alexametrics
26.5 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Kenalan dengan Oeliva Iswandi, Srikandi Juri Kampung Bersinar

MALANG – Sebagian orang mungkin pernah mengalami gejolak hidup. Pergolakan batin yang kadang bisa membuat seseorang berubah sepenuhnya yang biasanya diawali dari perenungan yang mendalam tentang sekitarnya. Seperti yang dialami oleh Oeliva Iswandi, salah seorang pendiri LSM Lingkungan Development of Awareness (DOA).

“Di Surah Al Baqarah itu kan disebutkan Khalifah fil Ardh, terus itu yang terngiang-ngiang, apa sih maknanya,” jelasnya.

Sepotong kalimat dari Al Quran itu terus mengusiknya, kata ‘ardh’ yang artinya bumi sering disebut dalam Al-Quran, di samping juga kata ‘khalifah’ yang merujuk pada manusia. Olive, sapaan akrabnya kala itu masih duduk di bangku kuliah tepatnya tahun 2009, setahun menjelang lulus.

Dalam renungannya, alumni jurusan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya ini terus berpikir, sejak dulu bumi sudah menyediakan segala kebutuhan manusia. Bahkan untuk masa depan pun, kebutuhan kita sudah disediakan oleh bumi. “Tapi apa balasan kita untuk bumi, kita hanya bisa menyakiti bumi tanpa bisa berbuat apapun untuk menjaga kondisi bumi kita,” paparnya.

Pemikiran-pemikiran sejenis terus menggelayuti, ketika saatnya dia hampir lolos dalam seleksi di Pengadilan Agama dia memutuskan untuk berubah haluan.

“Saya rasa-rasakan kok ini bukan passion saya (pengadilan agama),” kata ibu tiga anak ini.

Akhirnya bersama kawan-kawannya yang sefrekuensi, dia memulai dari awal pergerakannya di bidang lingkungan. Bukan hal yang mudah saat memulai dimana dia harus kembali dari nol, mengamati, mempelajari dan mengamalkan. Bersama dua kawannya, Dian dan Apri, Olive melakukan bimbingan ke sekolah-sekolah adhiwiyata, pemukiman ataupun sebagai fasilitator dan konsultan lingkungan hidup.

Sampai akhirnya, tahun 2018, DOA selain memiliki kepanjangan diatas juga mengandung unsur nama pendirinya yaitu Dian Oeliva Apri. Kalau Oeliva berkecimpung di Kampung Bersinar baru tahun ini, akan tetapi di Kabupaten Malang dia sudah 4 tahun menjadi juri Kecamatan Berseri.

“Kita bertiga berkomitmen untuk menyampaikan apa yang sudah kita lakukan, selama kita belum lakukan kita tidak berani ambil peran itu,” jelas perempuan 42 tahun itu. Misalnya orang meminta bantuan pengomposan, dia harus mengompos dulu, begitu pula dengan pemilahan sampah. Intinya, dia dan dua kawannya tidak pernah memberikan edukasi yang mereka bertiga belum bisa mengedukasi diri mereka sendiri.

Berkat komitmennya, perempuan yang tinggal di Kelurahan Karangbesuki ini dipercaya oleh DLH Kota Malang menjadi salah satu juri yang membidangi persampahan. Baik itu pemilahan sampah, pengomposan atau pemanfaatan sampah anorganik. Selama melakukan penjurian, dia aktif melakukan edukasi ke peserta lomba, bagaimana pengomposan yang benar, metodenya dan sebagainya. Sehingga tidak hanya menilai tapi juga memberikan wawasan kepada masyarakat.

Pewarta: Intan Refa Septiana

MALANG – Sebagian orang mungkin pernah mengalami gejolak hidup. Pergolakan batin yang kadang bisa membuat seseorang berubah sepenuhnya yang biasanya diawali dari perenungan yang mendalam tentang sekitarnya. Seperti yang dialami oleh Oeliva Iswandi, salah seorang pendiri LSM Lingkungan Development of Awareness (DOA).

“Di Surah Al Baqarah itu kan disebutkan Khalifah fil Ardh, terus itu yang terngiang-ngiang, apa sih maknanya,” jelasnya.

Sepotong kalimat dari Al Quran itu terus mengusiknya, kata ‘ardh’ yang artinya bumi sering disebut dalam Al-Quran, di samping juga kata ‘khalifah’ yang merujuk pada manusia. Olive, sapaan akrabnya kala itu masih duduk di bangku kuliah tepatnya tahun 2009, setahun menjelang lulus.

Dalam renungannya, alumni jurusan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya ini terus berpikir, sejak dulu bumi sudah menyediakan segala kebutuhan manusia. Bahkan untuk masa depan pun, kebutuhan kita sudah disediakan oleh bumi. “Tapi apa balasan kita untuk bumi, kita hanya bisa menyakiti bumi tanpa bisa berbuat apapun untuk menjaga kondisi bumi kita,” paparnya.

Pemikiran-pemikiran sejenis terus menggelayuti, ketika saatnya dia hampir lolos dalam seleksi di Pengadilan Agama dia memutuskan untuk berubah haluan.

“Saya rasa-rasakan kok ini bukan passion saya (pengadilan agama),” kata ibu tiga anak ini.

Akhirnya bersama kawan-kawannya yang sefrekuensi, dia memulai dari awal pergerakannya di bidang lingkungan. Bukan hal yang mudah saat memulai dimana dia harus kembali dari nol, mengamati, mempelajari dan mengamalkan. Bersama dua kawannya, Dian dan Apri, Olive melakukan bimbingan ke sekolah-sekolah adhiwiyata, pemukiman ataupun sebagai fasilitator dan konsultan lingkungan hidup.

Sampai akhirnya, tahun 2018, DOA selain memiliki kepanjangan diatas juga mengandung unsur nama pendirinya yaitu Dian Oeliva Apri. Kalau Oeliva berkecimpung di Kampung Bersinar baru tahun ini, akan tetapi di Kabupaten Malang dia sudah 4 tahun menjadi juri Kecamatan Berseri.

“Kita bertiga berkomitmen untuk menyampaikan apa yang sudah kita lakukan, selama kita belum lakukan kita tidak berani ambil peran itu,” jelas perempuan 42 tahun itu. Misalnya orang meminta bantuan pengomposan, dia harus mengompos dulu, begitu pula dengan pemilahan sampah. Intinya, dia dan dua kawannya tidak pernah memberikan edukasi yang mereka bertiga belum bisa mengedukasi diri mereka sendiri.

Berkat komitmennya, perempuan yang tinggal di Kelurahan Karangbesuki ini dipercaya oleh DLH Kota Malang menjadi salah satu juri yang membidangi persampahan. Baik itu pemilahan sampah, pengomposan atau pemanfaatan sampah anorganik. Selama melakukan penjurian, dia aktif melakukan edukasi ke peserta lomba, bagaimana pengomposan yang benar, metodenya dan sebagainya. Sehingga tidak hanya menilai tapi juga memberikan wawasan kepada masyarakat.

Pewarta: Intan Refa Septiana

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/