alexametrics
22.8 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Tak Lagi Punya Lahan Pemakaman, Kuburan Noni Belanda pun Dibongkar

MALANG KOTA – Krisis lahan pemakaman di Kota Malang nampaknya harus segera mendapat penanganan. Salah satu tempat pemakaman umum (TPU) di kota ini bahkan disebut sudah tidak bisa lagi menampung jenazah untuk dimakamkan. Pembongkaran maupun penumpukan jenazah bahkan sudah menjadi hal yang biasa.

Kondisi ini bukan baru saja terjadi. Melainkan sudah sejak tiga tahun belakangan. Seperti yang terjadi di TPU Sukun yang menjadi tempat pemakaman khusus umat nonmuslim. TPU terbesar di Kota Malang itu sudah tak mampu lagi menampung jenazah umat Kristiani.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Malang, ketidakmampuan TPU Sukun dalam menampung jenazah umat kristiani benar-benar terlihat pada Senin (1/11). Saat wartawan media ini mendatangi kompleks pemakaman tersebut, seorang praktisi supranatural tengah memimpin prosesi pembongkaran makam.

Pria berinisial K itu menuturkan bahwa makam yang dibongkar tersebut sudah bertahun-tahun tidak dikonfirmasi oleh pihak keluarga. Makam yang dibongkar  tersebut diketahui adalah peristirahatan seorang noni Belanda yang tinggal di wilayah Malang di era kolonial.

Selanjutnya, makam yang dibongkar tersebut bakal ditumpangi oleh orang lain. “Karena keluarga di Belanda tidak konfirmasi ke sini (TPU Sukun). Ketika ada jenazah baru, terpaksa kami bongkar dan kami tumpangi,” kata pria yang enggan namanya di korankan itu.

Secara fisik, dia menyebut bahwa kondisi makam yang sudah berusia ratusan tahun itu sudah kosong. Alias kerangkanya sudah membaur dengan tanah.

Terpisah, Juru Kunci TPU Sukun Kasemin mengatakan jika pihaknya sempat kebanjiran pemakaman jenazah pada bulan Juli lalu. Dia mengatakan ada, sekitar kurang lebih 55 Jenazah yang dimakamkan di TPU Sukun. “Semuanya karena korban dari Covid 19,” ucapnya.

Kasemin melanjutkan, untuk makam yang sudah tidak dirawat atau di pasrahkan jasa perawatannya pihaknya biasanya akan membongkar dan menumpanginya dengan jenazah yang baru.

“Ya banyak, seperti makam makam Belanda ini, banyak yang kita bongkar,” ucapnya.

Dari aspek sejarah, TPU Sukun boleh dibilang merupakan salah satu kawasan bersejarah yang ada di Kota Malang. Sekitar 200 makam noni dan tuan Belanda berada di kompleks seluas 120 ribu meter persegi itu. Mulai digunakan sejak 1928, tujuh tahun lagi pemakaman ini berusia se-Abad atau 100 tahun.

Namun jika mengacu pada Perda Walikota Nomor 47 Tahun 2011, pemakaman jenazah dalam satu petak diperbolehkan asalkan tetap dalam ahli waris yang sama.

Dalam regulasi yang mengatur tentang tata cara penggunaan pemakaman, pemakaman jenazah, dan pemindahan jenazah tersebut, penumpangan atau pemindahan kerangka jenazah juga harus dapat persetujuan secara tertulis. Yakni berupa pernyataan tidak keberatan oleh ahli waris. Selain itu, penumpangan jenazah juga hanya boleh dilakukan pada makam yang sudah berusia 3 tahun. (adn/cj6/fat/rmc)

MALANG KOTA – Krisis lahan pemakaman di Kota Malang nampaknya harus segera mendapat penanganan. Salah satu tempat pemakaman umum (TPU) di kota ini bahkan disebut sudah tidak bisa lagi menampung jenazah untuk dimakamkan. Pembongkaran maupun penumpukan jenazah bahkan sudah menjadi hal yang biasa.

Kondisi ini bukan baru saja terjadi. Melainkan sudah sejak tiga tahun belakangan. Seperti yang terjadi di TPU Sukun yang menjadi tempat pemakaman khusus umat nonmuslim. TPU terbesar di Kota Malang itu sudah tak mampu lagi menampung jenazah umat Kristiani.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Malang, ketidakmampuan TPU Sukun dalam menampung jenazah umat kristiani benar-benar terlihat pada Senin (1/11). Saat wartawan media ini mendatangi kompleks pemakaman tersebut, seorang praktisi supranatural tengah memimpin prosesi pembongkaran makam.

Pria berinisial K itu menuturkan bahwa makam yang dibongkar tersebut sudah bertahun-tahun tidak dikonfirmasi oleh pihak keluarga. Makam yang dibongkar  tersebut diketahui adalah peristirahatan seorang noni Belanda yang tinggal di wilayah Malang di era kolonial.

Selanjutnya, makam yang dibongkar tersebut bakal ditumpangi oleh orang lain. “Karena keluarga di Belanda tidak konfirmasi ke sini (TPU Sukun). Ketika ada jenazah baru, terpaksa kami bongkar dan kami tumpangi,” kata pria yang enggan namanya di korankan itu.

Secara fisik, dia menyebut bahwa kondisi makam yang sudah berusia ratusan tahun itu sudah kosong. Alias kerangkanya sudah membaur dengan tanah.

Terpisah, Juru Kunci TPU Sukun Kasemin mengatakan jika pihaknya sempat kebanjiran pemakaman jenazah pada bulan Juli lalu. Dia mengatakan ada, sekitar kurang lebih 55 Jenazah yang dimakamkan di TPU Sukun. “Semuanya karena korban dari Covid 19,” ucapnya.

Kasemin melanjutkan, untuk makam yang sudah tidak dirawat atau di pasrahkan jasa perawatannya pihaknya biasanya akan membongkar dan menumpanginya dengan jenazah yang baru.

“Ya banyak, seperti makam makam Belanda ini, banyak yang kita bongkar,” ucapnya.

Dari aspek sejarah, TPU Sukun boleh dibilang merupakan salah satu kawasan bersejarah yang ada di Kota Malang. Sekitar 200 makam noni dan tuan Belanda berada di kompleks seluas 120 ribu meter persegi itu. Mulai digunakan sejak 1928, tujuh tahun lagi pemakaman ini berusia se-Abad atau 100 tahun.

Namun jika mengacu pada Perda Walikota Nomor 47 Tahun 2011, pemakaman jenazah dalam satu petak diperbolehkan asalkan tetap dalam ahli waris yang sama.

Dalam regulasi yang mengatur tentang tata cara penggunaan pemakaman, pemakaman jenazah, dan pemindahan jenazah tersebut, penumpangan atau pemindahan kerangka jenazah juga harus dapat persetujuan secara tertulis. Yakni berupa pernyataan tidak keberatan oleh ahli waris. Selain itu, penumpangan jenazah juga hanya boleh dilakukan pada makam yang sudah berusia 3 tahun. (adn/cj6/fat/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/