alexametrics
22.3 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Kisah Kelam Masa Kecil Antar Didik Lestariyono Jadi Pengacara Handal

Masa lalu yang kurang beruntung membentuk mental Didik Lestariyono. Tidak hanya untuk lebih kuat menjalani kehidupan masa kini, tetapi juga membuatnya selalu bersyukur bahwa apa yang dinikmati sekarang bukan hanya sekadar hadiah, tapi merupakan hasil keras.

Ada satu peristiwa yang begitu membekas di benak Didik Lestariyono pada kehidupan masa lalunya. Ketika duduk di bangku SMP, rumah yang dia tinggali bersama ayah, ibu, dan kelima saudaranya digugat oleh orang lain. Bahkan, rumah itu bakal disita. Bagi Didik kecil, persoalan itu tidak hanya menyeramkan, tapi juga membuatnya takut. Mau melakukan pembelaan untuk orang tua, dia tak tahu harus bagaimana. Hendak protes, kepada siapa?

“Mungkin waktu itu jika kami adalah orang berada, masalah tersebut tidak akan rumit. Kami pasti bisa meminta bantuan pengacara,” ucapnya.

Didik Lestariyono saat masih menjadi petugas kebersihan (ist)

Sejak itulah dia memiliki angan-angan bahwa kelak ketika sudah besar, dirinya harus bisa menjadi orang yang bisa diandalkan. Paling tidak memiliki kekuatan untuk membela apa yang menjadi haknya. “Saya pernah bercita-cita menjadi tentara, bahkan polisi, agar hidup kami tidak diremehkan orang lain,” kenangnya.

Besar di tengah keluarga yang jauh dari kecukupan membuatnya harus berjuang sendiri. Saat kelas II SMP, dia melamar menjadi tukang sapu di Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Malang. Jadilah Didik seorang Pegawai Tidak Tetap (PTT). Tugas menyapu jalanan dilakukan pagi-pagi buta sebelum berangkat sekolah atau setelah pulang dari SMPN 14 Malang, tempatnya menimba ilmu.

“Waktu itu jarang ada yang mau jadi tukang sapu karena gajinya kecil. Sekitar tahun 2004, upah saya Rp 125 ribu per bulan,” ungkap dia.

Walaupun begitu, Didik merasa senang karena dengan uang Rp 125 ribu, dia bisa membiayai sekolahnya sendiri. Bahkan masih ada sisa untuk diberikan kepada sang ibu, sebagian lagi ditabung.

“SPP zaman itu hanya Rp 25 ribu,” ujar laki-laki kelahiran 19 Mei 1989 ini.

Pekerjaan itu pula yang mengantarnya melanjutkan sekolah ke SMA dan berlanjut ke jenjang S-1. Bahkan ketika lulus dari Fakultas Hukum Universitas Widyagama Malang, dirinya masih menjadi pasukan kuning (paskun).

“Saya berhenti dari tukang sapu saat resmi mengantongi sertifikat pendidikan khusus profesi advokat (PKPA) di tahun 2014. Saat itu gaji terakhir saya sebagai paskun Rp 600 ribu,” kata dia.

“Ketika menempuh S2 Ilmu Hukum di Universitas Brawijaya, saya sudah tidak lagi bekerja di DKP,” tambah Didik.

Anggota Mercedes Benz Club Malang (MBM) ini pun mulai terfokus pada penanganan kasus. Sebagai pengacara muda, tentu semuanya butuh proses. Terutama dalam merajut relasi. Dengan bantuan senior-seniornya di Peradi Malang Raya, Didik pun menjadi salah satu pengacara yang dapat diandalkan.

Dalam satu tahun rata-rata ada 200 perkara yang ditangani bersama tiga partner dan dua paralegal. Saat ini, dirinya juga dipercaya menjadi legal coorporate empat perusahaan ternama di Kota Malang dan Surabaya. Selain itu, laki-laki 31 tahun ini juga mengembangkan bisnis di bidang IT, perkebunan, serta jasa kontruksi.

“Tidak semua kasus yang saya tangani ending-nya keuntungan finansial. Banyak juga kasus-kasus prodeo yang saya dampingi,” bebernya.

Salah satu yang paling berkesan adalah memperjuangkan tanah milik warga Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, yang diklaim oleh seorang penguasa. Juga tangisan haru seorang janda miskin yang menang di pengadilan.

“Jangan melihat pengacara dengan nilai yang ‘wah’. Karena semua orang berhak mendapatkan keadilan yang sama,” tukas Didik.

“Sekarang saya sedang menangani perkara sengketa tanah kebun jeruk seluas 25 hektare di Desa Selorejo, Kecamatan Dau melawan para penyewa tanah yang telah puluhan tahun menempati lahan itu,” tandas dia.

Pewarta: Neny Fitrin

Masa lalu yang kurang beruntung membentuk mental Didik Lestariyono. Tidak hanya untuk lebih kuat menjalani kehidupan masa kini, tetapi juga membuatnya selalu bersyukur bahwa apa yang dinikmati sekarang bukan hanya sekadar hadiah, tapi merupakan hasil keras.

Ada satu peristiwa yang begitu membekas di benak Didik Lestariyono pada kehidupan masa lalunya. Ketika duduk di bangku SMP, rumah yang dia tinggali bersama ayah, ibu, dan kelima saudaranya digugat oleh orang lain. Bahkan, rumah itu bakal disita. Bagi Didik kecil, persoalan itu tidak hanya menyeramkan, tapi juga membuatnya takut. Mau melakukan pembelaan untuk orang tua, dia tak tahu harus bagaimana. Hendak protes, kepada siapa?

“Mungkin waktu itu jika kami adalah orang berada, masalah tersebut tidak akan rumit. Kami pasti bisa meminta bantuan pengacara,” ucapnya.

Didik Lestariyono saat masih menjadi petugas kebersihan (ist)

Sejak itulah dia memiliki angan-angan bahwa kelak ketika sudah besar, dirinya harus bisa menjadi orang yang bisa diandalkan. Paling tidak memiliki kekuatan untuk membela apa yang menjadi haknya. “Saya pernah bercita-cita menjadi tentara, bahkan polisi, agar hidup kami tidak diremehkan orang lain,” kenangnya.

Besar di tengah keluarga yang jauh dari kecukupan membuatnya harus berjuang sendiri. Saat kelas II SMP, dia melamar menjadi tukang sapu di Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Malang. Jadilah Didik seorang Pegawai Tidak Tetap (PTT). Tugas menyapu jalanan dilakukan pagi-pagi buta sebelum berangkat sekolah atau setelah pulang dari SMPN 14 Malang, tempatnya menimba ilmu.

“Waktu itu jarang ada yang mau jadi tukang sapu karena gajinya kecil. Sekitar tahun 2004, upah saya Rp 125 ribu per bulan,” ungkap dia.

Walaupun begitu, Didik merasa senang karena dengan uang Rp 125 ribu, dia bisa membiayai sekolahnya sendiri. Bahkan masih ada sisa untuk diberikan kepada sang ibu, sebagian lagi ditabung.

“SPP zaman itu hanya Rp 25 ribu,” ujar laki-laki kelahiran 19 Mei 1989 ini.

Pekerjaan itu pula yang mengantarnya melanjutkan sekolah ke SMA dan berlanjut ke jenjang S-1. Bahkan ketika lulus dari Fakultas Hukum Universitas Widyagama Malang, dirinya masih menjadi pasukan kuning (paskun).

“Saya berhenti dari tukang sapu saat resmi mengantongi sertifikat pendidikan khusus profesi advokat (PKPA) di tahun 2014. Saat itu gaji terakhir saya sebagai paskun Rp 600 ribu,” kata dia.

“Ketika menempuh S2 Ilmu Hukum di Universitas Brawijaya, saya sudah tidak lagi bekerja di DKP,” tambah Didik.

Anggota Mercedes Benz Club Malang (MBM) ini pun mulai terfokus pada penanganan kasus. Sebagai pengacara muda, tentu semuanya butuh proses. Terutama dalam merajut relasi. Dengan bantuan senior-seniornya di Peradi Malang Raya, Didik pun menjadi salah satu pengacara yang dapat diandalkan.

Dalam satu tahun rata-rata ada 200 perkara yang ditangani bersama tiga partner dan dua paralegal. Saat ini, dirinya juga dipercaya menjadi legal coorporate empat perusahaan ternama di Kota Malang dan Surabaya. Selain itu, laki-laki 31 tahun ini juga mengembangkan bisnis di bidang IT, perkebunan, serta jasa kontruksi.

“Tidak semua kasus yang saya tangani ending-nya keuntungan finansial. Banyak juga kasus-kasus prodeo yang saya dampingi,” bebernya.

Salah satu yang paling berkesan adalah memperjuangkan tanah milik warga Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, yang diklaim oleh seorang penguasa. Juga tangisan haru seorang janda miskin yang menang di pengadilan.

“Jangan melihat pengacara dengan nilai yang ‘wah’. Karena semua orang berhak mendapatkan keadilan yang sama,” tukas Didik.

“Sekarang saya sedang menangani perkara sengketa tanah kebun jeruk seluas 25 hektare di Desa Selorejo, Kecamatan Dau melawan para penyewa tanah yang telah puluhan tahun menempati lahan itu,” tandas dia.

Pewarta: Neny Fitrin

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/