alexametrics
26.5 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Wahab:Bukan Menolak Appraisal,Tapi Tunggu Titik Temu Harga yang Pas!

MALANG KOTA-Sementara itu, Abdul Wahab Adhinegoro selaku kuasa hukum pemilik usaha cuci mobil membantah tuduhan penolakan appraisal. Yang dia lakukan adalah menunggu sampai ada titik temu harga yang pas tentang ganti rugi untuk kliennya.

”Dulu pemkot pernah menawarkan harga Rp 198 juta. Tapi kami belum sepakat karena terlalu rendah,” ujarnya. Wahab juga mengakui bahwa Pemkot sudah pernah mengirim surat terhadap kliennya pada Juni 2020. Surat yang isinya tentang pemberian uang santunan itu langsung dijawab oleh kliennya dua hari setelah diterima. Namun, Pemkot Malang tidak pernah memberikan jawaban balik.

Lalu, pada peringatan HUT Kota Malang tahun lalu, pihaknya juga diundang oleh pemkot untuk bersama-sama mencari solusi. Pertemuan itu bahkan dihadiri Wakil Wali Kota Malang dan Kabag Hukum yang kala itu dijabat Tabrani. Anehnya, pihak pemkot menanyakan mengapa surat yang mereka kirim tidak dijawab oleh pihak pemilik usaha cuci mobil.  ”Padahal kami sudah mengirim jawaban. Ada bukti penerimaan surat kami,” imbuh Wahab.

Advokat asal Kecamatan Singosari itu menambahkan, sebenarnya sudah ada pertemuan lanjutan dengan Tabrani pada April 2021. Hasil pertemuan  itu mengarah pada pembuatan appraisal baru.  Pada November 2021, pemkot menunjuk satu orang untuk melakukan appraisal. Namun pihaknya meminta appraisal dilakukan dua orang, kemudian hasilnya disandingkan dan diteliti secara independen untuk mendapatkan harga yang pas.

Sayang, metode yang sudah disepakati kedua belah pihak itu belum bisa dilaksanakan hingga sekarang. Masalah lainnya, Kabag Hukum Sekda Kota Malang sudah tak lagi dijabat oleh Tabrani.  Wahab bahkan mengancam akan menggugat Pemkot Malang jika kesepakatan tersebut tidak terlaksana  ”Atau dibangun lagi, tergantung nanti,” ujar dia. (adn/biy/fat)

MALANG KOTA-Sementara itu, Abdul Wahab Adhinegoro selaku kuasa hukum pemilik usaha cuci mobil membantah tuduhan penolakan appraisal. Yang dia lakukan adalah menunggu sampai ada titik temu harga yang pas tentang ganti rugi untuk kliennya.

”Dulu pemkot pernah menawarkan harga Rp 198 juta. Tapi kami belum sepakat karena terlalu rendah,” ujarnya. Wahab juga mengakui bahwa Pemkot sudah pernah mengirim surat terhadap kliennya pada Juni 2020. Surat yang isinya tentang pemberian uang santunan itu langsung dijawab oleh kliennya dua hari setelah diterima. Namun, Pemkot Malang tidak pernah memberikan jawaban balik.

Lalu, pada peringatan HUT Kota Malang tahun lalu, pihaknya juga diundang oleh pemkot untuk bersama-sama mencari solusi. Pertemuan itu bahkan dihadiri Wakil Wali Kota Malang dan Kabag Hukum yang kala itu dijabat Tabrani. Anehnya, pihak pemkot menanyakan mengapa surat yang mereka kirim tidak dijawab oleh pihak pemilik usaha cuci mobil.  ”Padahal kami sudah mengirim jawaban. Ada bukti penerimaan surat kami,” imbuh Wahab.

Advokat asal Kecamatan Singosari itu menambahkan, sebenarnya sudah ada pertemuan lanjutan dengan Tabrani pada April 2021. Hasil pertemuan  itu mengarah pada pembuatan appraisal baru.  Pada November 2021, pemkot menunjuk satu orang untuk melakukan appraisal. Namun pihaknya meminta appraisal dilakukan dua orang, kemudian hasilnya disandingkan dan diteliti secara independen untuk mendapatkan harga yang pas.

Sayang, metode yang sudah disepakati kedua belah pihak itu belum bisa dilaksanakan hingga sekarang. Masalah lainnya, Kabag Hukum Sekda Kota Malang sudah tak lagi dijabat oleh Tabrani.  Wahab bahkan mengancam akan menggugat Pemkot Malang jika kesepakatan tersebut tidak terlaksana  ”Atau dibangun lagi, tergantung nanti,” ujar dia. (adn/biy/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/