Seperti apa pelanggarannya?

—————–

Kasus ini bisa menjadi pelajaran bersama, khususnya bagi para pengusaha. Punya bisnis tentu sah-sah saja. Namun, tetap harus memperhatikan beberapa fasilitas pendukung. Utamanya yakni tempat parkir. Bila sarana itu tidak dipenuhi, bisa-bisa permasalahan yang terjadi di Kafe Lafayette yang berada di kawasan Kajoetangan Heritage terulang lagi. Pada 22 April lalu, kafe tersebut sempat ramai diperbincangkan usai disidak petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang. Gara-garanya lahan parkir yang banyak menggunakan bahu jalan.

Akibatnya, kemacetan panjang dari arah barat perempatan rajabally sering terjadi. Adu mulut antara personel dishub dengan pemilik kafe di sana sempat tersaji saat itu. Beberapa waktu kemudian, muncul dugaan bila Kafe Lafayette itu telah menyalahi aturan analisis dampak lalu lintas (amdal lalin). Jumat lalu (30/4) Jawa Pos Radar Malang mengonfirmasi perihal itu kepada Yusuf, pemilik Kafe Lafayette. Dia menyebut bila permasalahan itu mencuat karena kurangnya komunikasi antara petugas lapangan Dishub Kota Malang dengan pihaknya.

Sedari awal, dia memastikan bila kepengurusan izin telah dipenuhi pihaknya. Di dalamnya juga ada pembahasan soal parkir untuk pengunjung kafe yang akan dilakukan dengan sistem parkir valet. Untuk diketahui, itu merupakan layanan parkir yang dilakukan oleh petugas valet kepada pemilik kendaraan. Sehingga pengunjung tidak perlu memikirkan dan mencari lokasi parkir karena ada petugas yang akan mengaturnya. Nah, Yusuf menyebut bila lokasi dari layanan parkir itu juga sudah ditentukan. ”Ada di Hotel Trio Indah, Jalan Basuki Rahmat dan Senaputra,” kata dia.

Dia juga menyebut bila sistem itu juga ada batasannya. Di-plot hanya untuk pemilik kafe dan tamu VIP. ”Kami sudah ngobrol panjang lebar ke dishub terkait parkir, bahkan mereka bilang boleh saat awal kepengurusan (izin),” cerita Yusuf. Dia melanjutkan bila kasus yang terjadi 22 April lalu didasari atas sikap pihak dishub yang mempermasalahkan adanya juru parkir (jukir). Kepada koran ini, dia memastikan bila manajemen Kafe Lafayette tidak mengambil sepeser pun rupiah dari parkir itu. Uang parkir tersebut, menurut dia, dikelola oleh warga sekitar yang juga bergantung pada operasional kafe.

Sikap keberatan sempat ditunjukkan pihaknya karena menganggap jalan cekungan yang menjadi lokasi parkir motor itu masih menjadi lahan milik kafe. Itu karena secara historis, dia menyebut bila cekungan jalan tersebut di-plot sebagai lokasi pemberhentian penumpang dan untuk parkir. Yusuf juga menyayangkan sikap pihak Dishub Kota Malang yang sempat mengempesi ban milik pengunjung kafe tanpa ada audiensi terlebih dahulu. Puncak kekesalan pihaknya terjadi saat sidak kedua, ketika petugas dishub memasang rambu larangan parkir. ”Niat saya baik untuk memperbaiki kawasan ini. Jika saya salah, saya sudah siap dengan bukti yang ada,” tegasnya.

Di tempat lain, Kepala Bidang (Kabid) Parkir Dishub Kota Malang Mustaqim Jaya menyebut bila pasca sidak 22 April lalu, kini sudah ada kesepakatan yang terjalin dengan pemilik kafe. Kesepakatannya yakni pemberlakuan sistem parkir valet. ”Iya, kami sudah menyepakati dengan sang pemilik untuk tidak menggunakan bahu jalan tersebut untuk parkir, apalagi sampai ada juru parkir (jukir),” kata dia.
Kesepakatan berikutnya yang terjalin yakni adanya pembatasan kendaraan yang parkir di depan kafe. Maksimal hanya boleh berisi 4 mobil. Itu di-plot untuk pemilik kafe dan tiga tamu VIP.

Jika ditemui pelanggaran, pihaknya mengaku tidak akan segan untuk melakukan razia lagi. Sikap itu ditunjukkan karena dia menyebut bila sang pemilik kafe sudah mendapat peringatan dua kali dan tidak pernah digubris. Di sisi lain, Mustaqim juga menyebut bila permasalahan yang sebenarnya terjadi 22 April lalu dilandasi atas keberadaan jukir. Sebab, di sana telah terpasang rambu larangan berhenti. Terkait klaim lahan parkir di area cekungan jalan, dia menegaskan bila kawasan itu adalah sarana umum. Jika pengunjung ingin memarkirkan kendaraannya, maka harus parkir di tempat lain yang sudah disediakan.(rmc/adn/c1/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/