alexametrics
26.5 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Bersiap Buka Isoter, Kota Malang Butuh Tambahan 500 Nakes

MALANG KOTA – ’Jalan terjal’ masih ditemui Pemkot Malang untuk menyediakan tempat isolasi terpusat (isoter). Selain pilihan tempat yang belum banyak, kini ada kendala baru yang coba diurai pemkot. Yakni memastikan ketersediaan tenaga kesehatan (nakes) untuk mendukung operasional di lokasi isoter. Ketika jumlah nakes belum dianggap cukup, pemkot terlihat gamang untuk mengoperasikan program yang didengungkan Gubernur Jatim, beberapa waktu lalu itu.

Dari hasil rapat koordinasi bersama 5 Camat beberapa waktu lalu, Wali Kota Malang Sutiaji bisa mengestimasi kebutuhan nakes di tempat isoter. ”Setidaknya kami butuh 500 sampai 600 nakes untuk ditempatkan di 5 lokasi isoter,” beber dia. Upaya untuk menambah personel kesehatan sudah dilakukan pihaknya. Salah satunya, dicontohkan Sutiaji, sudah dilakukan di RSUD Kota Malang. Saat itu, kebutuhan nakes di sana sebanyak 40 orang. Namun setelah proses seleksi, hanya satu orang saja yang bisa lolos.

Salah satu masalah yang menjadi kendala di lapangan adalah kepemilikan surat tanda registrasi (STR) nakes. Syarat itu harus dikantongi nakes bila ingin bergabung dalam program penanganan Covid-19. Untuk mengurai problem tersebut, Sutiaji mengaku bila kini pihaknya tengah menjalin komunikasi dengan lima kampus di Kota Malang yang memiliki fakultas kedokteran (FK) atau fakultas keperawatan (FKp). Lima kampus itu yakni Universitas Brawijaya (UB), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Islam Malang (Unisma), Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki), dan Politeknik Kesehatan Malang (Polkesma).

Sutiaji menginginkan lima kampus tersebut Nantinya bisa membantu penanganan Covid-19 di tiap kecamatan. ”Kami ingin mereka menyerahkan sejumlah mahasiswa itu ke tempat isoter agar penanganan pasien lebih maksimal,” kata pria yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas Covid-19 Kota Malang itu. Dengan bantuan nakes dari mahasiswa itu, ia menyebut bila problem kekurangan nakes dapat terpecahkan.

Di sisi lain, bila tempat isoter bisa beroperasi, politisi Partai Demokrat itu yakin jika jumlah pasien isolasi mandiri (isoman) serta tingkat bed occupancy ratio (BOR) di sejumlah rumah sakit (RS) rujukan bakal berkurang. Saat ini, ia menyebut bila BOR IGD di 7 RS rujukan sudah penuh. Ke depan, operasional isoter di setiap kecamatan akan diplot untuk menangani pasien Covid-19 yang bergejala ringan.

Terkait update calon lokasi isoter, Sutiaji menyebut bila saat ini sudah ada beberapa tempat yang siap. Diantaranya gedung sekolah VEDC di Kecamatan Blimbing, gedung SMKN 2 Malang di Kecamatan Lowokwaru, gedung SMKN 3 Malang di Kecamatan Klojen, dan Rusunawa di Kecamatan Kedungkandang. Calon lokasi isoter di Kecamatan Sukun belum diakomodir pemkot. Selain itu, pemkot juga punya rencana lain untuk menggunakan safehouse di Jalan Kawi. Di sana, jumlah bed akan ditambah. Dari 95 menjadi 224 bed.

Di tempat lain, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Husnul Muarif mengakui bila penambahan nakes kini menjadi fokusnya. ”Semua (keputusan) saya serahkan ke Pak Wali, tetapi ada alternatif untuk mengajak kerjasama dengan lima kampus yang memiliki fakultas kedokteran dan keperawatan di Kota Malang,” urainya. Mantan Direktur RSUD Kota Malang itu juga menyebut bila pihaknya bakal mengupdate jumlah pasien isoman yang ada di tiap RT/RW.

Nantinya, data itu akan dijadikan bahan untuk memetakan pasien yang bergejala ringan hingga berat. Sehingga seluruh penanganan pasien dapat berjalan optimal. Husnul mengakui jika sampai saat ini masih ada laporan pasien isoman yang tidak terdata. Untuk itu, dia berharap agar warga lebih proaktif dalam melaporkan tahap isomannya ke RT dan RW. ”Sebab nanti semua akan kami arahkan ke isoter, terutama yang bergejala ringan,” singkatnya. (rmc/adn/by)

MALANG KOTA – ’Jalan terjal’ masih ditemui Pemkot Malang untuk menyediakan tempat isolasi terpusat (isoter). Selain pilihan tempat yang belum banyak, kini ada kendala baru yang coba diurai pemkot. Yakni memastikan ketersediaan tenaga kesehatan (nakes) untuk mendukung operasional di lokasi isoter. Ketika jumlah nakes belum dianggap cukup, pemkot terlihat gamang untuk mengoperasikan program yang didengungkan Gubernur Jatim, beberapa waktu lalu itu.

Dari hasil rapat koordinasi bersama 5 Camat beberapa waktu lalu, Wali Kota Malang Sutiaji bisa mengestimasi kebutuhan nakes di tempat isoter. ”Setidaknya kami butuh 500 sampai 600 nakes untuk ditempatkan di 5 lokasi isoter,” beber dia. Upaya untuk menambah personel kesehatan sudah dilakukan pihaknya. Salah satunya, dicontohkan Sutiaji, sudah dilakukan di RSUD Kota Malang. Saat itu, kebutuhan nakes di sana sebanyak 40 orang. Namun setelah proses seleksi, hanya satu orang saja yang bisa lolos.

Salah satu masalah yang menjadi kendala di lapangan adalah kepemilikan surat tanda registrasi (STR) nakes. Syarat itu harus dikantongi nakes bila ingin bergabung dalam program penanganan Covid-19. Untuk mengurai problem tersebut, Sutiaji mengaku bila kini pihaknya tengah menjalin komunikasi dengan lima kampus di Kota Malang yang memiliki fakultas kedokteran (FK) atau fakultas keperawatan (FKp). Lima kampus itu yakni Universitas Brawijaya (UB), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Islam Malang (Unisma), Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki), dan Politeknik Kesehatan Malang (Polkesma).

Sutiaji menginginkan lima kampus tersebut Nantinya bisa membantu penanganan Covid-19 di tiap kecamatan. ”Kami ingin mereka menyerahkan sejumlah mahasiswa itu ke tempat isoter agar penanganan pasien lebih maksimal,” kata pria yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas Covid-19 Kota Malang itu. Dengan bantuan nakes dari mahasiswa itu, ia menyebut bila problem kekurangan nakes dapat terpecahkan.

Di sisi lain, bila tempat isoter bisa beroperasi, politisi Partai Demokrat itu yakin jika jumlah pasien isolasi mandiri (isoman) serta tingkat bed occupancy ratio (BOR) di sejumlah rumah sakit (RS) rujukan bakal berkurang. Saat ini, ia menyebut bila BOR IGD di 7 RS rujukan sudah penuh. Ke depan, operasional isoter di setiap kecamatan akan diplot untuk menangani pasien Covid-19 yang bergejala ringan.

Terkait update calon lokasi isoter, Sutiaji menyebut bila saat ini sudah ada beberapa tempat yang siap. Diantaranya gedung sekolah VEDC di Kecamatan Blimbing, gedung SMKN 2 Malang di Kecamatan Lowokwaru, gedung SMKN 3 Malang di Kecamatan Klojen, dan Rusunawa di Kecamatan Kedungkandang. Calon lokasi isoter di Kecamatan Sukun belum diakomodir pemkot. Selain itu, pemkot juga punya rencana lain untuk menggunakan safehouse di Jalan Kawi. Di sana, jumlah bed akan ditambah. Dari 95 menjadi 224 bed.

Di tempat lain, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Husnul Muarif mengakui bila penambahan nakes kini menjadi fokusnya. ”Semua (keputusan) saya serahkan ke Pak Wali, tetapi ada alternatif untuk mengajak kerjasama dengan lima kampus yang memiliki fakultas kedokteran dan keperawatan di Kota Malang,” urainya. Mantan Direktur RSUD Kota Malang itu juga menyebut bila pihaknya bakal mengupdate jumlah pasien isoman yang ada di tiap RT/RW.

Nantinya, data itu akan dijadikan bahan untuk memetakan pasien yang bergejala ringan hingga berat. Sehingga seluruh penanganan pasien dapat berjalan optimal. Husnul mengakui jika sampai saat ini masih ada laporan pasien isoman yang tidak terdata. Untuk itu, dia berharap agar warga lebih proaktif dalam melaporkan tahap isomannya ke RT dan RW. ”Sebab nanti semua akan kami arahkan ke isoter, terutama yang bergejala ringan,” singkatnya. (rmc/adn/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/